Lebih baik jadi pemberani daripada pengecut, sebagian orang mengatakan itu kepada saya. Sementara yang lainnya lagi mengatakan lebih baik jadi pengecut daripada pemberani.

Menurut saya tidak ada yang lebih baik dari keduanya. Yang terbaik adalah menjadi orang yang bijaksana, tahu kapan harus bersikap sebagai "pemberani" dan tahu kapan harus bersikap sebagai "pengecut" . Hidup itu harus disikapi dengan cerdik.

Advertisement

Untuk hal-hal yang berguna, kita diperkenankan bersikap berani. Seperti mengungkapkan pendapat, menyampaikan saran dan kritik. Membela kepentingan kita atau orang lain, sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. Kita boleh berani berkarya, berani mencoba, bahkan sampai berani menyatakan cinta. Lakukan dengan sikap berani hal yang dapat memberi dampak positif.

Sementara itu kita justru menghindari (untuk sementara bersikap pengecut) pada hal-hal yang mendatangkan akibat negatif. Kita tidak perlu jadi jagoan jalanan, kebut-kebutan, pepet-pepetan dengan angkot. Tidak ada gunanya. Kita juga tidak perlu bersikap berani kurangajar terhadap orangtua atau guru (pasti tau dong bedanya kurangajar sama berani). Dalam hubungan percintaan pun tidak disarankan untuk berani melakukan hubungan seks di luar nikah.

Pemberani tidak identik dengan jagoan atau bersikap preman. Sementara Pengecut tidak identik seperti penjahat atau kura-kura (kecuali Kura-kura Ninja mungkin).

Advertisement

Yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya, menyampaikan kritik dan masukan di belakang yang bersangkutan. Bergosip, bikin status facebook (dengan harapan orang itu membaca). Di kampus kalau dosen bertanya atau memberi kesempatan berpendapat, mahasiswa tidak ada yang berani mengungkapkan pemikirannya. Di bidang bisnis, orang tidak berani keluar dari zona nyaman, tidak berani berpikir kreatif.

Nah, justru hal-hal yang tidak perlu unsur keberanian dilakukan. Berani melanggar lampu merah. Berani pakai obat-obat terlarang. Berani minum minuman keras. Berani dugem sampai pagi. Berani bolos kuliah.

Petinju legendaris Muhammad Ali terkenal dengan footwork alias langkah tipuannya. Pada pertandingan melawan George Foreman, Ali hanya berputar-putar mengajak Foreman mengitari ring tinju. Sikap Ali ini seperti pengecut dalam pertandingan. Tetapi begitu menyadari Foreman sudah kehabisan tenaga, Ali menghantam dan menjatuhkannya. Ia berani mengambil kesempatan yang terbuka di depan matanya.

Dalam salah satu pertempuran, Oda Nobunaga salah satu tokoh sejarah Jepang, menghadapi serbuan lawannya dengan sikap pasrah. Ia justru bernyanyi dan menari di istana, seakan-akan sedang menunggu ajal. Ketika musuh hampir mencapai istana, ia tahu bahwa mereka sudah bergerak sangat jauh tanpa istirahat.

Nobunaga memutuskan untuk menyerang musuh dari barisan paling belakang (barisan yang biasanya tidak ditempati oleh komandan pasukan), membuat kepanikan pada pihak musuh. Dalam situasi panik, anak buahnya segera mencari pimpinan musuh dan memenggal kepalanya. Pertempuran berakhir , kemenangan untuk Nobunaga yang berhasil menguasai diri untuk tidak segera menyambut musuh, tetapi menunggu kesempatan yang tepat.

Selamat mempraktekkan, semoga bermanfaat!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya