Warnamu yang aku sebut bukan segalanya.

Maafkan aku karena telah menyebutmu begitu, bukan maksudku untuk menyinggungmu, tapi memang ini yang aku rasa. Aku percaya hidup ini berwarna, dan kamu adalah salah satu dari warna itu. Kamu hanya menjadi salah satu warna diantara ribuan warna yang ada di lukisan kanvas hidupku. Beberapa kali, saat aku melukis kanvas-kanvasku aku menggoreskan warna dirimu.

Advertisement

Ketika aku melihat kembali kanvas yang telah selesai kulukis, ternyata warnamu cukup menarik untuk selalu aku pandang. Aku tak pernah bosan memandangnya. Walaupun begitu, di samping warnamu, aku goreskan pula warna yang lain, karena aku percaya satu warna pun tak cukup untuk menghias putihnya kanvas yang telah Tuhan beri kepadaku. Maafkan aku, karena tidak selalu melukiskan warnamu dalam setiap kanvas-kanvasku.

Karena terkadang warnamu mengganggu lukisanku, jadi aku terpaksa untuk tidak menggoreskan warnamu. Bukan apa-apa, kali ini warna gelaplah yang sedang lukis, tentu saja warnamu tidak cocok di dalamnya, karena warnamu akan menjadi paling terang. Aku tidak ingin kamu menjadi paling terang, karena aku takut kamu dilihat oleh banyak orang. Tentu saja aku takut, karena ketika kamu dilihat oleh banyak orang, bisa jadi ada yang tertarik kepadamu.

Aku takut pada rasa cemburu. Di lain waktu, saat aku mulai melukis warna-warna terang, terkadang warnamu juga tak aku pakai. Alasannya karena aku tidak ingin kamu terlihat sama dengan mereka, bisa jadi kamu tidak akan terlihat karena bersanding dengan warna-warna yang terang itu. Itulah yang aku maksud bahwa warnamu bukan segalanya untuk kanvasku.

Advertisement

Namun tanpa warnamu, kanvasku hampa.

Ingatlah kalimatku, bahwa tanpa warnamu, kanvasku hampa. Mungkin aku meledekmu, setelah sebelumnya aku meminta maaf karena tidak selalu menggores warnamu, kali ini aku berkata sebaliknya. Lucu dan menyebalkan memang, tapi apa dayaku? Karena memang itu juga aku rasakan. Ketika aku mulai beristirahat dan meletakkan kuas catku, aku mulai memajang satu per satu lukisan yang selesai aku lukis.

Setiap hari, aku berusaha menyelesaikan lukisanku dan melukis di kanvas yang baru esok harinya. Aku tidak ingin menyisakan kanvas kosong dan aku lanjutkan esok hari. Karena aku percaya, Tuhan selalu memberikan kanvas baru setiap harinya. Maka dari itu, aku juga ingin melukis mulai dari awal setiap harinya. Setiap malam, aku menjejerkan lukisanku dan memandanginya lagi.

Apa yang terjadi dengan warna hari ini? Apa yang salah dengan warna hari ini? Tidak selalu baik, tidak selalu buruk pula. Pada satu saat, ketika aku merasa lukisanku itu salah, aku mencoba memandanginya lebih dalam. Mengamati warna apa yang seharusnya tidak aku goreskan. Dan ku pikir tidak ada warna yang salah. Aku menggumam dalam hati, mengapa lukisanku tak terlihat sangat indah? Ternyata jawabannya adalah warnamu. Lukisan yang aku pajang tanpa warnamu terlihat kurang indah, serasa hampa ketika aku mengulang untuk melihatnya lagi.

Itulah kekonyolan yang aku buat setiap aku melukis kanvas hidupku. Aku tidak selalu menggoreskan warnamu karena terkadang warnamu tidak cocok untuk semua kanvasku ini. Namun, ketika aku selesai melukis dan memajangnya, aku merasa lukisanku kurang indah tanpa warnamu. Itulah lukisan hidupku yang aku sebut, warnamu bukan segalanya, namun tanpa warnamu aku hampa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya