Selama menjalani masa kehamilan pertama, saya tidak pernah berpikir tentang bagaimana, ya, proses persalinan nanti. Saya termasuk orang yang santai, saking santainya waktu hamil kebanyakan dihabiskan dengan rebahan. Sambil sedikit-sedikit membuka aplikasi parenting di ponsel dan menyimak curhatan orang-orang. Saya optimis dapat melewati proses melahirkan dengan mudah, walaupun tanpa ditemani oleh orang tua atau keluarga –hanya bersama suami di perantauan- dan … situasi masih di masa pandemi.
Namun, saya baru menyadari bahwa rasa optimis saja tidaklah cukup setelah mengalami persalinan yang tricky, apalagi di masa pandemi yang mana vaksin belum beredar seperti sekarang. Maksudnya tricky seperti apa, sih? Nah, simak cerita saya dalam berjuang menghadirkan bidadari surga ke dunia ini –yang sekarang sudah semakin aktif dan membuat kewalahan.
Empat puluh minggu lebih sudah, saya bersama calon buah hati di raga yang sama. Banyak cerita yang dilewati selama mengandungnya, dimulai dari mual muntah di awal kehamilan, rasa antusias setiap kali kontrol dan melakukan USG, keluhan sakit pinggang, sampai tidak bisa tidur malam. Semua momen yang begitu berharga bagi saya, sebagai calon ibu baru. Kini, hari perkiraan lahir pun tiba, tetapi belum ada gelombang cinta yang hadir dari si buah hati. Saya tidak merasa gelisah berlebihan, karena yakin bahwa bayi saya tahu kapan waktunya dia berjumpa dengan ibunya.
Tidak beberapa lama setelah kontrol terakhir saya, akhirnya gelombang cinta itu tiba. Segera saya menghubungi suami dan mempersiapkan diri. Rasanya tidak sabar, saya mulai berdebar-debar. Ketika kami pergi ke bidan, ternyata masih bukaan dua. Saya disuruh kembali ke rumah, sampai kontraksi terasa semakin tidak ramah. Semalaman tidur saya  tidak leluasa, karena rasa sakit yang terus mendera. Keesokan sorenya, saya kembali pergi ke bidan untuk diperiksa lagi dan memutuskan untuk tinggal di sana. Pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan tusukan jarum suntik yang begitu pongah menusuk urat. Namun saya sudah tidak peduli, rasa kontraksi lebih mendominasi.
Sampai di bukaan ke tujuh, semuanya masih berjalan baik-baik saja. Tidak ada yang terasa janggal. Lalu, ketika partner bidan saya datang dan turut memeriksa, barulah ada yang berbeda. Sang bidan mengatakan ada organ lain yang teraba, seperti jari. Padahal hasil USG terakhir memperlihatkan presentasi kepala dan semuanya aman-aman saja. Mereka pun tidak sanggup untuk meneruskan persalinan di sana. Akhirnya bidan dan suami saya berdiskusi untuk merujuk saya ke rumah sakit, agar penanganannya lebih baik. Kami pun berkemas dan bersiap berangkat. Sakit yang dirasakan makin menjadi-jadi, sepertinya bukaannya bertambah. Namun saya hanya bisa gigit jari selama perjalanan ke rumah sakit yang menurut saya lamban sekali. Selama di mobil saya terus meringis, bayang-bayang kematian mulai beterbangan di kepala. Saya merasakan bahwa bayi ini sudah ingin keluar, tetapi saya belum boleh mengejan. Ah, ini benar-benar menyakitkan!
Akhirnya beberapa waktu kemudian, kami pun tiba di IGD dan suami saya segera mengurus administrasi. Saya sudah tidak sabar rasanya untuk ditangani, tetapi saya masih harus menunggu lagi. Alhamdulillah, tidak perlu menunggu berkas selesai, saya dibawa ke sebuah ruangan bersama bidan yang menemani. Namun sialnya, karena situasi sedang pandemi saya harus menjalani tes rapid dulu dan setelah hasilnya keluar baru bisa ditangani oleh pihak rumah sakit. Oh, no! Saya masih harus menunggu dua jam lagi sampai hasilnya keluar.
Berkali-kali saya mengatakan bahwa sudah tidak kuat lagi, bayi saya sudah ingin keluar. Saya ingin memaki, tetapi rasa sakit ini terus memegang kendali. Setelah sekian lama bergelut dengan rasa sakit yang membuat saya ingin menggila, akhirnya tim medis mulai bersiap-siap. Saya hanya pasrah jika harus menjalani operasi, yang penting sakit ini dapat segera enyah dan buah hati saya lahir dengan selamat ke dunia. Akhirnya tes rapid saya keluar juga dan seseorang meminta saya untuk menandatangani suatu berkas. Saya coret saja sekenanya tanpa melihat sedikit pun apa isinya. Seorang dokter pun datang dan memeriksa saya, beberapa kali sambil berdiskusi dengan tim medis lainnya.
Dokter pun mengatakan bahwa bayi saya presentasi muka dan organ yang teraba itu bukanlah jari, melainkan bibir. Hal ini memang tricky lanjutnya. Memang membingunkan. Lalu, saya pun akan dipindahkan ke ruang tindakan. Tidak sempat dibawa, dokter berseru agar dilakukan di sana saja karena bayinya sudah mau keluar. Ya, memang itu yang saya rasakan sejak tadi.
Ketuban pun dipecahkan dan saya disuruh mengejan. Segala macam teori yang dipelajari agar melahirkan tanpa robekan menjadi wacana belaka, karena memang presentasi muka seperti ini membutuhkan pintu keluar yang lebih lebar. Tidak lama kemudian, bayi yang dinanti-nanti akhirnya lahir disertai tangisnya yang melengking. Ah, begitu leganya. Walaupun masih ada robekan yang butuh dijahit, tetapi mendengar suara bayi itu membuat saya bahagia.
Kini saya menyadari betapa berharganya pengorbanan seorang ibu. Betapa indahnya menjadi seorang ibu. Pengalaman ini tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun. Sekaligus menjadi pelajaran buat saya agar lebih memperhatikan kehamilan, makan yang sehat dan rajin berolahraga agar persalinan dapat berjalan lancar. Buat kamu yang sedang hamil, jaga kesehatanmu dan calon buah hatimu, ya. Jangan bandel.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”