Meskipun setiap kita pandai menulis, entah itu menulis catatan pelajaran, resep masakan, lirik lagu, ataupun status di sosial media, tapi hanya sedikit diantara kita yang kemudian menulis dengan kesungguhan dan tekad. Menulis dengan kesungguhan yang saya maksud disini adalah menulis dengan tujuan yang jelas dan menghasilkan karya. Ketika ditanya kenapa tidak menulis sebuah buku yang kemudian diterbitkan, maka banyak yang akan beralasan bahwa saya bukan penulis, menulis hanya hobi dan pengisi waktu luang, kalau diseriusi bingung harus memulai darimana, tidak punya modal untuk menerbitkan buku, tidak punya link ke penerbit bahkan banyak yang takut bukunya/tuisannya tidak laku di pasaran.

Kalau belum apa-apa kita sudah takut, lalu kapan waktunya bagi kita untuk menulis dan meninggalkan cerita ataupun ilmu pengetahuan untuk generasi mendatang? Tidakkah kamu menyadari kalau seandainya status-status galaumu di Facebook atau Instagram itu, jika dikumpulkan, tebalnya mungkin akan mencapai 100 halaman lebih, bukankah itu bisa dijadikan buku kumpulan quotes atau buku tips-tips move on dan sebagainya. Lalu jika seandainya tulisan-tulisan di buku diarymu, yang berisi curhatan seputar patah hati, persahabatan, kasih sayang orang tua dan lika-liku perkuliahan itu, jika dijadikan buku bisa menjadi sebuah novel atau kumpulan cerpen yang memikat. Belum lagi tugas kuliah yang kamu kerjakan dengan setengah menggerutu itu, jika diedit dan dispesifikasi keberbagai tema, bisa menjadi buku modul perkuliahan yang keren, apalagi kalau kamu tambahkan gambar atau ilustrasi tak biasa dari kreativitasmu.

Advertisement

Agar lebih bersemangat dalam menulis, kamu jangan berfokus pada hambatan yang ada ataupun bayaran yang nanti akan kamu dapatkan. Tapi kamu perlu berfokus pada tujuan kamu menulis. Maksudnya adalah, setiap kamu mau mulai menulis entah itu artikel ataupun buku, niatkanlah tulisan kamu itu bukan hanya untuk memenuhi hobi kamu, tapi juga untuk kebermanfaatan bagi orang banyak. Kamu menulis artikel tentang pemukiman kumuh di kotamu misalnya, niatkan supaya artikelmu itu bermanfaat bagi masyarakat di sekitar itu, dengan harapan pemerintah membaca berita tersebut kemudian melakukan berbagai hal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Jika kamu menulis cerpen atau novel, niatkan supaya orang-orang yang membacanya akan mendapatkan hikmah, pelajaran dan motivasi dari tulisanmu. Pun jika kamu menulis buku ilmiah/pelajaran, niatkan bahwa ilmu-ilmu yang kamu bagi di buku itu semoga dapat digunakan oleh orang lain dan memudahkan mereka dalam memahami ataupun melakukan banyak hal. Jika niat kamu menulis sudah benar sejak awal, maka percayalah, ketakutan-ketakutan kamu akan hilang digantikan dengan keyakinan dan semangat untuk terus menulis dan menginspirasi.

Teruslah menulis entah tulisanmu diterbitkan atau tidak sekalipun. Sebab kamu tidak pernah tahu, tulisanmu yang manakah yang pada akhirnya menyentuh hidup orang lain. Bisa jadi, cerpen yang kamu tulis 4 tahun yang lalu, menyelamatkan seseorang dari Drop Out dari kampus karena termotivasi kisah pantang menyerah dalam cerpenmu itu. Atau bisa jadi artikel tentang penyederhanaan rumus dari teori fisika yang rumit dalam buku kamu yang tidak laris dipasaran itu, justru menghantarkan seorang anak menjuarai olimpiade fisika internasional. Bisa jadi juga, buku resep masakan rumahan yang kamu tulis dalam sebuah buku yang tebalnya tak lebih dari 30 halaman itu, bisa menyelamatkan sepasang suami istri yang hampir bercerai karena sang istri yang tak pandai memasak. Bukankah menulis memang seajaib itu. jadi kamu tunggu apa lagi?

Ayo menulis dengan keyakinan dan tekad sejak hari ini. Masalah penerbit dan hal lainnya akan kamu temukan solusinya saat kamu sudah memiliki keyakinan tersebut. Bukankah jika kamu sudah bertekad untuk melakukan sesuatu, maka tak satupun tantangan yang tak bisa kamu hadapi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya