Suatu kebanggan tersendiri, setelah sehari dari hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang bertempat di Jakarta juga Palembang. Meskipun saya tidak bisa menyaksikan secara langsung perjuangan atlet-atlet yang bertanding, saya tetap mencari informasi dari teman-teman juga media sosial.

Apalagi waktu kemarin final bulutangkis tunggal putra yang mempertemukan antara Jonatan Christie dengan lawannya Chou Tien Chen. Yang sebelumnya mengalahkan sahabatnya Anthony Sinisuka Ginting di semifinal. Dikarenakan saya kerja dan tidak bisa menyaksikan lewat layar televisi, saya sampai menggunakan video call lewat teman saya di rumah. Dan dari 3 set pertandingan yang membuat jantung berdebar, akhirnya dimenangkan oleh Jonatan Christie. Saat itu saya teriak kegirangan di tempat kerja saking bangganya.

Advertisement

Saya sampai seperti ini karena saya salah satu orang yang sangat mengagumi sosok Jonatan Christie atau yang sering disapa Jojo ini.

Siapa sih yang tidak kenal dengan sosok Jonatan Christie, atlet kelahiran 15 September 1997 ini? Selain berprestasi, tampan, berbakat religius pula. Terbukti dia juga suka mengcover lagu bersama dengan atlet-atlet lainnya. Saya juga punya impian bisa bertemu dengannya juga mengcover lagu bersamanya.

Tapi sepertinya di sini ada satu hal yang harus kita renungkan bersama. Kemenangan Jojo ini pun tidak terlepas dari kegigihannya melawan dirinya sendiri. Dimana dia harus tetap berjuang di atas komentar-komentar netizen atau orang lain yang melemahkan dirinya juga kemampuannya.

Advertisement

Dari salah satu wawancara yang dilakukan Jojo dengan salah satu media rohani, saya mendapatkan banyak sekali pembelajaran dari perjuangan Jojo sebelum dia menjadi seperti ini. Dari pertandingan-pertandingan sebelumnya dia sempat merasa down, apalagi dengan komentar-komentar netizen yang bisa dibilang sangat keterlaluan.

Dalam cuplikan wawancaranya dia bilang seperti ini," Kenapa orang sudah berusaha matian-matian kok tidak dikritik yang memotivasi gitu? Di saat itu rasanya dunia serasa kiamat. Padahal masih ada kesempatan-kesempatan lagi."

Seperti halnya filosofi dari tebakan berikut ini: 1 + 1 = 2, 2 + 2 = 4, 3 + 3 = 6, 4 + 4 = 9. Apa yang kalian lihat? Pastinya jawaban yang terakhir dipermasalahkan. Padahal dari empat pertanyaaan hanya satu jawaban yang salah.

Kebaikan atau banyaknya prestasi yang kita capai rasanya tidak berarti bagi mereka, karena satu kesalahan saja. Demikian juga seperti yang dirasakan dan dialami oleh Jojo sendiri.

"Bahkan di saat menang, masih saja dihujat. Disitu saya meminta hikmat dari Tuhan. Saya juga meng-screenshot komentar-komentar mereka dan menyimpannya. Agar ketika di atas saya tidak terlena dan saat di bawah saya tidak merasa down," imbuhnya.

Dari apa yang dialami Jojo ini saya mengambil kesimpulan, bahkan atlet sehebat Jonatan Christie pun, masih saja ada yang tidak suka. Masih saja dicari-cari kesalahan juga kelemahannya.

Terkadang saya berpikir, mereka yang tidak suka terhadap kita, dicipta untuk membentuk kualitas diri kita. Selain hati kita yang nantinya bisa sekuat melebihi baja, juga kemampuan diri kita yang kan bersinar nantinya. Meskipun rasanya sangat menyakitkan. Karena harus dilebur dengan panas komentar yang begitu pedas.

Tetap bersabar dan berjuang serta andalkan Tuhan, sampai kemerdekaan dari netizen kita dapatkan.

Yo..yo..ayo.yo..ayo..yo.yo..ayo.. Tetap fokus kita kejar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya