Terkadang cinta tidak pernah untuk satu. Wahai hati yang kedua, selamanya kau akan menjadi yang paling perih. Kamu, yang matanya menatap artikel ini, yang hatinya tengah membaca dan merasa, pernahkah menjadi yang kedua? Kamu yang membaca ini pasti berpikir, bahwa aku, yang menulis ini sekarang ada di posisi itu. Ya, kamu benar.

Layaknya lirik lagu Govinda berjudul Simpananku “kamu menjadi yang harus mengalah”. Mengalah yang tidak berujung, rasa remuk hati dan tetesan air mata yang entah kapan berakhir. Kamu tahu sebenarnya yang kedua itu pilu, semesta pun akan mengutuk kenapa kamu mau di posisi itu. Celaan pun akan mengalir kamu dengar. Logika dan hatimu akan selalu perang tanpa tahu bagaimana semestinya tapi sebelumnya, tolong bantu aku menjawab pertanyaan ini. Bisakah kau membohongi rasa hati?

Advertisement

Saat hatiku terpaut padanya yang telah termiliki wanita lain, tak bisa aku elakkan bahwa cinta telah tertahta di dua hati yang tidak pasti. Saat aku jadi yang kedua, saat aku lupa posisi bahwa semesta tengah mengutuk, saat itu pula rasanya cinta yang aku rasa sepenuhnya untukku. Sayang dan perhatian yang aku rasa darinya telah memberi energi bahagia untuk jiwaku.

Dia seperti benteng yang siap menahan saat aku jatuh tersungkur. Saat aku dan dia memiliki satu rasa sakit yang sama, dan kita saling menguatkan dengan penuh kasih sayang, saat itu rasanya hati berdesir seraya berkata

you are the only one.

Advertisement

Waktu berjalan semakin panjang dan dia (yang sebenarnya termiliki wanita lain) semakin terpahat dalam di hatiku. Dulu, sebelum mengenalmu aku terbiasa dengan sepi, aku kuat dan mandiri mengerjakan segala sesuatu walau sendiri, aku bisa menciptakan segala sesuatu yang produktif dan membahagiakan. Tapi setelah kau datang, dan kala kamu jauh tidak bersamaku, saat itu aku merasa sepi tak bersahabat, saat itu rasanya sepi terasa sakit.

Saat itu aku benar-benar merasa sangat membutuhkanmu. Kamu menjadi orang yang selalu aku cari saat tidak di sisi, namamu yang aku harapkan ada di display saat handphone berbunyi dan kamu yang aku harapkan ada di samping saat aku duduk sendiri. Tuhan, bagaimana mungkin aku sebegininya dengan dia (yang sebenarnya termiliki oleh wanita lain).

Tuhan, hatiku terasa sakit.

Akan aku lanjutkan uraian kalimat lirihnya hati yang kedua. Rasanya aku terguncang waktu nama wanitamu disebut saat kita lagi berkumpul dengan teman lainnya. Aku mengutuk dan menyumpahmu saat aku tahu kamu menghampiri wanitamu. Jujur aku cemburu. Dan aku coba untuk menutup mata namun ternyata menutup mata adalah cara yang di miliki cemburu untuk menusukku, lebih sakit.

Aku menahan air mata saat kamu salah sebut namaku dengan namanya, walau genggaman tangan itu menyusul tanda maaf. Dalam posisi seperti ini hatiku selalu berkata “tolong selamatkan aku.” Kasih, bahagia bersamamu setara dengan rasa sakit yang menyayat hati ini. Entah sampai kapan, kasih.

Aku dan kamu akan tetap menjadi rahasia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya