Jatuh bangun aku mengejarmu

            Namun dirimu tak mau mengerti

Advertisement

            Kubawakan segenggam cinta

            Namun kau meminta diriku

            Membawakan bulan ke pangkuanmu

Advertisement

 

Pastinya bagi generasi yang lahir di tahun 90-an masih ingat penggalan lirik lagu dari Meggi Z tadi. Apalagi para maniak dangdut yang tersebar dari seluruh orkesan pas nikahan di seluruh nusantara. Eksistensi lagu dangdut seakan tak pernah pudar. Bahkan hampir tiap tahun kita selalu dihibur oleh berbagai acara acara yang mengusung dangdut sebagai jualan utamanya. Dangdut is never die.

 

Nama-nama seperti Via Vallen, Nella Kharisma, Nazar hingga penyanyi-penyanyi dangdut keluaran ajang pencarian “pendangdut” kian membuat dangdut semakin bernyawa panjang. Meski beberapa masalah sebelumnya selalu menghadirkan kasus yang sama mengenai citra dangdut, yaitu goyangan yang erotis. Memang tak semua, tetapi kadang kita selalu saja mendapatkan visual visual biduan dengan gaya jogetnya masing masing.

 

Terlepas dari kelakuan kelakuan improvisasi dari sang pendangdut, kenyataanya ada satu hal yang tak pernah lepas dari musik dangdut bagi pendengar pendengarnya. Apalagi kalau bukan liriknya yang penuh akan makna. Sebagian bercerita dan bernarasi.

 

Dibandingkan dengan liriklagu pop lokal yang hanya berkisar kata cinta dan pedih, lirik dangdut menceritakan kejadian yang menimpa sang penulis lagu. Sehingga, kekayaan kata dan pendalaman makna pada lirik lebih banyak. Itulah membuat dangdut kadang menjadi santapan umum bagi setiap lapisan. Dangdut memahami diri Anda dengan takzim.

 

Penggalan lirik pada awal tulisan tadi juga menggambarkan perjuangan seseorang untuk mendapatkan dan menaklukan hati wanita idamannya. Tak berkutat hanya pada beberapa kata saja, juga menempatkan metafora metafora dan majas lainnya.


            “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”

            “percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang”


 

Lihatlah bagaimana penggunaan perumpamaan yang terdapat pada lirik tersebut. Sungguh mendalam. Bang Haji Rhoma sendiri paham bahwa hidup yang tak ada cintanya hanyalah taman yang tak berbunga, gersang layaknya hatimu itu. Hal-hal yang penuh sastra dan filosofis inilah yang menjadi nilai plus tersendiri dari dangdut. Satu sisi kita menikmati lagunya, satu sisi ilmu pengetahuan kita bertambah.


            “sesungguhnya diriku memang sudah janda;

             walaupun kau janda tetap kucinta”

            “buat apa banyak cinta, manisnya hanya di bibir saja”

            “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”


Kemudian ungkapan rasa syukur Mansyur S meski mengetahui wanita incarannya ternyata sudah janda yang dibawakan dengan genit oleh beliau. Tak ada keluhan sedikit pun, ia menerima bunda Elvy dengan segenap hatinya. Rasa sakit yang dirasakan dari patahnya hati juga tersampaikan dengan cemerlang. Kenapa harus ada yang namanya patah hati kalau patah gigi lebih manusiawi? Setidaknya patah gigi mungkin hanya kehilangan gigi, patah hati bisa bisa kehilangan motivasi hidup seperti kamu baru baru ini.


            “kau bagaikan Rahwana yang menculik Dewi Shinta dari tangan Sri Rama”

            “kalau saja aku tahu, Salamah itu namamu. Tak mungkin aku hadiri pesta perkawinan ini”


Lalu, cerita-cerita hidup para pesakitan juga dihadirkan lewat lirik yang mengena dan memang bagai sebuah kisah yang epic. Lagu dangdut kadang terlihat seperti sebuah kisah perjalanan hidup yang mewakili beberapa orang, khususnya yang tersakiti perasaannya. Kebanyakan berasal dari lagu dangdut keluaran dulu. Bahkan mayoritas yang mengaku era 90-an selalu saja membandingkan kualitas sebuah lagu yang diambil dari kedalaman liriknya dengan kualitas lagu sekarang. Meski tak dapat dipungkiri, rasanya mendengar lagu lagu lawas seperti mendengar sebuah kisah yang disampaikan dengan indah beriringi musik yang syahdu, juga memacu adrenalin seperti koplo.

 

Tak perlulah rasanya kebanyakan membandingkan kualitas lirik lagu dangdut dulu dan sekarang. Sekarang pun juga masih ada kok yang memiliki lirik lirik yang mendalam. Tetapi satu yang tak pernah pudar dari dangdut tentu saja keberwakilan kisah kisah hidup yang terukir dalam liriknya. Ngena banget.

 

Bersyukurlah karena ada genre dangdut yang muncul ke dunia ini. Jika tidak, kita mungkin tak akan menikmati berbagai hiburan dikala sedang makan soto di nikahah atau joget sambil mengikuti ketukan ajaib gendang. Cerita-cerita yang merakyat dan manusiawi hadir dalam bentuk dangdut. Liriknya mewakili orang orang yang ingin mencurahkan isi hatinya. Makanya mungkin itu pula alasan kenapa lagu dangdut banyak yang sedih. Tetapi meskipun liriknya sedih, dangdut selalu menghadirkan keceriaan. Daripada terperangkap kisah sedih terlalu lama, mari kita bernyanyi bersama.

 

            sayang opo kuwe krungu jerite atiku

            mengharap engkau kembali, sayang nganti memutih rambutku

            ra bakal luntur tresnoku

            EEEE AAAA EEEE OOOO

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya