‘Aku akan menikah April nanti’. Sahut Langit.

‘kamu serius?’, Tanya Yuan. Matanya menunjukkan keseriusan pertanyaannya barusan. Iya, agak melotot, mendelik.

Advertisement

‘Serius’, sahut Langit tak kalah seriusnya dengan menunjukkan cincin emas satu mata pada jari manis tangannya.

‘Gak mungkin, kamu ga mungkin nikah ama dia. Yg kamu cinta itu cuma aku. Yg kamu gilai itu cuma aku’. Kembali Yuan meyakinkan dirinya.


Langit hanya tersenyum. Senyum yang seakan menjawab banyak luka hati yang telah Langit simpan untuk Yuan.

Advertisement

Aku nggak kemana-mana. Mana mungkin ini terjadi? Aku melewatkan apa? kamu nggak mungkin lakukan ini, Langit. Nggak mungkin. Yuan meremas sendiri jemarinya. Kepalan tangan itu terlihat memerah warna. Telinganya mulai berubah warna juga menandakan kemarahan. Ia menatap Langit dengan mata tajamnya itu. Menggoyang-goyangkan bahu Langit dengan tangan kekarnya.


Lihat aku, Langit. Bilang ini cuma bercandaan kamu aja’. Paksanya.

Tapi Langit hanya menatap wajah Yuan dengan lembut seperti biasanya.

Terimalah kenyatan ini, Mas. Aku akan menikah. Beberapa bulan lagi. Aku akan menikah’.


Setelah kepergianmu lagi waktu itu. Aku memantapkan diri untuk nggak lagi nunggu kamu. Empat belas tahun aku rasa cukup untuk banyak hal yang sudah aku lakukan buat kamu, toh kamu pergi juga. Datang, pergi, musiman. Aku sudah nggak bisa nunggu kamu, terima datangmu lagi, menguatkan hati ketika kamu pergi lagi, lalu terbuka hidup ketika kamu datang lagi. Aku nggak bisa mas. Aku udah ingin punya kehidupan, keluarga. Langit mencoba menjelaskan semuanya.

Sore itu entah bagaimana gerimis mulai datang. Hujan pertama di bulan Juli. Tak ada lagi sunset runaway kebiasaan Langit dan Yuan ketika masih bersama. Senja yang biasa diburu oleh mereka. Kali ini perburuan itu mungkin harus berakhir pada pembahasan yang menhancurkan hati Yuan, bahkan Langit pun. Gerimis membasahi rambut Langit. Ia berlari kecil menuju pohon beringin untuk meneduh.

Yuan melangkahkan kaki menghampirinya. Ia berdiri disamping Langit sambil menengadahkan mukanya kelangit yg mendung itu. Langit menangkap kilauan mata Yuan yang ternyata basah. Yuan bersyukur air hujan menyamarkan tangisan kecilnya.


‘Kamu pikir hanya kamu yang selama ini berusaha, hah?’.

Kata-kata Yuan memecah sunyi rintikan gerimis yang mulai melebat.

‘Aku salah menyetujui perjumpaan ini, mas. Harusnya aku cuekin aja kamu seperti biasanya’. Sahut Langit.

‘No. kita perlu ngomong’. jawab Yuan.


Yuan seakan tak pernah ingin kalah dengan semua keputusan Langit. Hidupnya memang rumit. Ia telah banyak mengalami jatuh. Langit masih anak kemarin sore. Harapannya masih banyak. Yuan? Ia malah sedikit berharap. Atau malah berhenti. Hanya menjalani hidup yg harusnya dijalani. Berbeda dengan Langit. Langit merasa tahu tujuan hidupnya, apa yg ingin dicapainya. Kapan dan bagaimana harus dilakukan untuk mencapai apa yang diinginkannya, apa yang ingin diraihnya. Hidupnya penuh target. Yuan adalah sosok yang berbeda.

Banyak mengalami kejatuhan dihidupnya membuat Yuan sedikit kehilangan arah, bahkan ia pun merasa bingung dengan perempuan bagaimana yang ingin disandingnya. Kegagalan berumahtangga membuat Yuan lebih berhati-hati. Kejatuhan ekonominya pun membuat Yuan lebih memprioritaskan bagaimana cari duit dibanding harus ribet dengan urusan wanita. Tapi Yuan tetap lelaki. Ia butuh seseorang yang menyandingnya. Kegalauan hatinya membuat Langit terpaksa harus merasa ditarik ulur sekian tahun.

Bahkan ketika dulu Yuan memutuskan menikah, Langit menunggunya. Sampai pada akhirnya perceraian Yuan ternyata tak membuat hubungan Langit dan Yuan menjadi seperti yang Langit inginkan. Yuan memilih permpuan lain. Kegagalan Yuan dengan beberapa perempuan tak menyurutkan hati Langit menerima Yuan kembali, meskipun waktu itu Langit telah berhubungan dengan laki-laki lain. Buat Langit, Yuan prioritasnya. Tak sadar usia Langit kian bertambah, alih-alih memikirkan menikah, Langit justru menenggelamkan diri pada banyak kursus, melanjutkan kuliahnya dan menggilai dunia pekerjaannya. Lelaki yang baik nanti toh datang juga, berapapun usiaku nanti, kalau cinta ya dia akan menikahiku juga, pikirnya.

Senja sore itu menghadirkan Langit yang berbeda dimata Yuan. Ia kehilangan Langit yang selalu menerimanya ketika Yuan ingin kembali merasakan hangat peluk seorang Langit. Langit yang Yuan kenal adalah perempuan yg nggak pernah menolak Yuan. Kali ini berbeda. Yuan mencoba menggenggam tangan Langit. Langit memberikan diri, memejamkan mata dan menggigit kecil ujung bibirnya.


‘Don’t’, lirihnya.

‘No. aku masih sayang kamu, Langit. Mustinya aku yang menikah dengan km. bukan laki-laki itu. Aku, Langit.. aku!’.

‘Mas, ini udah keputusanku. Bukannya kita udah sepakat mengakhiri ruwetnya urusan kita beberapa bulan lalu? Ingat?? Siapa yg minta aku pergi, jangan cari kamu lg?, siapa? Siapa yg minta aku buat jalani hidupku saja, ga ngurusi kamu, siapa??’.


Langit mencoba mengingatkan Yuan akan kenangan malam itu. Suara pintu dibanting itu membuat Langit terduduk menangis di pinggir kasur kamar rumah kecil tempat tinggal Yuan sementara waktu itu. Banting saja pintunya, seakan yang punya uang saja buat ganti kalau pintunya rusak’. Langit meninggikan suaranya ketika mendengar Yuan menutup pintu dengan keras.

Yuan menghampiri Langit dengan geram. ‘asal tau aja ya, mulai sekarang, nggak usah cari aku lagi, urusi saja hidupmu sendiri. Jalani aja hidupmu sendiri. Nggak usah cari aku lagi!’. Entah mengapa Yuan begitu marah malam itu. Langit hanya ingat ia menanyakan kemana seharian Yuan pergi yang tanpa pamit. Lalu memergoki Yuan pulang dengan baju penuh dengan pasir pantai. ‘kamu abis jalan ke pantai? sama siapa? Kok aku ditinggal sendiri di rumah kamu nyuruh aku nunggu.

Pantesan lama banget, seharian loh aku nunggu kamu’. Begitu Langit minta penjelasan. entah mengapa ujung pertanyaan ini membuat sahut suara kembali meninggi dan mirip sebuat pertengkaran. Langit susah memahami yang terjadi dan ujung dari semua pertengkaran waktu itu adalah keheningan. Sehabis tangisnya Langit mendapati pintu rumah terbuka, dan Yuan entah kemana. Langit meninggalkan rumah itu dengan pintu terbuka. Dan Blap! Cerita Langit dan Yuan seperti berakhir kala itu, selesai. Hilang menguap begitu saja. mereka seperti orang asing. Seringkali Yuan mengirim pesan pada HP Langit yang tidak pernah Langit balas. Dan sekarang Yuan kembali menggenggam tangan Langit dibawah pohon beringin di suatu sore yang hujan.


‘Jangan begini lagi memperlakukan aku. Kamu tahu aku selalu gak bisa nolak kamu mas. Kali ini tolong hargai pilihanku’. Seru Langit.

‘Aku gak akan pernah rela, Langit. Kamu mustinya paham aku seorang yg frustrasi. Aku akan selalu jatuh dan jatuh, tapi aku selalu ingin disampingmu. Aku ingin kamu lebih mengerti aku, bukan ingin kamu pergi’. Yuan mencoba menjelaskan maksudnya. Namun langit mengambil paksa tangannya keluar dari genggaman Yuan.


‘Yang mas perlu tahu, ia yang akan menikahiku, nggak pernah ninggalin aku. Bahkan saat terburukku. Yang aku perlukan hanya itu. Dia yang konsisten terhadap aku, mas. Bukan yang hobinya hilang dan datang lalu hilang lagi. Cintamu buat aku seperti musim, datang dan lalu. Kamu pernah mikir aku harus gimana? Kurang lama aku nunggu kamu? Aku juga ingin hidup normal’.

Langit akhirnya mendung juga. Sambil menangis ia memutar-mutar cincin dijari manisnya. Yuan mungkin tak akan mengerti sakitnya Langit mengambil keputusan ini. Namun Langit paham, hidupnya akan lebih sakit kalau ia mengikuti alur Yuan memperlakukan hidupnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya