Aku butuh kamu, sungguh. Aku yakin ini bukan ingin saja, ini kebutuhan.
Kamu harus ada, lihat saja Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.

Tak berhakkah aku mengetahu kabarmu?
Semenit saja barang kali atau melihat senyummu sebentar saja.
Bukan untuk yang terakhir kali tapi untuk belajar mengikhlaskan kamu yang akan segera aku usaikan.

Advertisement

Kamu pernah merasakan perpisahan yang belum usai?
Sakit bukan?
Jika dikhianati atau mungkin diselingkuhi, ditinggalkan karena sudah tak cinta lagi lalu mendapatkan seseorang yang baru.
Akan terasa menyakitkan bukan?

Bisa jadi kamu tidak bisa makan seharian, menangis hingga matamu membengkak, tapi semuanya sudah usai bukan?
Semuanya sudah usai karena dia berkhianat, meninggalkanmu demi yang lain.
Kamu akan menangis seminggu, sebulan, atau berbulan-bulan.
Lalu bertemu dengan seseorang lagi, menjalani hal baru dan melupakan yang telah usai.

Berterimakasihlah karena kamu telah dijauhkan dari orang yang salah untuk menemukan yang benar.
Apakah kamu pernah merasakan perpisahan yang belum usai?
Di saat kamu harus memutuskan memilih jalan yang bukan tujuanmu, dan meninggalkan genangan darah segar di jalan tujuanmu.

Advertisement

Sungguh perpisahan itu belum usai, sayang.
Aku masih hidup namum tak berhati.
Aku masih tersenyum namun tak bernyali.
Aku tertidur namun tak bermimpi.

Seminggu, sebulan, setahun bahkan sudah kulalui.
Berdoa untuk kebahagiaanmu dengan orang lain, terkabul, lalu tersayat lagi.
Terkabul lalu menganga lagi.

Saat aku bersama yang lain, aku tak berhati sayang, sudah lenyap.
Karena aku masih rumah yang sama yang menunggu penghuni yang sama.
Perpisahan itu belum usai, meskipun telah usang.

Dan sekarang aku rindu.
Kamu masih sama dengan yang dulu, bukan?
Mencintai aku dengan setulus hatimu dan akupun begitu.

Aku rindu pertengkaran kita yang selalu diakhiri dengan pelukan.
Aku rindu pertikaian kita yang disebabkan oleh rindu yang tak terbendung berharap segera bertemu.
Aku rindu senyumanmu disaat aku menangis.
Aku rindu tawa lepas kita meskipun kantong menipis.
Aku rindu mencari senja setiap sore dan mengutuk hujan karena mencegah senja datang.
Aku rindu makan siang, makan malam, sarapan sampai bingung menentukan dimana kita akan berhenti.
Aku rindu mengajakmu bersujud atau menyindirmu karena lupa bertakbir.
Aku rindu berada di tempat kita selalu bertemu karena rumahku tak menerima tamu apalagi kamu.
Aku rindu keluargamu yang selalu memberikan aku kasih tulus.
Aku rindu kita, bukan aku dan kamu seperti sekarang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya