Dilema antara Matematika atau Tata Busana

Hai kenalin, saya Asna lahir di Pekalongan, 16 September 2004. Saya merupakan anak perempuan pertama dari 5 bersaudara dan saya lahir dari seorang ibu yang sangat sederhana, tidak malu dengan pakaiannya yang sangat biasa saja.

Ibu saya dulunya seorang penjahit. Ketika saya umur 9 tahun, ibu saya melihat bagaimana saya suka menjahit-jahit dengan bahan yang sudah tidak terpakai. Dari mulai itu, ibu saya sudah memantabkan hatinya untuk saya masuk ke SMK.

Setelah lulus sekolah MTs, saya di kasih 2 pilihan mau lanjut kemana, antara SMA atau SMK, akhirnya saya memilih SMK dengan mengambil jurusan tata busana. Sudah 3 tahun saya belajar menjahit di sekolah, tetapi karena 2 tahun kepotong libur corona, ilmu yang saya dapat baru sedikit, dan merasa belum puas. Akhirnya setelah lulus dari SMK, saya mencoba mendaftar 2 Universitas yang ada prodi tata busananya, tapi hasilnya nihil (tidak keterima).

Saya sudah putus asa, bingung mau lanjut kemana. Sedangkan orangtua sudah mau mengirimkan saya ke pesantren, karena dulu sebelum masuk SMK, saya pernah bilang mau masuk ke pesantren. Tetapi jalannya waktu, rasa ingin masuk ke pesantren itu tiba-tiba hilang.

Saya juga punya sepupu cowok seumuran, cuma beda 1 bulan dariku. Saya sama sepupu saya juga sama-sama ketolak di universitas yang di inginkan, posisi di situ seluruh keluarga besar sudah pada tahu, dan om saya ingin mengirimkan kita berdua ke Pare untuk belajar bahasa Inggris.

Akhirnya saya sama sepupu nekat daftar di salah satu universitas deket sama rumah dengan mengambil jurusan yang berbeda. Saya iseng mengambil prodi matematika, karena awalnya saya tau pasti nggak akan diterima karena nilai ujian saya yang jelek dan menerima takdir, antara mau dikirimkan ke pesantren atau ke Pare untuk belajar bahasa Inggris. Namun,  Allah berkehendak lain, saya diterima di universitas tersebut dengan prodi matematika.

Ayah yang ingin saya kuliah pun denger kalo saya keterima di universitas deket rumah, langsung mengurus administrasinya. Padahal saya belom berbicara setuju dengan mengambil prodi matematika.

Tetapi dengan berat hari saya ikhlaskan karena nggak mau bikin orang tua saya kecewa, karena telah mengeluarkan banyak uang. Insyaallah dengan ridho orang tua, saya bisa menjalaninya dengan baik, aminn..

Awal masuk kuliah tidak bersemangat sekali, karena tidak ada teman yang saya kenali satu pun, saya sama sepupu juga beda fakultas. Namun, dengan berjalannya waktu, akhirnya mendapatkan teman dari tetangga sebelah dan temen-teman yang sefrekuensi.

Akhirnya saya memutuskan untuk menetap di prodi matematika dan mengiklaskan prodi tata busana.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini