Deras hujan meneduhkan petangku kali ini. Sudah seminggu!

Kutebak dedaunan bersorak dijatuhi air langit itu. Sementara beberapa hati manusia sedang bahagia-bahagianya. Adapula yang sesak diremas kenangan.

Advertisement

 

Tampaknya suasana natal tiba. Sejuknya udara merasuki seluruh dadaku. Seolah mengembang dan mengempis sendiri tanpa bantuan alat.

Ah, satu hal sederhana yang kucintai dari ciptaan Tuhan; hujan.
Aroma debu basah yang paling kuat bekerja menarik kenangan.

Advertisement

Memori natal penuh warna merah hijau dan penuh sukacita. Semua hal yang kini berputar di dunia khayalku. Mustahil untuk bisa kudapatkan lagi.

 

Ini tahun ketiga aku berada dis ini. Walau terasing dari hiruk-pikuk kota, masih kurasakan pujian-pujian natal menggema di telingaku. Tidak mampu kuhadiri perayaan natal seperti anak-anak sekolah minggu yang lain, tetapi hatiku tetap merasakan limpahan sukacitanya.

 

Ada satu yang paling penting. Tidak kudengar, tidak kulihat, dan tidak kurasakan kehadiran ayah di sampingku. Tetapi aku bersyukur ia masih mengingatku. Walau sebenarnya aku tidak yakin. Cukup dua tahun kakek saja yang mengatakan kalimat berharga itu di telingaku.

 

Di ruang perawatan anak sebuah rumah sakit di pusat kota, aku menceritakan ini semua. Entahlah ini sudah tanggal, bulan, dan tahun berapa. Mesin rumah sakit masih setia berada di hidungku, di mulutku, di dadaku, dimana lagi? Hanya itu yang kusadari. Coba tanyakan kakek lebih jelasnya. Sejak penyakit ini melumpuhkan dan menghancurkan segala impianku, kakek saja yang setia menjagaku.

 

Jika masih bersekolah aku pasti sudah di kelas 1 SMP. Aku anak di bawah umur yang masih mendewakan kado dihari natal. Kado dari Juruselamatku yang dititipkan ke Santa Claus dan disodorkan kepadaku. Hanya saja sejak terbaring bertahun-tahun, santa claus tampaknya selalu datang dengan tangan kosong.

Tahun lalu aku melihat ibu datang bersama bayangan putih.
Hanya saja mulutku sudah tak mampu menceritakannya pada ayah.

Kau ingin tahu apa saja permintaanku? Tiga tahun lalu aku meminta ayah mengeluarkanku dari rumah sakit. Tahun kedua aku meminta ayah menghapus kanker darah yang aku rasakan serta meminta ayah datang menengokku.

 

Tahun ini, sebenarnya aku takut mengatakannya. Mulai dari awal Desember tahun lalu, saat mataku masih sanggup terbuka aku mengisyaratkan kakek untuk memutarkan musik natal dari telepon genggamnya.

 

Jemari hangat dan telah berusia itu membelai kepalaku yang tak berambut lagi dengan lembut. Kakek pun bercerita bak guru sekolah minggu yang menceritakan tentang bayi, kandang domba, gembala, bintang, Maria, Yusuf, dan segala macam halnya.

 

Walau dalam kondisi koma, kakek tetap memperlakukanku seperti cucunya yang sehat, baik, dan tak bercacat. Namun semakin berjalan cerita air mataku menetes. Kurasakan air itu membasahi kedua sudut mataku hingga berjalan sampai kelopak telingaku.

 

“Adriel… kenapa menangis nak?” Kudengar kakek tersentak di sisi kananku.

 

Aku hanya berbaring diam namun tak mampu menahan air mata. Aku hanya ingin keluarga di sisiku merasakan suasana natal ini. Mengapa dokter dan suster yang lebih menyayangiku dibanding ayahku? Aku merindukan ayah.

 

Kudengar suasana riuh di sekitarku. Kurasakan monitor berbunyi kencang lebih dari biasanya. Seharusnya aku tersentak. Namun yang terjadi malah sebagian jiwaku perlahan meninggalkan tubuhku. Kudengar kakek memanggil-manggil dokter dan suster.

 

Sayangnya itupun digoncangkannya tubuhku hingga kurasakan paru-paru serta jantungku bersikeras untuk kembali bekerja.ak berpengaruh. Jantungku yang kurasakan melemah sedang ditekan kuat dari atas dadaku. Seluruh badanku yang dulunya kesakitan kini telah mati rasa. Ingin sekali lagi kugerakkan untuk terakhir kalinya. Apa daya rasanya sangat berat, kaku, dan dingin.

 

“BVM, suntik…” dan apapun itu yang mereka teriakkan aku tak mengerti. Yang aku sadari sekarang apakah hadiah natal yang kuminta sedang terkabul?

 “Aku meminta Tuhan membawaku pergi, itu saja permintaanku di hari natal”

***

Aku anak ayah yang sangat cinta suasana natal kini telah berakhir. Aku berdiri di sebelah ranjangku. Kulihat dadaku masih ditekan-tekan oleh dokter, kemudian diberikan masker oksigen oleh suster. Kakek kulihat sedang menangis di samping pohon natal. Yang jelas-jelas kulihat kalender masih bulan November.

 

Aku keluar sebentar dan melihat suster sedang menelpon. Kudekati demi mendengar suara ayahku dari balik telepon. Aku berhenti setelah menyadari semuanya.

 

“Selamat natal ayah, malaikat kecilmu sudah bahagia. Semua kado natalku selama tiga tahun di rumah sakit sudah terkabul. Hati-hati di jalan, semoga tiba disini dengan selamat. Bawa aku dengan aman dan tidurkan petiku di samping ibu. Aku menyayangimu, Ayah.”

Aku berjalan ringan ke ruangan rumah sakit. Sambil tersenyum dan memeluk kakek yang  kini terkujur kaku di sudut ruangan. Sangat lama wajah keriputnya itu baru kulihat.

 

Pria tua yang ternyata sudah membohongiku dengan lagu natal. Musik natal itupun masih kudengar berbunyi dari benda kotak yang ia simpan di saku celananya.

Ah… kakek aku mencintaimu! Natal di bulan November bersamamu adalah sejarah terakhir yang terpatri di memoriku menuju kepergian kekal ini. Semoga lelahmu berakhir setelah kehilangan ini.Jangan terlalu larut dalam kesedihan kek!

Kukecup keningnya dan beranjak pergi mengikuti bayangan putih yang sejak tadi menungguku di balik pintu. Bayangan yang nyatanya lebih sering mengunjungiku sejak seminggu kemarin. Tepat saat hujan turun membasahi jiwaku yang hampir kering. Aku pun pergi.

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya