Saat pertama kali mengambil keputusan dan memantapkan hati untuk meninggalkan ayah dan ibu, pergi jauh meraih cita-cita, ada dilema yang bergejolak di hati. Apakah semua akan baik-baik saja? Bagaimana kehidupan jauh dari rumah? Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan, menimbulkan kekhawatiran.

Tidak hanya aku atau kamu yang khawatir ketika merantau, ada hati orangtua yang begitu bergejolak sehingga tak terkatakan. Saat merelakan anak-anak terkasih pergi jauh meninggalkan rumah, pagi yang biasanya diisi keributan, siang hari yang ramai ketika berkumpul di meja makan, malam hari yang hangat dengan obrolan-obrolan bersama keluarga, tiba-tiba SEPI.

Advertisement

Pastinya orangtua merasa berat, khawatir, sedih, dan sepi, namun mereka memahami dalam diam, dan mendukung dalam setiap untaian doa.

“Merantau tidak mudah kawan, sejak awal memutuskan meninggalkan orang-orang yang dicintai membutuhkan keteguhan hati dan kesabaran, hingga waktu mempertemukan kembali dalam kesuksesan yang sangat diusahakan.”

Meninggalkan orangtua artinya meninggalkan rumah, tidak ada lagi pagi yang begitu mudah, saat diawali dengan sarapan yang sudah tersedia, kebutuhan makan yang tidak perlu dipikirkan, malam yang bebas dari tugas-tugas. Hidup selalu berat, tidak ada pencapaian yang diraih dalam kemudahan, sulit meninggalkan rumah, namun keputusan ini diharapkan membawa kemudahan hidup di masa depan.

Advertisement

Ada kenyataan lain yang berat ditinggalkan selain orangtua dan saudara/i, dia yang diakui kekasih. Merantau telah tiba, saat harus melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, atau mendapatkan pekerjaan di luar kota.

“Pergi meraih cita-cita pasti kembali ke pangkuan orangtua, namun belum pasti kembali ke dekapan kekasih.”

Berat dan khawatir yang lain muncul di sisi hati. Beberapa pasangan memilih putus sebelum pergi merantau, ada yang memilih menjalani long distance relationship, namun ada yang putus di tengah jalan karena “orang-ketiga” atau lelah karena tak kunjung jumpa.

Pada keadaan ini jomblo sangat diuntungkan, karena tak terbebani soal perasaan ketika hendak merantau. Bukan berarti merantau dan berbeda kota dapat menghancurkan hubungan, semua kembali kepada dua pribadi yang mengusahakan komitmen yang dikatakan.

Jika kondisi dan situasi tersebut tidak bisa diatasi, dan muncul tanda-tanda pengkhianatan, mungkin dia bukanlah pribadi yang baik untukmu, atau sebaliknya kau bukanlah pribadi yang baik untuknya.

Mandiri dan Dewasa Karena Merantau
Pengalaman menjadi guru yang sangat baik untuk membentuk karakter seseorang. Pertama kali merantau, hal pertama yang dilakukan adalah mencari kamar kos. Tinggal di kos, bertemu banyak orang baru, berbagi kamar mandi dengan beberapa teman kos, mencuci pakaian sendiri, bahkan harus memasak.

Bagi yang terbiasa bekerja membantu orangtua, mungkin pengalaman memasak dan mencuci  adalah hal biasa. Akan tetapi bagi orang-orang yang tak mengenal piring kotor, baju kotor, atau tak tahu cara memotong bawang, pengalaman ini sangat luar biasa. Keharusan untuk melakukan semua sendiri, tanpa bantuan laundry atau tempat makan, agar akhir bulan tak menjadi akhir hidup, saat dompet menipis.

Pertemuan dengan banyak orang, dari berbagai kota, dengan pemahaman yang berbeda-beda, membuat perbincangan lebih bervariasi, dan membawa banyak pengetahuan. Bahasa daerah adalah bahasa Ibu, dan bahasa daerah sangat cepat mempengaruhi tata bahasa teman-teman dari berbagai asal yang berbeda.

Setiap orang yang merantau pasti memahami dan mengerti kondisi ini, saat di mana kamu berasal dari Ambon, dan sering memakai kata “seng” (artinya; tidak), tiba-tiba terbiasa memakai kata “sonde” (dalam bahasa Kupang artinya; tidak) karena banyak mempunyai teman orang Kupang.

Contoh lainnya, mungkin banyak diantara kamu yang mencoba berbicara dengan logat Batak, katika berbicara dengan teman-teman yang berasal dari Medan.

“Inilah yang dinamakan keindahan yang luar biasa dari pengalaman.”

Belum lagi banyak pemikiran-pemikiran yang luar biasa di temui dalam diskusi-diskusi, atau bertemu dengan orang-orang hebat saat kegiatan-kegiatan tertentu. Sebaliknya, mengahadapi orang-orang yang menjengkelkan, atau sirik dengan kehidupan dan pencapaianmu.

Orang-orang yang sulit menghargai orang lain, dan hatinya tumpul untuk menanamkan kasih di hati banyak orang, kemampuannya mendukakan hati. Tentu semua harus dihadapi dan diselesaikan, tanpa harus mengeluh lagi kepada ayah dan ibu.

“Tekanan hidup membuat setiap orang berusaha mencari jalan keluar, jika berhasil menghadapi semua masalah yang ada, kau akan menemukan diri sebagai pribadi yang lebih dewasa, karena pengalaman membentukmu.”

Berhasil Atau Gagal
Saat merantau setiap orang diperhadapkan dengan pertanyaan besar Berhasil ataukah Gagal? Berhasilkan dalam pendidikan dan pekerjaan, atau sebaliknya kegagalan yang ditemui. Merantau tidak hanya membutuhkan usaha, namun juga doa.

Kesadaran diri untuk menyerahkan semua masa depan kepada Tuhan, dan mengetahui bahwa ada orangtua yang paling setia bertekun dalam doa untuk keberhasilanmu. Pencapaian di masa depan bukan hanya untuk kebahagiaan diri sendiri, namun juga membahagiakan orangtua.

“Bukankah kebahagiaan orangtua adalah pencapaian keberhasilan anak-anaknya di masa depan?”

Berhasil atau gagal bukanlah hal sepele, banyak pribadi-pribadi yang merantau akhirnya gagal. Sedikit kegagalan terjadi karena menyerah terhadap pendidikan dan pekerjaan yang ditekuni, lebih banyak gagal karena persoalan relasi yang memberikan dampak negatif bagi diri.

Relasi dengan pasangan ataupun dalam pergaulan, yang membuat mereka menghentikan langkan di tengah-tengah perjuangan. Bahkan ada yang menurunkan standar pencapaian di masa depan, hanya karena takut berpisah dengan kekasih yang memiliki pencapaian berbeda.

Ada yang tidak gagal, namun belum berhasil karena waktu terbuang percuma untuk menangisi seseorang yang jelas-jelas menyepelekkan dan mengabaikan perasaannya. Begitu juga ada yang berhasil namun hasil kerja kerasnya tidak terpakai untuk menata kehidupan dan masa depan yang lebih baik.

Seorangpun di muka bumi ini tidak ada yang luput dari dosa, namun jika aku atau kamu gagal maka kita harus berusaha lagi, diusahakan lagi. Kejatuhan hari ini bukanlah kejatuhan seterusnya di masa depan, jika kita tetap mengusahakan yang terbaik. Semoga bahagia dan sukses menjadi milikmu perantau, walau rumah masih begitu jauh dari pandangan mata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya