Sebagai anak, kita akan selalu merindukan rumah.

Sebagai ibu, kita akan selalu merindukan rumah.

Advertisement

Sebagai ayah pun kita akan selalu merindukan rumah.


Home is where the heart is, and home is not a place but its a feeling.


Semua orang akan selalu merindukan rumah. Karena rumah bukan hanya sekedar tempat, tetapi sebagai suatu perasaan. Perasaan yang kita alami di masa lampau, sekarang ataupun yang akan datang yang akan selalu membuat semua rindu.

Advertisement

Pulanglah, karena kamu akan tahu betapa berharganya perasaan itu. Perasaan yang berisikan gelak tawa, tangis pilu dan kebahagian yang berasal dari perasaan itu, dari rumahmu. Yang entah kapan hanya akan berubah menjadi sebuah rindu. Merindu yang teramat pilu.

Ayah, ketahuilah. Setegar dan semandiri apapun diriku dalam menyikapi hidup, bahkan berapapun usiaku. Aku adalah anak, dan sampai kapanpun tetap seorang anak dimatamu. Anak gadis yang sebenarnya sangat manja dan sangat merindu perhatian. Tetapi, kedaan yang membuatku tidak bisa melakukannya denganmu, karena keadaan kita yang berbeda dengan keluarga yang lain. Tapi percayalah, aku sangat merindu. Merindukan kamu yang dulu, merindukan kita yang dulu.

Ayah, izinkan aku mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sangat menyesakkan dadaku dari dulu. Ayah, lihatlah aku sebentar. Aku adalah anak yang dirancang oleh didikan ibu dan sedikit didikan dari ayah. Ingatkah ayah dulu, ketika ayah memutuskan memilihnya. Tidakkah ayah melihat keadaan kami? Lihatlah wanita itu, istri yang menemanimu belasan tahun lamanya, tanpa tindakan dan upaya mencegahnya kau biarkan pergi begitu saja meniggalkanmu dengan membawa buah hatimu, hasil buah cinta kalian berdua.

Ayah, tahukah engkau bagaimana perasaanku, perasaan ibu dan perasaan adik? Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan ibu, dialah wanita yang paling kuat yang pernah aku kenal dan aku miliki. Dialah yang selalu menguatkanku dan membuatku tegar. Di tengah masalah kehidupannya dan ditambah penyakit yang sedang dideritanya, dia tak pernah memperlihatkannya kepada kita. Mungkin, jika ibu adalah aku, aku akan menyerah dengan kehidupan dan menyalahkan Tuhan, karena ini sangat tidak adil bagiku.

Tapi ayah, satu hal yang perlu engkau tahu. Wanita yang aku sebut ibu, adalah wanita yang luar biasa. Dia tidak pernah membencimu, dia tidak pernah menebar kebencian kepada anakmu. Karena bagaimanapun, engkau adalah ayahku dan selamanya tetap ayahku yang harus aku hormati dan aku hargai. Begitulah pesan terakhir ibu ketika aku mengeluh tentang dirimu yang selalu ku rindu.

Ayah, ini memang masa lalu dan kelamnya kehidupan dulu tak seharusnya kita ingat kembali demi membuka lembaran baru dan melangkah maju. Tapi, kehidupan dulu yang membuat aku setegar dan sekuat sekarang. Kehidupan dulu yang membuatku mengerti bagaimana cara menghargai sebuah kebersamaan, kebahagiaan dan rasa syukur. Mensyukuri kehidupan yang lebih baik dan mensyukuri nikmat Tuhan yang tidak bisa aku dustakan. Yang membuat hubungan kita menjadi lebih baik, walaupun tanpa ibu.

Hari ini, untuk kesekian kalinya aku merindu, merindu yang sangat pilu, Bu. Aku rindu rasanya hidup bersama keluarga dalam satu atap rumah yang bahagia. Sudah beberapa tahun yang lalu. Terimakasih ibu, dan terimakasih ayah, tanpa kalian dan hidup kalian, mungkin aku yang sekarang bukanlah aku yang sekarang dengan perjalanan hidup yang luar biasa. Kalian adalah rumah yang aku rindu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya