Membangun Budaya di Era Resesi

Akhir-akhir ini santer terdengar masalah dan dampak resesi yang kabarnya sebentar lagi akan terjadi di Indonesia pada tahun 2023. Banyak masyarakat yang kian resah akan datangnya badai resesi tersebut. Namun, apakah semua orang sudah tahu apa yang dimaksud resesi itu? Atau hanya sekedar kata orang saja tahunya?

Resesi ekonomi didefinisikan dengan keadaan ketika aktivitas perekonomian yang turun ataupun melambat secara signifikan. Jangka waktu terjadinya resesi sendiri bisa dikategorikan lama. Mulai dari hitungan bulan bahkan sampai hitungan tahun. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global merosot menjadi 2,7% apabila resesi ini terjadi.

Faktanya, dunia sudah pernah dihantam oleh badai resesi lebih dari sekali. Tercatat sudah ada lima kali dunia mengalami resesi yakni semenjak Perang Dunia II. Untuk rincian tahun terjadinya peristiwa resesi sebagai berikut 1975, 1982, 1991, 2009, 2020. Jelas hitungan yang tidak sedikit bahwasanya dunia pernah mengalami resesi. Kemudian untuk Indonesia sendiri, pun sudah menghadapi resesi selama tiga kali yakni pada tahun 1963, 1998, dan 2020/2021.

Dikutip dari konten YouTube milik Ferry Irwandi menjelaskan bahwasanya resesi merupakan lambatnya arus perekonomian yang terjadi pada suatu negara. Ferry menjelaskan bahwa contoh resesi yang telah dialami oleh negara Indonesia terjadi pada puncak kasus penyebaran virus corona. Yang mana ketika peraturan lockdown dan social distancing diberlakukan, masyarakat menjadi sulit untuk melakukan kegiatan yang terikat dengan ekonomi. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya resesi.

Adapun faktor lain dari terjadinya resesi pada suatu negara. Yaitu peristiwa seperti perang maupun konflik yang terjadi antar negara di dunia. Hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya resesi. Dilansir dari kanal YouTube Narasi Newsroom yang diunggah pada 8 November 2022, dijelaskan mengenai resesi yang terjadi di negara China dan Amerika. Adapun penyebab utama daripada resesi yang terjadi di dua negara tersebut yaitu karena adanya konflik antara Rusia dan Ukraina yang tak kunjung usai.

Indonesia menjadi negara yang diprediksi akan mengalami resesi. Namun, keterikatan Indonesia dengan ekonomi global terbatas. Yang berarti, resesi yang disebut sebut akan mengguncang perekonomian Indonesia tidak begitu berpengaruh besar terhadap perekonomian di Indonesia. Probabilitas dari resesi relatif kecil. Jadi kita semua bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman resesi tersebut.

Lalu langkah apa saja yang bisa kita lakukan supaya perekonomian kita aman dari ancaman resesi tersebut? Hal paling utama agar kita aman dari ancaman resesi yaitu ‘jangan boros'. Usahakan untuk membeli keperluan sesuai dengan kebutuhan. Tidak perlu konsumtif untuk membelanjakan barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Lebih baik uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Kemudian yang bisa kita lakukan untuk menghadapi resesi dalam hal pangan, salah satunya ialah dengan mengeksistensikan makanan lokal. Ada banyak sekali makanan khas Indonesia yang dihasilkan dari pemanfaatan tanaman sekitar. Terlebih lagi, negara kita merupakan negara agraris dan juga sebagai penghasil rempah-rempah terbaik. Maka kita bisa memanfaatkan semua yang tersedia di sekitar kita sesuai kebutuhan.

Upaya memanfaatkan tanaman sekitar untuk dijadikan bahan pangan pun bisa menjadi pundi-pundi rupiah. Jika kita amati, peluang tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi kita. Terbukti, sudah banyak UMKM yang maju dengan menjual produk pangannya yang mana mereka memanfaatkan tanaman sekitar untuk dijadikan hidangan yang lezat dan bermanfaat. Dengan cara ini, kita bisa menghadapi resesi dengan baik dan mendapatkan keuntungan dari penjualan produk pangan tersebut. Bonus lain yang didapatkan dari memanfaatkan tanaman sekitar untuk dijadikan bahan pangan adalah kita sudah ikut berperan aktif untuk menjaga budaya Indonesia agar lestari hingga sampai generasi cucu kita nantinya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan