Menjadi dewasa memang bukan hal yang mudah, apalagi ketika usia sudah lebih dari seperempat abad dengan status masih single dan karir yang masih belum matang. Lucunya lagi ketika kita masih kecil, kita ingin cepat-cepat menjadi dewasa. Dan anehnya lagi ketika kita dewasa, terkadang kita ingin kembali menjadi anak kecil.

Sebagai orang Indonesia dengan adat Timur yang kental, kita sudah terbiasa hidup rukun dan saling membantu. Pertanyaan tentang jodoh, dimulai dengan kalimat “Kapan nikah?” atau “Mana calonnya?” menjadi salah satu kalimat ajaib yang bisa memudarkan senyum kita. Terutama kita, wanita single dengan usia lebih dari seperempat abad. Belum lagi ketika ada sepupu atau keponakan yang memiliki usia lebih muda dari kita dan sudah menikah. Pasti bikin kita makin dongkol dan mengutuki takdir.

Advertisement

Tidak hanya itu, ketika usia lebih dari seperempat abad, single dan juga kita belum memiliki karir serta perekonomian yang mapan atau bahkan kita masih menyandang status “job seeker” atau orang-orang melihat kita sebagai “pengangguran” tentu saja ini kondisi paling tidak nyaman di dunia. Rasanya seperti ingin menghilang saja dari planet bernama kenyataan ini.

Sebagai wanita, kita tentu menginginkan segala hal berjalan sempurna sesuai dengan harapan. Menyelesaikan studi tepat waktu. Memiliki kekasih yang setia dan siap untuk berumah tangga. Serta memiliki pekerjaan impian dengan jenjang karir yang bagus.

Kita menyadari bahwa hidup tidak melulu tentang materi dan kekasih, tetapi tanpa hal-hal itu kita juga merasa tidak nyaman. Mengutuki takdir pun tidak ada gunanya. Menyadari bahwa ada hal-hal yang berjalan diluar kehendak kita jauh lebih baik. Kita nggak harus memaksakan diri kita sedemikian rupa agar kita terlihat bahagia. Atau hanya untuk menghindari omongan orang.

Advertisement

Apalagi memilih balikan dengan mantan yang nggak banget, belum lagi bertahan dengan orang yang salah hanya agar terlihat kita “laku”. Belum lagi mencari pekerjaan yang nggak sesuai dengan passion kita hanya agar kita nggak terlihat sebagai pemegang gelar tanpa kerjaan.

Dalam hidup ini ada banyak hal yang sering kita lupakan, kita sering lupa bahwa sepatu cinderella hanya pas ketika dipakai cinderella. Bahkan Cinderella juga memerlukan proses untuk mengenakan sepatu kaca miliknya. Begitu pula dengan hidup kita. Kita sering lupa bahwa penentu kebahagian itu diri kita sendiri, bukan orang lain. Saat masih single kita bisa tertawa lepas penuh kebahagiaan dengan teman-teman, tentu saja hal ini belum tentu terjadi saat kita memiliki kekasih.

Bisa saja saat kita memiliki kekasih hidup kita malah penuh kegalauan dan kesedihan. Menjadi “job seeker” pun bukan aib, selama kita masih produktif. Orang boleh saja bilang kita pengangguran, susah payah kuliah tapi nggak dapat kerja. Itu hanya omongan orang, toh mereka nggak tau seberapa banyak usaha yang sudah kita lakukan. Mungkin saja dengan status “job seeker” kita bisa lebih bahagia karena lebih dekat dengan keluarga, memiliki waktu luang lebih banyak untuk membantu orang tua yang mana kita nggak pernah tau sampai kapan usia orang tua kita.

Bahagia itu bisa kita ukur dengan cara kita sendiri. Dan kita juga tidak perlu membandingkan kebahagian kita dengan orang lain. Karena apa-apa yang sudah Tuhan takdirkan untuk kita, itulah yang terbaik. Kita nggak perlu iri atau dengki dengan orang lain. Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing sesuai dengan takarannya. Tugas kita hanya berusaha dan bersyukur. Yakinlah selalu ada saatnya untuk setiap hal. Termasuk pendamping hidup dan karir yang mapan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya