Di Timeline Facebook saya sempat lihat ada teman yang post gambar seorang Ibu pengendara Gojek yang babak belur. Pada gambar tersebut tertulis bahwa kejadian itu diakibatkan karena si Ibu dipukuli oleh ojek pangkalan yang ada di Warung Buncit.

Dalam waktu cepat makian dan kutukan meluncur sebagai komentar atas gambar tersebut. Tentunya yang jadi sasaran amarah adalah para ojek pangkalan, mereka dikatakan seperti preman, kasar, tidak tahu etika, dan lain-lain.

Advertisement

Selang beberapa saat kemudian, seorang teman lainnya memposting gambar seorang pengguna twitter yang menanyakan langsung kondisi Ibu Gojek yang babak belur. Dari pihak Gojek membalas melalui twitter bahwa si Ibu babak belur karena kecelakaan di daerah fly over Tanah Abang. Jadi babak belurnya bukan karena dipukuli oleh tukang ojek pangkalan.

Nah! Yang jadi masalah para pengguna medsos sudah terlanjur menjelek-jelekkan pihak lain (dalam hal ini para tukang ojek pangkalan). Benar-benar sesuatu yang tidak adil bukan?

Bagaimana kalau para pembaca ada dalam posisi tukang ojek pangkalan? disalah-salahkan tanpa sebab yang jelas. Yang pasti nama baik berantakan, pengguna ojek pangkalan makin surut karena pemberitaan yang tidak berimbang seperti yang terjadi pada gambar Ibu Gojek babak belur.

Advertisement

Kasus ini hanya contoh kecil dari mudahnya orang men share artikel atau gambar di media sosial tanpa menyelidiki lebih dulu kasusnya seperti apa. Atau benarkah ada kejadian seperti itu? Selain gambar Ibu Gojek, sering juga beredar gambar lain yang lebih sensitif, seperti gambar rumah ibadah yang terbakar.

Padahal setelah ditelusuri yang ada di gambar adalah rumah ibadah yang kebakaran di Amerika Serikat, sementara pada kejadian sebenarnya pembakaran masih berhasil dipadamkan dan tidak membuat kerusakan seperti yang ada di gambar.

Jangan sampai ulah kita melakukan share tanpa berpikir panjang malah jadi merugikan orang lain. Yang lebih buruk lagi malah menjadi provokasi bagi satu kelompok atau golongan untuk membenci kelompok lainnya.

Selidiki dulu dengan cara bertanya langsung pada sumber. Atau bila kejadiannya jauh bisa tanyakan pada teman atau saudara yang tinggal di dekat wilayah kejadian. Misalnya benar tidak sih di daerah X ada kerusuhan?

Selain itu bisa juga kita memanfaatkan pencarian di internet mengenai berita terkait. Bila berita kejadian dimuat pada web yang valid (punya alamat redaksi yang jelas, berskala daerah-nasional, penulisan berimbang) barulah kita bisa mempercayai memang kejadian tersebut benar adanya.

Bagaimana kalau kita tidak mendapat kepastian mengenai kejadian itu?

Menurut saya kalau masih merasa ragu, sebaiknya jangan ditanggapi. Buat apa menyebarluaskan sesuatu, tetapi kita tidak tahu hal itu benar terjadi atau tidak.

Semoga kasus gambar Ibu Gojek babak belur bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, agar lebih bijaksana dalam menyikapi suatu gambar, peristiwa atau berita yang beredar di media sosial.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya