Bertepuk sebelah tangan, rasa ingin memiliki dan mendapatkan sesuatu hal namun tak diridhoi olehNya, sang Pemilik Hidup. Ketika begitu besar ingin mencapai suatu tahap, namun semesta tak mengijinkan. Ketika ingin merasakan apa yang orang lain rasakan, namun tak diberi kesempatan. Itulah kecewa, rasa di mana muncul pertanyaan “Mengapa tak bisa?” dan tak akan pernah ada jawaban sebelum kita benar-benar sadar bahwa Allah adalah Perencana terbaik di bumi ini.

Aku Kehilanganmu !

Advertisement

Mengenai rasa ini, aku pernah merasakannya, atau mungkin bisa dikatakan sering. Dan akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa rasa kecewa akibat bertepuk sebelah tangan yang besar itu tak hanya terjadi di kisah asmara dan kisah hidup lainnya yang sering kutonton di acara televisi. Iya, kukira rasa kecewa tak sampai tega membuat seseorang merasa terpuruk. Namun setelah mengalaminya, aku mengerti. Kecewa yang sangat dalam itu membuat hidupmu tak lagi sama.

Waktu itu, aku telah berjanji kepada seseorang untuk terus menunggunya dalam keadaan apapun. Walaupun aku tahu, berada di posisi ini bukanlah sesuatu hal yang benar. Dan ternyata semesta menghalangi janji kita, membuat janji janji manis itu hilang berhamburan. Seseorang di sana yang sampai saat ini akupun tak tahu jalan pikirannya, berbalik arah. Hingga akhirnya membuatku harus ingkar janji dan menyerah.

Tak pernah ada lagi ia yang akan menjemput. Berulang kali aku mencoba membujuk semesta agar diberi kesempatan untuk sekedar bertanya “Mengapa kau begitu?” Namun lagi lagi, semesta tak mengijinkan kita bertemu. Bahkan untuk berpapasan sambil melemparkan senyum pun tak diberi kesempatan, padahal jarak kita begitu dekat. Dekat sekali, hanya dibatasi tanah kosong diantara gedung tempat kita mengejar impian.

Advertisement

Tapi aku bisa apa? Bila hanya untuk sekedar mengetahui kabarmu saja aku sudah tak mampu. Saat ini, sudah ada dia yang kembali kau cinta. Saat ini, sudah ada dia yang “mungkin” bisa membuatmu lebih bahagia. Dan saat ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sudah ikhlas menerima yang digariskan oleh semesta. Tolong sampaikan kepada dia yang sekarang di sisimu, tak perlu khawatir mengenai aku yang mungkin masih mencintaimu.

Tak perlu lagi menyerangku dengan berbagai kalimat yang justru semakin membuatku ingin bersamamu. Percayalah, bila semesta telah mentakdirkan seseorang untukmu, sejauh apapun dia pergi, pada akhirnya nanti ia juga pasti akan kembali.

Ketika semesta tidak main main memberiku rasa #BertepukSebelahTangan

Aku rasa, tahun ini sepertinya waktu dimana aku harus lebih banyak untuk belajar ikhlas. Iya, merelakan segala sesuatu yang pergi, entah pergi untuk kembali maupun selamanya. Rasa bertepuk sebelah tangan terbesar yang pernah terjadi di hidupku adalah ketika aku ingin hidup bersama dengan kedua orangtuaku dan membahagiakan mereka setelah semua jerih payahnya yang bisa membuatku sampai di tahap ini, harus sirna.

Keinginanku untuk menjadi seseorang yang dapat melihat senyumnya di masa tua, ternyata tak diridhoi oleh semesta. Rasa ingin mengabdi dan membalas jasanya ternyata harus bertepuk sebelah tangan. Lagi-lagi aku bersikeras meminta jawaban dari Sang Ilahi atas pertanyaan “Mengapa?” yang terus menerus menetap di pikiran. Tapi aku bisa apa? Selain menerima dengan ikhlas. Toh, meskipun aku menangis seribu tahun pun, Ayah tak akan hidup lagi.

Ternyata memang benar, rasa rindu dan cinta akan semakin besar ketika seseorang telah pergi menghadap sang Penciptanya. Iya, aku kehilangan Ayahku tercinta dalam sekejap mata. Ketika di pagi hari aku masih bisa melihatnya tersenyum padaku sebelum beliau berangkat bekerja, dan ternyata 2 jam kemudian aku harus melihatnya menutup mata tanpa sempat terucap kata perpisahan. Sakit? Jangan ditanya lagi. Kecewa? Pasti. Ada banyak hal yang belum kulakukan untuk membuatnya bahagia. Ada banyak kata yang belum sempat terucap, meskipun hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Hingga pada akhirnya, aku yakin bahwa ketika semesta #BertepukSebelahTangan dengan apa yang kita inginkan, pasti akan sesuatu yang terganti. Entah itu dalam bentuk bahagia, materi, ataupun lainnya. Meskipun rasa inginku tetap sama. Aku ingin Ayah! Aku ingin Kamu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya