Ada apa dengan diriku? Seolah aku di ajak untuk menyimak gambaran kehidupan yang telah ku lewati yang sedang ku jalani dan juga aku di paksa untuk memandang untuk melihat gambaran tampilan ku yang akan datang yang pasti, “menjadi seperti apa aku nanti.” Inilah yang menjadi melatar belakangi diriku untuk menggambarkan sesuatu yang sedikit ku sembunyikan kepada mereka yang membaca dari tulisan ini.

Sekilas tentang masa lalu pasti kita berbicara tentang masa yang kita lewati disana terjadi beberapa periode hingga bagaimana aku sekarang, dapat di persempit aku akan melewati masa anak-anak, remaja, dan dewasa pemula seperti sekarang. Aku terlahir dari keluarga Siregar dan ibu ku br.Sihombing (+), lahir sebagai anak ke 5 dari 5 bersaudara dan diantara kami ada 1 perempuan yaitu anak yang ke 2 dengan kata lain di simpulkan aku anak paling bungsu.

Advertisement

Dibesarkan dalam keluarga yang pekerja keras menurut ku, karena aku berbeda dengan anak anak sebaya ku yang ada di lingkungan, yaitu tidak adanya waktu bermain dengan teman-teman sebaya ku di masanya, dari sudut pandang itu mungkin sedikit yang bisa ku tuangkan mengajak anda bertanya. “Mengapa?” ya kerja keras. Setiap anggota keluarga di bebankan tanggung jawab dari paling tua hingga paling muda semua ada yang harus di pertanggung jawabkan, jika muncul pertanyaan apa yang harus di pertanggung jawabkan, ku jawab dengan singkat semua demi mengangkat harkat martabat keluarga kami melalui kami sekeluarga. Tapi yang pasti walau demikian bukan berarti kami tidak bergaul, tetapi koridor pergaulan kami adalah Gereja dan nuansa Gereja disanalah letaknya.

Beralih kependidikan disana kami di lahir bukan dari keluarga bertitel tinggi, ayah saya tamatan setarap SMP yang dulunya ST, ibu saya tamatan SD dulunya SR. Walau demikian kami di besarkan dangan model keluarga yang terdidik, pendidikan sekeluarga kami dasar semuanya di mulai dari SD Swasta HKBP tidak tahu apa yang melatarbelakangi itu apakah karena terlalu mencintai agama kesukuan atau agar memiliki nilai nilai dasar spiritual di sekolahkan disana. Setelah itu saya melanjutkan SMP N 1 Sibolga dan SMA N 2 Sibolga, berangkat dari hoby saya pernah di berangkat sekolah saya dari SMP N 1 Sibolga ke tingkat Provinsi (Porseni), Medan dalam rangkah mengikuti pertandingan sepak bola. Singakat cerita tamat dari SMA banyak pergumulan yang ku hadapi untuk melanjut ke jenjang perguruan yang mana. Keinginan pikiran ku sendiri pertama ingin melanjut ke Sekolah Pelayaran tapi disaat itu impian tersebut di patahkan oleh keluarga.

Keinginan ke dua aku mencoba mengikuti test penerimaan mahasiswa baru di sala satu PTN di Medan aku mengikuti ujian dan lulus, tapi apa bole di kata memang disini tidak secara langsung di patahkan. Tentu akan menimbulkan pertanyaan mengapa di patahkan, alasannya apa? Ya orang tua saya terutama ibu saya sangat mengharapkan saya bisa bersekolah di STT HKBP yang harapannya kelak aku akan menjadi seorang Pendeta yang nantinya bisa menjadi pengganti mereka menjadi penenga di tenga-tengah keluarga kami Siregar setelah mereka tiada, dan pada saat itu saya di sarankan untuk mencoba test di STT HKBP walaupun sudah dinyatakan lulus di PTN. Singakat cerita sayapun dinyatakan lulus di STT HKBP disaat itupun dilemapun muncul dalam perenungan dan dalam setiap helaian dan hembusan nafas ku seolah mengajak aku untuk berkelahi antara perasaan dan logika ku. Karena begitu besar cinta ku kepada ibu tercinta aku memutuskan untuk masuk di STT HKBP dan meninggalkan PTN ku.

Advertisement

Babak duka dalam kehidupan ku, tidak bisa di pungkiri banyak tantangan yang ku lalui berkuliah di Kampus ini terutama pergumulan pikiran dan batin ku, tetapi semuanya ku jalani dengan tenang hati melewatinya tahun demi tahun, 7 November 2015 setelah hampir mencapai akhir masa ku untuk menyelesaikan study ku di kampus ini, malapateka apa itu sedang datang menghampiri keluarga ku, yang di barengi dengan hari suka cita yang sudah dekat dan di rencanakan dalam keluarga ku, yaitu pernikahan abang anda Rein Siregar saudara ku yang ke 4 yang jatuh di tanggal 13 November 2015. Di malam jumat 7 November tersebut terjadilah malapetaka tersebut duka yang mendalam bagi kami sekeluarga ibunda tercinta yang paling kami kasihi ku cintai mengalami kecelakaan dengan kondisi yang sangat menyakitkan.

Tidak mampu menuliskan banyak tentang ini yang pasti menjadi duka cita yang mendalam dan mengubah semua suasananya. Gamabarannya pernikahan pertama tampa ibu, natal pertama tampa ibu, tahun baru pertama tampa ibu dan dia menjadi nama penutup di panggil kan di hadapan jemaat gereja untuk kematian di tahun itu diminggu ujung taon parhuriaon yang tepat hari minggu tanggal 23 yang juga sekaligus menjadi hari ulang tahunnya yang pertama tampa kehidupan lagi. sungguh sangat menyakitkan. Moment yang sangat banyak berdekatan dengan kondisi suka cita yang di ubahkan menjadi duka cita. Bagi saya sendiri menjadi seolah tamparan yang sangat dalam untuk saat itu dan menjadi pergumulan iman yang sangat kacau yang mencoba melawan kehendak Tuhan dalam kehidupan ku dan sempat mencoba untuk berpikir meninggalkan perkuliahan di STT HKBP tetapi benteng cinta dari keluarga masih mampu menguatkan ku.

Ya sekarang semua semua telah kembali ku jalani dengan lebih kuat dan aku juga merasakan lebih kuat, aku yang sekarang tetaplah aku yang dulu hidup dalam keluarga di besarkan dalam keluarga di genangi dengan cinta kasihnya. Syukur kepada Tuhan setiap moment dalam hidup ini mengajarkan untuk menyadari setiap prosesnya ada suka ada duka, ada tawa ada tangis, semuanya untuk kebaikan kita, rantai kehidupan ini akan selalu berputar, kehidupan inilah sebuah proses menuju kematangan dan mati. Semua yang hidup akan berusaha bertahan hidup dengan segala kebaikannya dan melakukan kebaikan untuk kehidupan kedua kalinya karena di hantui rasa takut. Dunia adalah tempat persinggahan sementara, disini kita akan menciptakan menjadi apa bentuk kita atau lebih sederhananya mengambil peran apa diri kita dalam dunia ini dalam persinggahan sementara.

Dan harapan karena belum ku gapai, dan gambaran karena belum ku miliki, yang nantinya akan menjadi seorang Pendeta yang melayani bukan di layani sesuai dengan apa yang ku lakukan saat ini dan ku jalani dengan apa yang kupikirkan sekarang dan kelak. Semua ini tentang aku yang ku bagikan untuk kita.

Untuk mengakiri cerita ini sedikit yang bisa ku gambarkan untuk kita tentang kehidupan yang di dalamnya ada proses bahwasayan setiap orang harus mampu berjuang bukan hanya melawan tekanan dunia ini tapi juga tekanan yang datang kesetiap dimensi rasa mu. Baiklah kita berpikir karena kita ibarat seperti pedang yang berada di tangan pandai besi, kita akan bentuk di tungku api ujian, semakin di bakar semakin di bentuk. Hingga nantinya mencapai bentuk sesuai dengan gambaran si pandai besi tersebut. Dengan demikian mari menikmati setiap proses tersebut jangan menjadi seorang yang lemah karena jika “Engkau lembek dengan dirimu maka dunia ini akan semakin keras menghimpit mu”.

Akhir kata saya ucapkan tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, tinggilah pengabdian kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya