Curhatan Seorang Fresh Graduate: Ingin Cepet Merasakan Dunia Kerja, tapi Apa Daya Gegara Corona

curhatan fresh graduate


“Hi, beberapa bulan yang lalu aku baru aja menyandang gelar fresh graduate. Tadinya aku udah punya banyak rencana mau apply ke perusahaan mana aja, tapi melihat kondisi kayak gini jadi bikin semangat ku turun. Perusahaan banyak yang melakukan freeze hiring, PHK massal. Banyak orang yang bilang lulus tahun ini bakalan susah dapat kerja. Sedih sih, tapi mau gimana lagi. Semoga semuanya segera membaik.”


Advertisement

Itu adalah salah satu bentuk curhatan seseorang yang aku temuin di media sosial. Sebagai sesama fresh graduate, pastinya hatiku bisa ikut merasakan apa yang orang ini rasakan. Takut, khawatir, bingung, sedih, marah, kecewa, semuanya jadi satu. Aku ingat banget waktu itu bulan Maret 2020, virus Corona (Covid-19) dikonfirmasi masuk Indonesia.

Sejak itu juga keadaan semakin parah sehingga pemerintah mengambil kebijakan untuk membatasi mobilitas di Indonesia. Kegiatan sekolah, kuliah, bahkan kerja dilakukan dari rumah atau lebih dikenal dengan work from home. Enggak cuma itu aja, banyak aktivitas yang terhambat seperti pelaksanaan ujian nasional, SBMPTN, seminar, dan sidang skripsi, wisuda bahkan proses rekruitmen karyawan baru juga di freeze atau yang terburuk tahun ini bagi kami para fresh graduate adalah zero reqruitment.

Di lain sisi, memang tidak bisa menyalahkan perusahaan atau pihak manapun yang tidak membuka lowongan pekerjaan, semua karena kondisi yang tidak memungkinkan mereka melakukan itu. Jangankan buka lowongan pekerjaan, mempertahankan semua karyawan saja perusahaan sudah kewalahan, sehingga PHK atau pemangkasan gaji adalah jalan yang harus mereka tempuh demi mempertahankan eksistensi perusahaan di tengah badai virus Corona ini.

Padahal di luar sana banyak fresh graduate yang berharap setelah lulus, mereka bisa langsung bekerja di perusahaan impian masing-masing. Tapi mau memaksa pun, enggak bisa. Memang udah kayak begini keadaannya. Bukan cuma di Indonesia, tapi seluruh dunia juga ikut merasakannya.


"Dalam kondisi kayak gini, kita harus tetap jaga pikiran supaya tetap positif"


Advertisement

Banyak banget kata-kata begini yang bertebaran di media sosial. Niat orang yang menyebarkan kata-kata ini baik, tapi kalau terus-terusan diucapkan malah kesannya jadi kayak Toxic Positivity. Kita jadi mengabaikan segala bentuk emosi negatif yang hadir di dalam hati. Setiap emosi negatif itu hadir, selalu ditepis dengan “Semua akan baik-baik saja, tetap berpikir positif”.

Emang sih kondisi penuh ketidakpastian begini menciptakan rasa frustasi, stress, bahkan sampai depresi. Tapi ya mau gimana lagi? Mau menyangkal sekeras apapun tetap enggak bakalan mengubah keadaan. Daripada memfokuskan pikiran dengan hal-hal yang di luar kuasa kita sebagai manusia misalnya mikirin nasib masa depan kita yang belum jelas, mendingan kita mikirin yang memang sesuai dengan porsi kita misalnya, gimana caranya memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baik mungkin. Nasib masa depan mah, itu urusan Tuhan bukan manusia.

Untuk fresh graduate, ini waktunya buat kita memperdalam ilmu-ilmu yang udah kita dapatkan semasa duduk di bangku kuliah. Menguji seberapa paham kita sama teori yang udah diajarin, apakah nilai atau IPK yang kita dapatkan itu berbanding lurus dengan pemahaman kita? Atau justru nilai bagus, tapi pemahaman masih cetek? 

Selain itu, kita juga perlu menambah skill  yang lain. Ingat, setelah pandemi ini berakhir, kondisi mulai membaik, perusahaan mulai open rekruitmen, saingan kita di dunia kerja bukan cuma teman satu angkatan, senior, atau junior kita lagi, tapi kita bakalan bersaing dengan mereka-mereka yang kena PHK. Soal kemampuan dan pengalaman, jangan diragukan lagi. Udah pasti mereka lebih jago dari kulit sampai ke isi dalam-dalamnya. Dari sini, udah tau kan perusahaan bakalan lebih milih yang mana? Makanya, kita jangan mau kalah.

Berterimakasih lah kita hidup di era semua serba digital, ilmu pengetahuan mudah untuk diakses, udah enggak ada lagi alasan buat susah belajar. Tinggal buka youtube, atau platform lain untuk mengasah kemampuan atau belajar kemampuan yang baru. Atau bisa juga ikut kursus online yang sekarang ini lagi menjamur.

Buat yang suka menulis, asah terus kemampuan menulis sampai enggak sadar kalau ternyata udah expert banget. Publikasiin tulisan di media online, bisa di Hipwee, Kompasiana, Idn times, atau yang lainnya. Siapa tau nanti bisa jadi copywriter, content writer, editor bahkan penulis yang bisa menerbitkan buku setelah pandemi ini berakhir. 

Buat yang tertarik dengan dunia perdigitalan juga sama. Asah terus, perdalamin lagi dunia seputaran ini. Enggak menutup kemungkinan keahlian ini bakalan banyak banget dicari oleh perusahaan. Mungkin perusahaan akan merekrut sebagai SEO specialist, SEM, Digital Marketing, Social Media Specialist, dan masih banyak lagi pekerjaan dibidang ini. 

Kita nggak pernah tau kapan keadaan ini akan berakhir, kapan virus corona ini bakalan enyah dari muka bumi. Tugas kita hanyalah mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang bakalan terjadi di masa depan. Suka atau enggak, kenyataannya memang seperti ini keadaan yang kita hadapi. Menjadi fresh graduate di tengah pandemi virus corona jadi tantangan tersendiri, tapi ini bakalan jadi salah satu catatan dalam sejarah hidup kita.

Mungkin sekarang kita menangis, tapi setelah ini berakhir kita bakalan tersenyum bahkan tertawa. Jangan merasa hidup kalian yang paling apes, di luar sana banyak kok yang senasib, atau bahkan lebih apes lagi. Yang penting diingat kalian enggak merasakannya sendiri kok, ada jutaan fresh graduate yang merasakan hal yang sama di seluruh dunia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre

CLOSE