Masih segar dalam ingatanku tentang dirimu. Tentang kamu yang membuat kedua mataku tak berhenti memandangimu. Menari bahagia dalam rasa yang entah harus aku sebut itu apa.

Tentang kamu, yang membuat denyut nadiku bekerja lebih cepat dari biasanya. Mencipta hela nafas tak terkira, yang perlahan menuntunku pada sebuah ungkapan, cinta. Ya, aku sebut ini cinta. Perasaan yang datang tiba-tiba, lalu perlahan menciptakan bahagia dalam jiwa, yang kini bermetamorfosis menjadi candu yang begitu nyata.

Advertisement

Kala itu, sayang. Ya, enam tahun yang lalu. Yang begitu bangga mengaku ini cinta, padahal kita baru lulus SMA. Kau pun masih ingat betul, bukan? Enam tahun lalu kita mengawali semuanya. Menulis kisah, meramu rasa, dan menciptakan kidung indah yang selama ini mengiringi lembaran perjalanan yang erat kita lalui bersama.

Terima kasih sayang, yang tak pernah lelah berjalan meski terkadang tersandung bebatuan jalanan, yang tetap tegar pada tujuan perjalanan kita yang cukup menyita waktu dan melelahkan. Terima kasih sayang, meskipun kerap kubuat rapuh, tapi rasa dan jiwamu tetap terjaga dan terkayuh.


Sayang, tawamu adalah candu, yang laun bermuara menjadi rindu. Senyummu juga bahagiaku, alasanku bersemangat tanpa ragu. Sedang bahagiamu adalah surga, selalu mampu menyamarkan perasaan yang kerap melara.


Advertisement


Mungkin bagi dunia, kamu hanyalah seorang biasa. Tapi bagiku, kau adalah dunia dan surga yang begitu nyata di depan mata.


Maka izinkanlah aku menyudahi perjalanan panjang ini. Aku rasa lelah jika terus berjalan pada jalan ini. Kau tahu, tidak ada perayaan yang lebih pantas untuk perjuangan kita, selain sebuah pernikahan. Dan aku akan menikahimu. Dengan begitu, aku yakin arah perjuangan cinta kita akan semakin nyata dan kuat. Kita akan semakin mantap menata kehidupan jika dilalui dengan ikatan yang sah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya