Aku bisa gila jika saja jariku mampu menggambarkan sudah berapa lama aku membiarkan hati ini berpesta sendirian, melihat keramaian dengan kacamata sendiri, menikmati senja dengan tangan menggantung tanpa ada penyambutan, tertawa di sudut kamar mengulang semua kejadian hari kemarin dengan mata telanjang. Aku benar-benar bisa gila…

Entah apa dan mengapa, lagi-lagi tuhan memainkan perannya. Peran sebagai sang sutradara hidup, banyak rencana yang sudah memutar di dalam kepala, pun tentang bagaimana menghadapi kenyamanan yang sudah lama tumbuh dalam hal kesendirian. kadang takut melompat lebih jauh bukan karna resiko besar yang dihindari, namun dirasa perjuanganku memperjuangkan belum sebesar yang seharusnya.

Perlu dipertegas, bahwa untuk jatuh bukan lagi monster yang patut diberi presentasi kekhawatiran lebih besar dari yang lain, karna dengan jatuh berkali-kali lah aku bisa menjadi aku yang sekarang. Jatuh. Bangun. jatuh lagi, bangun lagi. Seterusnya seperti itu… bukankah untuk digunakan, samurai perlu dibakar dan di banting berkali-kali agar benar-benar tajam ?

Dan di detik ini, aku merasa sedang benar-benar berjalan bersisian dengan kau yang tidak pernah terlapal dalam doaku kepada tuhan. Bukan kau yang sering ku sebut dalam sujud sepertiga malamku. Namun hanya kau yang saat ini mampu melihat aku dari perspektif berbeda dengan yang lain. Tuhan benar-benar memberikan sesuatu yang memang aku butuh. Aku memang tidak sedang butuh pria yang big mouth dalam hal memuji, dan tidak sedang butuh yang mengikat. Aku menikmati kesendirian ini dengan hati lapang penuh harap.

tidak ingin disebut-sebut munafik, aku juga butuh pundak yang jika hidup sedang keras-kerasnya, pundakmu adalah tempat pulang paling diharap. Dan jika mulut sekitar sedang getir-getirnya menyeruakan ketidakbenaran tentangku, aku butuh dia yang dengan tangannya, aku merasa mampu menggenggam dunia ini. Dan saat memeluk diri sendiri dirasa tidak lagi menyembuhkan, aku butuh dia yang dengan peluknya, tubuh ini bisa lagi berdiri di dua kaki yang kulit tapaknya mulai mengelupas perlahan.

Advertisement

Bukan kiriman bunga di setiap matahari terbit yang aku harapkan, bukan kiriman pesan manis yang berlembar-lembar di layar handphone, dan bukan telfon ucapan selamat pagi – malam yang ada dalam benakku. Tapi kesedianmu menerima segala kekurangan dan mendampingi, aku akan terus belajar menjadi yang baik dimata ibumu, agar menitipkanmu kepadaku, bukan lagi keraguan.

Terimakasih untuk kamu, yang bersedia datang. Jika ini pesta. Kau perlu tau bahwa aku tidak pernah mengundangmu. pun aku sadar, bahwa bukan aku yang memang ingin kau datangi. Namun dengan cara tuhan, kita bisa bertemu di tengah hingar bingar lautan manusia. Perlu di syukuri bahwa ternyata aku mampu mencintai lagi, setelah sekian lama tertutup. Pintu ini dibuka dengan santun oleh seorang pria yang karnanya aku mampu mencoba lebih mandiri, memaklumi, mendengarkan, dan saling menerima.

Terimakasih untuk kamu yang dengan senyum dan sedikit mengangkat alis tebalmu, aku mampu melihat betapa kebahagiaan jaraknya hanya sebatas hembusan nafas. Mari mendekat, akan ku tunjukkan jalan yang akan kita lalui didepan. Memang aspalnya tidak mulus, banyak rusak dimana-mana. Tapi entah mengapa, denganmu perjalanan didepan menjadi penderitaan dan tantangan yang memang harus dilewati.

Karna bersisian denganmu, kegetiran tidak lagi berakhir luka.