Quarter Life Crisis, Masa-masa yang Mau Tidak Mau Mesti Kamu Lewati

Insecure.

Pesimis.

Merasa tidak berguna.

Kehilangan arah atau semakin bingung dengan tujuan hidup.

Hal-hal di atas pastinya pernah atau sedang kamu alami. Bukan hal yang aneh pikiran-pikiran seperti itu makin sering muncul di benak kepala. Pencarian jati diri tidak pernah melalui jalan yang mulus, ia selalu memilih jalan yang terjal dan berliku agar kita paham bagaimana pentingnya makna sebuah proses dalam hidup.

Masa-masa genting ini terjadi biasanya ketika seseorang menginjak usia 20-an. Fase baru yang menyadarkan kita bahwa kita bukan lagi anak sekolah ingusan kemarin sore yang masih asyik bermain layangan di lapangan sepulang sekolah, tanpa perlu capek-capek memikirkan bagaimana kehidupan esok hari.

Usia 20-an seolah menjadi gerbang awal untuk orang-orang dalam menentukan bagaimana arah hidup yang ingin mereka jalani. Jadi wajar saja apabila jalan tersebut tidak selamanya mulus, karena ini pertama kalinya kita hidup dengan keputusan mandiri, yang lebih leluasa menentukan setiap langkahnya.

Trial and error masih sering terjadi, dan wajar juga apabila hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tidak ada sesuatu hal di dunia ini yang terjadi secara tiba-tiba tanpa proses, mie instan saja yang katanya ‘instan’ masih harus kita olah dulu sebelum disajikan, kan?

Fase ini semakin berat tatkala kita melihat bagaimana proses hidup orang lain, kelihatannya jalan yang mereka lalui sangat mulus ibarat kata mereka hampir sampai di garis finish kesuksesan. Hampir semua orang mengalami hal ini, rumput tetangga selalu tampak lebih indah.

Jika kamu hanya terus melihat bagaimana kesuksesan orang lain dan berusaha mengejar agar menyamai, kamu memilih jalan yang salah. Ritme hidup setiap berbeda-beda, karenanya apa yang dilakukan orang lain belum tentu cocok bila kamu yang melakukan.

Sejalan dengan hal itu, pasti kamu juga merasa hidupmu tidak lebih beruntung ketimbang teman-teman sebaya lainnya. Gak masalah, ada ribuan orang di luar sana yang punya permasalahan yang sama, kamu gak sendirian.

Tapi mungkin saja situasi berubah memburuk saat kamu berada di kondisi terburuk. Entah karena tentangan keluarga sampai kamu harus mengorbankan impianmu, kondisi ekonomi yang mengharuskanmu mau tidak mau melepas segala keinginan demi membantu keluarga, lingkungan yang tidak sehat yang membuatmu terus menerus tersiksa, atau faktor-faktor lainnya yang kamu rasakan.

Bohong kalau kita semua tidak tersiksa di fase-fase seperti ini. Bohong kalau kita beralasan tidak pernah menangis akan kejamnya kehidupan, makin bohong lagi kalau kita mengatakan kita sedang baik-baik saja.

Kamu gak perlu menutup-nutupi kok, kalau sedang penuh dan jenuh luapkan saja. Kamu manusia biasa, bukan superhero dengan seribu kekuatan supernya. Dalam realita kehidupan, suka tidak suka kamu harus menghadapi segalanya.

Mau kamu meloncat, berlari sejauh apapun, pasti kamu akan menghadapi situasi yang sama. Jadi hadapi dengan segala kemampuanmu, kalau hasilnya buruk jadikan pembelajaran dalam proses hidup, kalau hasilnya baik kamu patut bersyukur. Saat kamu mencapai titik stabil versi hidupmu, kamu pasti akan tersenyum dan bangga dengan dirimu sendiri karena telah kuat dan gigih menghadapi kerasnya dunia.

Berucap memang lebih mudah ketimbang saat melakukannya. Tapi tetap ingat, cari dan atur irama hidupmu sendiri, buat patokan pencapaian hidupmu sendiri. Jadikanlah kesuksesan seseorang sebagai salah satu motivasi untukmu, bukan untuk berlomba-lomba siapa dulu yang mencapai titik kesuksesan paling keren.

Kamu berhak dan layak memperjuangkan hidupmu untuk menjadi lebih baik. Buatlah arti kesuksesan versi kamu sendiri ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Hasna Fadhilah merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi yang mengambil konsentrasi Public Relations, namun juga menggeluti bidang jurnalistik dan senang menulis dan menonton film.