#RamadandiPerantauan Tidak Ada Tempat Seperti di Rumah

Tidak Ada Tempat Seperti di Rumah

Kadang aku iri dengan teman- teman yang di media sosialnya mengeluh tentang ditanya: “Kapan lulus?” atau “Kapan menikah?” atau “Kapan punya anak?” ketika mereka sedang berkumpul bersama keluarga saat Ramadhan. Pertanyaan yang menjengkelkan, aku setuju. Tapi di waktu yang sama, pertanyaan ini diiringi kebersamaan dengan orang- orang yang disayangi. Aku tumbuh di keluarga Kristen yang tidak pernah absen merayakan Ramadhan bersama keluarga besar dan tetangga. Aku sangat menyukai kebersamaan itu, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan tadi. Seiring dengan bertambah dewasanya aku, aku menyadari sedikit perubahan tentang apa yang aku rasakan mengenai moment Ramadhan: mengasyikkan saat aku kecil dan sangat menyejukkan saat aku sudah dewasa.

Advertisement

Ada sedikit nostalgia tentang suasana rumahku dimana aku dan saudara- saudaraku akan bangun pagi, mendatangi orang tua kami dan mulai nodong salam tempel! Tapi ada satu saat dimana kami sadar bahwa orangtua kami sudah tua, lelah, dan tahun- tahun tersebut adalah tahun dimana kami membuat banyak ulah. Aku mendatangi orang tuaku pagi itu, bukan untuk salam tempel, tapi aku memeluk mereka dan mencoba untuk mengatakan maaf. Satu kata itu saja sulit sekali untuk aku katakan dengan jelas karena kami sudah menangis ketika berpelukan. Tapi aku tahu bahwa saat itu perasaanku tersampaikan dan bahwa Ayah dan Ibuku sudah lama mengampuni segala ulahku jauh sebelum aku meminta maaf. 

Jejak perantauanku dimulai sejak tahun 2016, tentu saja tidak mudah untuk ibuku yang selalu ingin memastikan bahwa aku baik- baik saja, bahwa aku tidak lupa makan, bahwa aku tetap bisa beristirahat setelah lelah bekerja, dan bahwa- bahwa lainnya. Apa yang aku sadari adalah, ibu dan ayahku mencintai aku lebih dari mereka mencintai diri mereka sendiri. Jadi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulit ibuku melepaskan aku untuk merantau. Ayahku? Tentu saja khawatir dengan pilihanku untuk jauh dari mereka, tapi yang namanya ayah, beliau menyembunyikan kegelisahannya dan hanya menunjukkan bahwa beliau percaya dengan keputusanku sepenuhnya dan bahwa aku sudah cukup mandiri untuk hidup jauh dari orang- orang terdekatku.

Teringat saat aku tinggal di Tulamben, Bali, di waktu Gunung Agung sering sekali meletus kecil- kecilan dan beberapa gempa yang saat itu melanda Lombok dan terasa sampai tempat aku tinggal. Di setiap kejadian dan berita di TV menyiarkannya, ibu akan langsung meminta ayahku menelponku (iya, ibuku adalah satu diantara segelintir orang yang tidak paham bagaimana cara menggunakan ponsel). Ketika aku mengangkat telpon, beliau terlihat sedikit lega dan aku pasti langsung diberondong dengan berbagai macam pertanyaan seperti: “apa kamu baik- baik saja?”; “tempatmu bagaimana?”; “benar- benar tidak apa- apa?”. Lalu ayahku akan ikut nimbrung dan menyarankanku untuk tetap berada di zona aman. Tidak jarang, ketika hal- hal seperti ini terjadi, ayahku menyelipkan kata: “kalau nggak aman, pulang dulu saja nggak papa”.

Advertisement

Lebaran tahun ini tidak jauh beda dengan lebaran-lebaranku selama empat tahun ini. Aku bekerja di bidang pariwisata, di mana ketika ada public holiday, di situlah aku stand by. Satu- satunya perbedaan lebaran kali ini adalah rasa cemas karena orang tuaku tinggal di Jawa dan banyak sekali pemudik yang baru saja datang.  Apa yang aku rasakan pasti tidak sebanding dengan apa yang Ibu dan Ayahku rasakan ketika mereka merasa khawatir terhadapku. Tapi rasa ini saja sudah cukup untuk membuatku tidak bisa duduk tenang dan berkali- kali ingin mendengar suara Ayah- Ibuku di telepon. 

Ibu dan ayah adalah alasan kenapa tidak ada satupun tempat di dunia ini seperti di rumah. Akupun semakin paham, aku pergi menjauh dari orang- orang yang aku sayang dan menyayangi aku, hanya untuk menyadari bahwa merekalah tempat aku bisa kembali kapan saja. Karena itu, Lebaran ini – biarpun pekerjaanku berhenti, aku memutuskan untuk tidak mudik di masa- masa dimana virus bisa menunggangiku kapan saja dan membahayakan hidup orang yang aku sayangi. Aku memutuskan untuk merayakan Ramadhan di perantauan karena aku masih ingin punya tempat untuk kembali nantinya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang pecinta perjalanan yang sedang belajar menulis.

CLOSE