Malu? Penting Nggak, Sih?

Orang-orang sering berkata, Nggak usah malu, nggak penting. Namun, apa benar bahwa malu itu nggak penting?

Sebelum menyelam lebih dalam, kita harus tau dulu nih, apa sih malu itu? Menurut KBBI, malu dapat berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya), atau berarti segan untuk melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dan sebagainya. Selain itu, malu juga dapat berarti kurang senang (rendah, hina, dan sebagainya).

Lalu kembali ke pertanyaan awal, malu itu penting nggak, sih?

Jawabannya adalah iya, malu itu penting, tetapi nggak semua makna dari malu itu penting. Malu yang penting bagi kita adalah malu ketika berbuat salah, malu berbuat tercela, dan juga malu ketika berbuat jahat. Tanpa malu kita jadi semena-mena, karena batas yang benar dan salah jadi bisa nggak terlihat ketika kita nggak merasa malu. Dengan merasa malu, kita jadi mengetahui batas antara yang benar dan salah, dan kita juga menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak. 

Contoh simpelnya adalah membuang sampah. Kita semua tahu bahwa sampah itu harus dibuang pada tempatnya dan tidak dibuang sembarangan. Karena itu, kita seharusnya merasa malu apabila kita membuang sampah sembarangan. Apabila seseorang tidak lagi merasa malu membuang sampah sembarangan, maka artinya orang tersebut sudah melakukan perbuatan yang salah dan telah mengabaikan batas antara hal yang benar dan salah, dan orang tersebut juga akan menjadi semena-mena dalam membuang sampah. 

Contoh lainnya adalah ketika ada seseorang yang tanpa merasa malu menyalip antrian, maka orang tersebut sudah tidak dapat merasakan bahwa menyalip antrian adalah perilaku yang salah dan tidak terpuji, sehingga ia tidak merasa bersalah dan jadi terbiasa menyerobot antrian dengan semena-mena.

Mempunyai rasa malu itu penting, apalagi di zaman globalisasi saat ini yang sangat terbuka. Budaya-budaya asing masuk ke negara kita tanpa terbendung. Tentu saja budaya yang masuk nggak semuanya buruk, tetapi budaya negatif yang masuk dapat merusak moral masyarakat kita. Maka dari itu kita perlu menyaring budaya-budaya asing yang masuk, salah satu caranya adalah dengan mempertahankan budaya malu. Dengan memiliki rasa malu, maka secara tidak langsung kita telah menyaring budaya yang kita terima, dan kita dapat terhindar dari budaya-budaya negatif yang masuk sehingga kita jadi lebih terjaga dan terlindungi. 

Namun, apabila malu yang dimiliki itu malu dalam berbuat baik atau malu dalam melakukan hal yang bermanfaat, maka rasa malu tersebut justru menghambat diri kita untuk berkembang. 

Bagaimana sih contoh malu yang bisa menghambat? Salah satu contohnya adalah malu bertanya. Kita semua pasti pernah mendengar pepatah terkenal yang berbunyi Malu bertanya sesat di jalan. Ternyata makna dari pepatah itu nggak sesederhana bakalan salah jalan atau nyasar kalau nggak mau bertanya loh, melainkan punya makna yang lebih dalam. Makna dari pepatah tersebut adalah kalau kita segan dalam bertanya, maka kita akan merugi karena masalah yang dihadapi nggak akan ditemukan jalan keluarnya. 

Selain itu, malu yang berasal dari rasa rendah diri dan nggak percaya diri juga bukan malu yang penting untuk kita miliki. Malu yang seperti ini justru malah bisa membatasi kemampuan kita dan menghambat kita dalam berkembang. Sehingga kemampuan kita yang seharusnya bisa meningkat malah jadi terhambat dan stuck tidak berkembang.

Jadi, malu itu penting nggak, sih?

Ya! malu itu penting kita miliki untuk menjaga diri, tetapi jangan malu dalam melakukan kebaikan atau dalam bertanya kepada orang lain. Jadi kita juga harus memahami malu seperti apa yang penting dan malu seperti apa yang perlu dihindari. Kita harus malu dalam berbuat tercela, tetapi jangan malu untuk berbuat baik, ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini