Halo, pria kesayanganku! Sudahkah kamu sarapan pagi ini? Jangan lupa minum susu. Oya, jangan beli sarapan sembarangan ya! Beli di tempat yang bersih dan tidak dirubungi lalat. Kamu juga gak boleh lupa makan buah dan konsumsi multivitamin. Berangkat ke kantornya pelan-pelan aja, asal selamat. Jangan lupa…. *blablabla*

Sayangku, saat membaca sederet baris smsku yang bernada demikian, aku sudah yakin kalau kamu merasa jengah. Atau barangkali kamu tidak akan membacanya sampai tuntas. Di samping bosan, mungkin kamu tak punya banyak waktu untuk menuruti segenap permintaanku yang sangat sulit dihapal di luar kepala. Atau malahan, pesan singkatku yang sudah tak bisa dibilang singkat lagi itu, hanya dijawab dengan kata paling singkat: IYA. Alasannya, hanya agar tidak aku omeli sewaktu bertemu.

Sebelumnya, terimakasih karena kamu tetap setia. Salah satunya, setia terhadap omelanku yang kadang tak ada habisnya ini.

Kuakui kalau aku memang sangat suka mengomel atau minimal cerewet. Bagaimana ya? Mungkin memang beginilah Sang Ilahi menciptakan wanita. Hal ini pun tak bisa kuhindari karena kata orang, ini sudah dari sononya. Seringkali aku marah padamu karena kamu datang terlambat sewaktu acara kencan. Atau aku mengomel karena kamu tak menuruti perkataanku, yang sesungguhnya hal-hal itu adalah perkara sepele.

Namun dalam diam, aku pun salut kepadamu. Meski hampir setiap hari tak pernah luput dari omelan atau keganasan emosiku, kamu tetap bersabar. Bahkan keinginanmu untuk meninggalkanku dari status kekasih, tak muncul sekelebatan pun. Paling-paling, kamu hanya memalingkan wajah atau memasang musik keras-keras di antara daun telinga. Walaupun itu sebenarnya nampak menyebalkan, sejujurnya.

Tempo lalu, kamu jatuh sakit. Lagi-lagi aku mengomelimu sebab kamu luput mendengarkan permintaan sederhanaku.

Waktu itu, bukannya aku tak toleran atas kondisimu yang tengah lemah. Bukan juga aku ingin nampak kuat di saat kamu hanya mampu terbaring. Omelanku saat itu semata buah kekesalanku karena kamu tak mengindahkan nasehat atau permintaan sederhanaku. Kamu pasti masih ingat kalau aku memintamu untuk tidak nekat pergi keluar di tengah hujan deras. Saat aku memintamu supaya segera mencari minuman dan makanan penghangat setelahnya pun, tak ada gubrisan.

Advertisement

Akhirnya, yang aku khawatirkan pun terjadi pula. Kamu jatuh sakit karena kehujanan dan membiarkan perut kosong setelah kehujanan hingga pagi menjelang. Di satu sisi, aku kasihan. Di sisi lain, kecewa menghujam perasaanku. Dengan apalagi aku harus membuatmu yang keras kepala ini, percaya kepadaku?

Yang harus kamu tahu, ketika wanita memarahi prianya adalah karena wanita mencintai sepenuh hati. Jika saja wanita hanya diam, mungkin itulah alarm yang perlu disadari para pria.

Priaku, percayalah jika omelan atau rasa marah ini datang bukan tanpa sebab. Sebagai wanita, aku bukanlah wanita egois yang akan marah ketika permintaannya tidak dituruti. Aku juga bukan Hulk, si monster hijau yang marah apabila tersinggung sedikit saja. Bukan, bukan itu.

Percayalah, Sayangku! Ketika aku marah, ini adalah bukti rasa sayangku kepadamu. Ketika aku mengomel atau memarahi, itulah pertanda bahwa aku masih mempedulikanmu. Baik kesehatanmu, kepribadianmu, dan segalanya tentang kamu. Bayangkanlah jika aku hanya diam saja semenjak menjalani kisah cinta ini! Barangkali kamu perlu curiga padaku, apakah aku benar-benar peduli dan mencintaimu sepenuh hati?

What men should know, a woman who truly loves you will be angry at you for so many things. But will stick around.