Manusia memiliki berbagai cara untuk mengekspresikan dirinya. Lewat beragam media dengan beragam rupa, ekspresi dari emosi tersalur keluar. Lukisan, puisi, tulisan, musik adalah media yang lumrah digunakan oleh manusia untuk menghasilkan sebuah ekspresi diri. Dalam bentuknya yang lain, ekspresi tersebut memiliki rasa yang sama dengan sang pembuat. Tersemat dalam media tersebut ada hal yang disampaikan, diungkapkan, dan dirasakan ketika mungkin dengan cara yang normal hal tersebut sungkan untuk dikeluarkan.

            Emosi dari seseorang layaknya sebuah air dalam gelas, semakin banyak airnya maka belum tentu pasti gelas tersebut muat untuk menampung. Meski dalam sebuah masa, gelas tersebut akan membesar nantinya. Emosi yang berupa senang dan sedih –pasangan yang tak bisa dilepaskan- adalah hal yang paling sering menghampiri setiap orang. Terkadang porsi dari setiap sedih dan senang tak melulu sama. Layaknya air yang kelebihan volumenya, emosi tersebut dikeluarkan secara fisik ketika gelas penampung tak lagi cukup menahannya.

Advertisement

            “Ketika kita senang kita menikmati musiknya, ketika sedih kita menghayati liriknya”. Ungkapan yang setidaknya tepat untuk menggambarkan bentuk emosi dalam sebuah karya. Contoh kecil yaitu lagu. Lagu adalah hal yang paling sering dijadikan pelampiasan emosi bagi setiap orang. Musik yang mengiringinya adalah citra dari emosi sang pembuat lagu. Ketika beberapa orang dengan emosi tak stabil dan dirindung pilu, mendengarkan musik atau lagu adalah pengobatan, secara sementara. Kenyataanya, kita lebih memahami sebuah lagu ketika kita sedang bersedih. Cerita yang dibawakan oleh sang lagu dengan bait-bait liriknya seolah mengisahkan ulang kesedihan kita yang lalu. Entah karena patah hati, terkhianati, dikecewakan atau lain sebagainya kesedihan. Berbanding dengan hal-hal yang menyenangkan. Musik yang enerjik membawa keriangan hanya beberapa bertahan dalam ingatan atau sesekali diputar ketika senam kebugaran. Tetap saja, karya dari emosi kesedihan selalu menjadi juara untuk tertanam lama dalam diri seseorang.

            Sebuah karya terkenal dari Beethoven yaitu “Fur Elise” adalah cipta bagi emosi kelabu. Beliau memang bukan seorang pujangga dengan pedang puitis yang menusuk, Beethoven yang konon katanya bersedih karena perempuan yang disukainya menikah dengan pria lain sebelum Beethoven menyatakan perasaannya. Melodi kesedihannya begitu paripurna dan bertahan hingga masa ke masa. Meski mungkin tak hanya Beethoven saja yang memiliki kasus yang sama di dunia ini, tetapi karyanya adalah bentuk cipta dari emosi jiwanya. Mungkin pula masih banyak “Fur Elise” yang lain di dunia ini dengan rupa yang berbeda dengan emosi yang sama.

            Ekspresi juga tersalur lewat berbagai karya literasi. Menulis ekspresif, namanya. Beberapa orang mendedikasikan-mungkin juga untuk mengabadikan kesedihannya- dalam sebuah literasi. Bentuknya bisa berupa puisi, sebuah kisah atau tulisan. Ketika seseorang mulai mengekspresikan emosinya dalam media, perasaan yang mengambil alih semuanya. Makanya terkadang begitu cepat seseorang menulis suatu hal karena berdasar apa yang dia rasakan ketimbang apa yang dipikirkan, selain juga alasanya karena berpikir adalah hal yang rentan membuat pusing. ,Mengandalkan perasaan ketika menulis karya literasi juga begitu mudah untuk dinikmati. Buku-buku yang menawarkan air mata kenyataanya lebih laris dari buku filsafat. Salah satu alasan mengapa karya kesedihan itu menjadi jualan yang paling akan menguntungkan. Prospek cerah tentunya.

Advertisement

            Kita menikmati hal-hal tersebut. Kita mengingat dengan jelas karya ekspresif yang tercipta. Tapi sekali lagi, kesedihan dan kemurungan adalah hal yang paling juara ketika diekspresikan lewat karya. Meski secara fakta video PSY yang joget-joget lebih banyak ditonton daripada When I Was Your Man dari Bruno Mars. Tapi ketika kita senang mungkin tak hanya PSY saja yang didengar dan dicari, namun saat sedih maka hanya lagu tertentu yang mewakili emosi saja yang terpilih.

            Paling tidak kita pernah membuat karya entah dari apa yang mewakili emosi kita. Beberapa orang yang riang gembira biasanya membuat sesuatu yang begitu warna-warni dan semarak, mengekspresikan sebuah kebahagiaan yang terlampau hakiki. Di lain pihak, orang yang bersedih pilu akan merenung dan mencoba mencari pelampiasan. Saat semesta sedang menolaknya, berkarya ekspresif agar didengar jiwa yang serupa adalah obatnya. Untung saja, kita selalu memahaminya. Bahkan ketika kita tak sesedih apa yang ingin disampaikan oleh karya tersebut. Momen sedih tetaplah membekas dan itu adalah kunci untuk memahami jiwa-iwa yang juga bersedih dalam sebuah karya yang tercipta.

            Coba cari lagi seberapa banyak luapan kesedihan kamu yang berbentuk karya. Mungkin puisi, lagu, tulisan, foto atau apapun itu. Tak perlu malu, saya pun begitu, paham apa yang dirasakan oleh Beethoven dan akhirnya membuat karya lebih dari 3000 kata dalam sebuah tulisan jika digabung semuanya. Untungnya ada saja manusia yang sama menderitanya dengan saya diluar sana dan mengapresiasi. Setidaknya saya tak sendirian menanggung hal ini. Sepertinya benar kata pepatah yaitu bersatu kita teguh, bersedih bersama kita tak rapuh. Menjadi dan mengalami kesedihan adalah hal yang biasa dan juga untuk mengingatkan bahwa kamu masih manusia.

            Gunakanlah cara yang elegan untuk menyampaikan emosimu. Karya sebuah rasa dari jiwa itu sama berharganya dengan dirimu sendiri. Apapun nanti bentuknya dan ekrpresi apa yang ternama didalamnya, jangan rendahkan dirimu dengan cara yang konyol. Ya misalnya saja live tangisan di Instagram.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya