Resensi Buku: Sekolah Dibubarkan Saja!

Kapan kita tergerak untuk berbenah menjadi lebih baik lagi?

Sudahlah, untuk apa capek-capek belajar, toh, menjelang Ujian Nasional kunci jawaban akan marak beredar. Katanya, kunci didapat dari ‘orang dalam’. Lebih baik, sekolah digantikan dengan lembaga swasta bimbingan belajar (bimbel). Melalui lembaga bimbel, kita diajarkan jalan pintas mengerjakan soal, bahkan diberitahu trik-trik cepat memilih jawaban opsional dan hitungan. Fenoma kurikulum yang rumit dan kerap berganti pun menjadi tidak efektif untuk diterapkan pada siswa. Ekstremnya, mungkin dilakukan agar pemimpinnya memiliki bahan untuk dipaparkan terkait program kerja di akhir masa jabatan. Iya, kan?

Advertisement

Gila!

Satu-satunya kata yang ada di kepala saya ketika membaca tiap baris kalimat yang ada di buku ini. Lucunya, saya tidak berhenti. Meskipun sejak bagian kata pengantar, otak dan sekujur badan saya sudah panas dingin. karena banyak hal terasa bertentangan dengan keyakinan saya. Salah satu kalimat di bagian kata pengantarnya berbunyi:


“Pemilihan judul buku Sekolah Dibubarkan Saja!, terasa begitu provokatif dan membakar emosi, terutama bagi mereka yang menganggap institusi sekolah adalah satu-satunya altar suci tempat dilahirkannya manusia-manusia unggul berprestasi.”


Tak sampai di situ, secara sadar sang penulis mengatakan:

Advertisement


“Buku 'Sekolah Dibubarkan Saja!' memang provokatif. Selain melulu mengkritik lembaga formal bernama sekolah, kritik itu juga hanya kritik, tak ada solusi jelas untuk kritik yang dilontarkan.”


Pertama, saya termasuk golongan ‘yang menganggap institusi sekolah sebagai altar suci untuk belajar dan memperoleh prestasi.’ Kedua, bagi saya, solusi adalah segalanya. Dunia sudah terlalu sesak dengan manusia yang hanya mengkritisi tapi tidak dapat memberi solusi. Bukankah kritik muncul ketika sesuatu itu dirasa tidak sesuai dengan keyakinan di hati? Semalas-malasnya berpikir, utarakan saja apa yang sebenarnya kita inginkan tersebut sebagai solusi. Sederhana, bukan? 

Advertisement

Hingga titik akhir buku ini saya baca, keyakinan saya tak bergeming. Perspektif saya terhadap sekolah sebagai institusi yang istimewa tak berubah hingga detik ini. Namun, saya lantas tidak membenci buku ini. Bahkan, saya setuju dan menerima apa-apa yang dikatakan Bang Chudiel. Dialah Afdillah Chudiel, sang penulis, seorang sosiolog. Memiliki cita-cita menjadi seorang penulis yang berkeinginan masuk program Bahasa ketika SMA, namun institusi suci ini hanya menyuguhkan jurusan IPA dan IPS. Pemegang kasta tertinggi oleh jurusan IPA dan jurusan IPS sebagai aksesori belaka. Bang Chudiel sebagai ‘aksesori belaka’ menghabiskan masa SMA-nya.

Banyak pro dan kontra yang bergejolak pada diri saya pribadi. Secara subjektif saja, saya dilahirkan dari seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru dan lingkungan keluarga yang mayoritasnya berprofesi di bidang pendidikan. Sejak bangku Sekolah Dasar, hari-hari saya jalani dengan beragam rantaian les private. Les mengaji, matematika, bahasa inggris, bahkan les arab melayu! SMP dan SMA, mata pelajaran les saya merambat ke pelajaran fisika dan kimia. Meskipun saya sadari, sejak awal saya lebih menyukai jurusan IPS, les bidang eksakta saya jalani agar lebih memahami pelajaran dan berorientasi memperoleh angka yang tinggi untuk dipampang di kitab suci bernama rapor. Ketika kenaikan kelas, wali kelas menahan rapor saya karena saya memiliki nilai yang baik untuk jurusan eksakta. Memiliki tiga orang saudari yang seluruhnya jurusan IPA, orangtua saya pun masih meyakinkan pilihan saya untuk terjun di jurusan ilmu sosial. Untungnya, saya memiliki orangtua yang demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai sila keempat sehingga tetap mendukung segala pilihan yang ingin dijalani anaknya. Maka, saya tak merubah haluan dan tetap pada bidang IPS sebagai tujuan. Selepas dari SMA, saya masih mengikuti berbagai kelas bimbel untuk persiapan seleksi perguruan tinggi negeri dan sewaktu kuliah pun masih menjadi siswa di bimbingan belajar bahasa Inggris. Hidup saya tidak pernah lepas dari namanya belajar dan institusi pendidikan. Sampai sini saya rasa cukup jelas, mengapa banyak pertentangan yang muncul ketika saya membaca buku ini.

Hebatnya, Bang Chudiel tetap berhasil membuat saya mengangguk dan tersenyum membaca tulisannya. Seperti ketika ia menceritakan kisah salah seorang siswa pintar yang mengerjakan Ujian Nasional secara murni, namun harus tersingkir memperoleh SMA unggulan karena murid ‘reman’ yang menggunakan jimat memiliki nilai lebih besar. Sekolah tidak melihat realitanya, tidak memperhitungkan prosesnya. Yang sekolah tahu hanyalah berapa besar angka yang diperoleh tiap siswanya. Di lain kisah, muncul pemikiran dari seorang anak bernama Rio. Hidup di daerah agraris dan sehari-hari bergelut dengan pertanian dan peternakan, bagaimana mungkin di sekolah disuruh memahami jarak bumi ke matahari dan bintang-bintang? Alih-alih mengajari bagaimana cara bercocok tanam, membuat pupuk organik, mencangkul dan memahami musim tanam saja? Masih berlanjut, penulis mengangkat masalah ‘Kampung Siswa’ di daerah Bibir Selat Pagai. Di sana, terdapat siswa-siswa yang tinggal jauh dari pantauan keluarga, demi ilmu pengetahuan dan selembar ijazah. Ironinya, tidak sedikit siswa yang berhenti di tengah jalan karena fenomena hamil di luar nikah. Tidak heran, karena mereka adalah remaja yang berada di fase ‘ingin tahu dan mencoba’ yang tinggi, sehingga banyak hal-hal yang terjadi diluar kontrol dan tidak dibarengi dengan edukasi remaja yang memadai.

Bang Chudiel mampu menyentuh realita yang pasti setiap dari kita pernah jalani. Setiap pengalaman yang pernah kita rasakan di institusi sekolah kembali beliau sentil. Bang Chudiel secara tidak langsung telah membuat para pembaca—khususnya saya, mau tidak mau setuju dengan argumentasinya. Bagian yang menyenangkan adalah, ternyata beliau memberi solusi di akhir tulisan ‘radikal’nya. Meskipun di awal buku ia mengatakan ini adalah buku yang hanya mengkritisi, namun ia tak sejahat itu untuk tidak memberi solusi. Dan lagi-lagi, saya tersenyum lega dalam hati karena ia membuat saya menyukai buku ini setelah sebelumnya berhasil membuat kesal mengaduk-aduk emosi.

Buku Sekolah Dibubarkan Saja! adalah buku yang berat, namun ringan. Ia mampu menyuarakan apa-apa yang selama ini mungkin kita paksa untuk dipendam saja. Hal-hal yang selama ini salah namun kita anggap biasa, karena memang sudah terbiasa dengan hal-hal yang jelas salah secara nurani dan logika. Meskipun di satu sisi saya tidak menampik atas kehadiran rasa khawatir munculnya golongan pelajar yang membangkang setelah membaca buku ini, sebaliknya, saya sangat berharap melalui buku Bang Chudiel akan tercipta agen-agen di institusi pendidikan yang berkenan berkaca untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik kedepannya. Baik itu pejabat di pemerintahan, tenaga pengajar, para pelajar dan para orangtua pun sangat dipersilakan untuk membaca. Adanya berbagai warna pikiran seperti ini sudah seharusnya diapresiasi, karena kritik adalah salah satu bentuk masih adanya rasa perhatian dan peduli. Bukan justru menjadikan kita sosok-sosok yang apatis dan membenci mimbar kritisi. Karena jika tidak, kapan kita tergerak untuk berbenah menjadi lebih baik lagi?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sejak 2015 mempublikasikan beberapa tulisan di media cetak Sumatera Ekspress, Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post. Hobi membaca, menulis dan mengamati hidup. Saat ini, sibuk belajar menghidupi hidup.

CLOSE