Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V ‘merdeka’ merujuk kepada kata sifat (adjektiva), yang berarti bebas; berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

KBBI sangat jelas menuliskan arti kemerdekaan adalah kebebasan. Begitupun bagi saya merdeka adalah kebebasan yang hakiki. Bagi saya, merdeka adalah suatu kebebasan mutlak yang dimiliki oleh diri saya sendiri, yang mana saya boleh melakukan, bertindak, berkata, melangkah, membuat keputusan berdasarkan keinginan saya sendiri, tanpa ada paksaan ataupun tekanan. Namun, di satu sisi saya sadar kemerdekaan itu tidak merugikan, tidak melanggar norma maupun aturan, bahkan tidak memungkinkan saya untuk dipidana.

Advertisement

Di usia menjelang kepala tiga, saya sering sekali mendengar pertanyaan dan pernyataan dari rekan kerja saya sesama pengajar di sekolah mengenai status saya yang sampai detik ini belum menikah. Di awal saya merespon hanya dengan tersenyum.

Lama kelamaan saya mulai memberanikan diri dengan melontarkan beberapa kalimat sebagai alasan. Namun, lama kelamaan rekan kerja saya yang memang rata-rata sudah berkeluarga dan memiliki anak, menurut saya seperti memerintah, mengejek dan mencemooh. Atau kesannya lebih kepada memaksa. Sampai suatu saat seorang rekan kerja senior berkata kepada saya, namun dengan intonasi suara yang tinggi, kesannya seakan memerintah.

"Makanya, menikah kau. Biar enak hidupmu!"

Advertisement

Whaaatttt??

Saat itu, ingin rasanya marah dan membalasnya dengan nada tinggi juga. Saya tahan dan kemudian tersenyum. Agar manis wajahku tidak hilang. Di lain waktu, rekan kerja saya yang lain pernah meneriaki saya dengan pertanyaan (kala itu jam mengajar sudah selesai, dan para siswa melintasi kantor guru menuju gerbang) "Ehhh, Bet! Sini dulu. Kenapa lah kau ini uda tua masih jomblo aja??"

Astagaaaa!!! Teganya mengatakan demikian di depan para siswa yang berseliweran. Aku hanya diam. Dan sampai beberapa hari ke depan saya menjaga komunikasi dengannya.

Satu lagi contoh menyakitkan yang saya alami adalah, ketika saya pernah mem-posting salah satu foto saya di akun Facebook, dan seorang teman seangkatan waktu kuliah mengomentari demikian:
"Jd kok kae serasa mau pemberkatan gitu kau… udah lh, cepat la abg tu suruh ngantar sinamot, jangan sok cantik x anda… lagi zaman pelakor ini, mamak-mamak zaman now mulai nggak tenang kalau negok yang cantik-cantik belum nikah-nikah" (kira-kira maksudnya begini: "Seperti dirimu yang mau diberkati. Sudahlah, segera suruh kekasihmu mengantar mahar, jangan merasa kecantikan, Anda. Sekarang lagi musim ‘perebut laki orang’. Ibu-ibu resah kalau melihat perempuan yang cantik tapi tidak menikah-menikah

Ini lebih pedih lagi saya rasa. Demi menjaga silaturahmi, saya tidak membalas komentar yang memedihkan hati.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, "Apa yang salah dengan sendiri atau single? Apakah single itu suatu kehinaan? Atau, apakah belum menikah itu merupakan suatu aib buruk? Saya bebas kan untuk memilih jalan hidup saya? Saya heran, mengapa mereka seakan lebih tahu mengenai diri saya secara personal? Seakan mereka adalah tuhan yang tahu segala isi hati saya? "

Saya memiliki kebebasan untuk memberikan alasan kepada mereka, ‘mengapa saya sendiri dan mengapa saya belum menikah?’ Saya tidak harus membeberkan panjang kali lebar segala masa lalu saya, semua trauma yang saya alami dalam hal asmara. ITU ADALAH HAK SAYA!!!

Orang tua saya, tidak pernah berkata seperti itu pada saya. Lantas, Anda siapa berkata demikian pada saya? Melihat saya bisa bekerja, mandiri, dan bahagia dengan keseharian yang saya jalani itu adalah hal yang menyenangkan bagi orang tua saya.

Meskipun saya tahu, besar keinginan orang tua saya agar saya memiliki pasangan dan menikah. Namun, orang tua saya tahu dan sadar betul bahwa saya adalah puteri bungsunya yang sangat tidak suka disudutkan dan dipaksa-paksa. Orang tua saya membiarkan saya untuk benar-benar siap meninggalkan kesendirian. Ia tahu, apa yang terbaik bagi saya.

Sebagai pihak yang sudah berkeluarga, justru saya rasa kalian harusnya bisa berkata dan bersikap jauh lebih dewasa dari pada saya. Bukan malah mengejek atau mencemooh saya. Mungkin menurut kalian itu hanya candaan belaka. Iya, itu candaan. Candaan yang menyakitkan.

Indonesia merdeka, maka masyarakyatnya pun harus merdeka. Entah itu seorang ibu rumah tangga, seorang janda, seorang pendeta, bahkan seorang guru ‘jomblo’ seperti saya ini. Saya berhak untuk merdeka menjalani pekerjaan saya dengan tenang, merdeka menikmati kesendirian saya dan merdeka menjalani hidup ini.

Tanpa ada tekanan, sindiran, ejekan ataupun cemooh yang tidak memikirkan bagaimana perasaan orang yang dicemooh. #MerdekaTapi: Masih Dicemooh Karena Belum Menikah, SUDAH NGGAK ZAMAN!!!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya