"Sudah beres semua, nak?" tanya ibu dari telepon.
"Sudah, aku bisa telat nih, bu. Semalaman ada pesta perayaan kelulusan. Aku agak telat sekarang," kata Doni.
"Doni, aku tidak bisa mengungkapkan betapa bangganya kami sebagai orangtua, nak," kata ibunya penuh kebanggaan. "Sekalipun kamu sempat nyasar, tapi kamu berhasil kembali ke jalan yang benar. Bahkan lebih baik lagi … kamu berjiwa sosial. Kamu seorang pahlawan."
Doni tertawa mendengar ucapan ibunya, "santai saja, bu. Aku tidak sabar untuk segera membuka klinik sosialku itu. Setelah acara wisuda ini selesai, aku akan langsung ke sana untuk membuka kliniknya. Banyak orang-orang tidak mampu yang membutuhkan aku."
"Baiklah, nak. Hati-hati ya … ibu mohon … kamu juga harus menjaga diri."
"Iya, bu. Tenang saja. Dah …" Akhirnya ibu membiarkan dirinya menutup telepon sehingga Doni bisa cabut dari tempat kos menuju kampus.
Tujuh tahun berlalu sejak peristiwa tragis di persimpangan jalan itu. Doni kini bersiap untuk berangkat ke kampus untuk wisuda. Klinik sosialnya sudah menunggu, dimana dia bisa menolong orang-orang tidak mampu untuk melakukan operasi apapun, dari usus buntu hingga cangkok jantung.
Karena terlalu bersemangat, Doni tidak berhati-hati. Di persimpangan jalan, dia tergilas sebuah truk besar dan nyawanya tak tertolong lagi. Impian mulianya itu, melayang bersama nafas terakhir Doni di perempatan jalan.
Semua teman dan keluarga menghadiri pemakamannya sambil menangis tersedu-sedu, termasuk kedua orangtuanya. Walau begitu, mereka sangat bangga pada putra mereka yang punya impian besar, sekalipun tidak pernah terwujud. Klinik sosial yang sudah disewa Doni itu, tidak pernah buka.
Di lain tempat, Danu kembali lolos dari pengadilan karena telah menggilas seorang calon dokter di perempatan jalan. Alasan yang dia gunakan sangat klasik, "gak kelihatan". Pengadilan memutuskan bahwa kecelakaan itu adalah murni kecelakaan. Pengemudi tidak bersalah dan dibebaskan.
Dengan santai Danu duduk di antara teman-temannya di warteg tempat biasa mereka berkumpul.
"Eh ada Malaikat Kematian datang ke warteg," sindir teman-temannya.
"Biasa aja dong. Namanya juga kecelakaan," kata Danu tanpa emosi.
"Tapi sudah berapa orang yang kamu bunuh di jalan, Dan?"
"Dulu aku pernah menyelamatkan seorang pengemudi motor yang nyelonong gak tau aturan. Akibatnya? Pekerjaanku hilang, hidupku berantakan. Dan sekarang gara-gara gizi buruk, anakku sakit-sakitan. Kalau mau selamat di jalanan, jadilah pengemudi yang baik," kata Danu dengan mantap, balik menyalahkan pengemudi motor yang baru dibunuhnya beberapa hari lalu.
"Iya, tapi jangan sengaja libas seenaknya, dong! Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu, tapi sedapat mungkin aku tidak akan membunuh orang di jalanan!" kata temannya itu.
"Ah, kamu gak tahu sih."
Rupanya bukan hanya bertubuh lemah, tapi anak Danu ternyata bukan anak yang kuat. Gejalanya sudah tampak sejak kecil, dia sangat mudah merasa lelah. Anak itu bahkan seringkali jatuh pingsan. Baru setelah istrinya memeriksakan ke dokter, mereka mengetahui bahwa anak tersebut punya kelainan jantung. Dia butuh segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya.
Danu begitu miskin, untuk berhutangpun tidak ada yang mau meminjamkan uang padanya. Dia hanya bisa melihat bagaimana anaknya semakin melemah dan akhirnya mati.
Saat menguburkan putranya, Danu menangis berurai air mata, "Kenapa semua dokter mata duitan? Kenapa tidak ada dokter yang berjiwa sosial seorangpun saja?"
Mungkin malaikat kematian yang sedang menjemput anaknya itu boleh menertawakan Danu, "ada kok, tapi sudah kamu gilas."
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.