"Tahu apa kamu soal bertahan? Kalau nonton tv iklan muncul aja langsung cari remot klik pindah chanel!"

Sesederhana itu ucapan yang ingin kusampaikan padamu sebelum akhirnya aku memilih untuk menyudahi semua tentang kita. Di mana saat pertemuan dibangku sekolah menengah atas itu kita saling mengenal satu sama lain dan memutuskan untuk menjadi kita sampai 3 bulan yang lalu. Iya, 3 bulan yang lalu terhitung 6 tahun aku mengenalmu sampai akhirnya aku melepaskan genggaman tanganmu, bukan perihal cinta hanya saja sikapmu yang semakin lama semakin jauh dari harapan.

Advertisement

Awalnya bagiku kamu adalah lelaki baik yang ku kenal, kita menjalani hubungan LDR Malang – Medan dengan komitmen yang cukup jelas pada masa itu. Semua waktu, materi dan segala keluh kesah telah kita tuangkan dalam hubungan ini. Berawal dari pertengkaran kecil menjuru ke hal –hal besar, terombang-ambing dalam emosi sesaat sampai akhirnya pertengkaran itu menjadi tabungan untuk pertengkaran berikutnya. Ya..begitulah kita tak ada yang mampu mengalah saat masalah melanda dan tak ada juga yang mampu menahan kebisuan dalam pertengkaran itu. Sampai aku menyadari begini siklus hubungan kita Bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi selalu begitu sampai akhirnya tersadar bahwa memang hubungan ini sudah tidak sehat dan tak perlu dilanjutkan.

"Bertengkar–baikan–bertengkar lagi–baikan lagi. Gitu aja terus sampai pohon jambu berbuah sirsak~"

Walaupun kalian sering berantem tapi engga pernah putus itu tandanya saling mencintai, itu lah ucapan yang paling ku ingat saat teman-teman ku mengomentari hubungan kita, begitupun kata-kata yang terlontar dari mulutmu. Namun, aku tak sependapat dengan mu dan mereka karena bagiku jika bisa meminimalis pertengkaran untuk apa harus bertengkar jika akhirnya semakin memperkeruh hubungan yang sudah jelas-jelas tak sejernih saat pertama kali dijalani. Inilah awal mula pertengkaran hebat itu, kamu mulai berkata kasar, ditambah sikapmu yang selalu merengek minta aku pulang agar hubungan kita bisa normal seperti yang lain tanpa ada jarak yang memisahkan, tapi aku belum mampu memenuhi permintaan itu karena kini rasa yakin akan komitmen itu mulai pudar.

Advertisement

Kamu terus menuntut kepulanganku setiap kali kita berkomunikasi, sampai akhirnya aku luluh dan pulang, tapi seolah ada firasat yang mengatakan bahwa ini bukan jalan yang terbaik untuk hubungan kita, benar saja pada saat hari kepulanganku kamu yang berjanji akan menjemput tapi tak bisa dihubungi. Detik, menit dan jam berlalu tapi kamu tak kunjung tiba hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang sendiri. Beberapa saat kemudian kamu menghubungiku tanpa merasa bersalah bahkan hanya mengatakan maaf sayang, kakak ketiduran. Dengan hembusan nafas panjang aku mencoba mengerti .

"Maaf sayang, ketiduran alasan klasik yang sering digunakan saat kita bukan prioritas lagi."

Saat kita bertemu sikapmu sangat terlihat tak begitu senang, bukannya menyambut kedatanganku tapi malah memancing pertengkaran dan seperti ada yang disembunyikan. Kamu sangat dingin, tak sehangat ketika kita masih LDR. Beribu pertanyaan memenuhi otakku bagai teka teki yang harus aku pecahkan. Dan satu hal yang paling menyadarkan ku bahwa kamu bukan laki-laki yang aku kenal dulu saat berbicara kamu tak mampu sedetikpun menatap mataku hanya tertunduk dan jika ditanya selalu mengalihkan pembicaraan. suasana sudah tak bisa diharapkan, aku merasa aku jauh padahal aku berada disampingmu, kamu bagai orang asing yang tak pernah aku kenal padahal kamu laki-laki yang telah aku kenal selama 6 tahun ini.

"Adakah yang salah ? Dan siapakah kamu sekarang?"

Menit berganti Jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan hubungan kita semakin tak baik. Dan sepertinya tak layak lagi disebut hubungan karena setiap bertemu dan berkomunikasi kamu selalu memancing pertengkaran. Sudah tak ada hal baik yang bisa membuat ku terus bertahan dalam hubungan ini, tapi saat aku mulai mundur kamu datang dengan raut muka yang dulu pernah aku kenal, jelas saja aku tertipu oleh topengmu, terus bertahan dengan hati berdarah –darah berharap kamu akan kembali seperti dulu.

Selang beberapa hari sikapmu dan raut muka lama itupun perlahan hilang memudar, yang tinggal hanya raut muka asing dan sikap kasarmu begitu terlihat. Dengan hati penuh sesak dan air mata yang mengering aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini tapi kamu menolak dan ingin mempertahankan dengan alasan kita sudah bersama cukup lama dan tak semudah itu pisah. Aku mencoba untuk tak menghiraukan ucapanmu dan mulai menghindar dari semua tentangmu. Sampai akhirnya aku melihat sebuah postingan di salah satu akun medsosmu kamu mengunggah potret dirimu dengan seorang wanita yang dulu ku kenal sebagai mantanmu. Bukankah dia seseorang yang membuatmu pernah menghianatiku 3 tahun yang lalu? Walaupun sempat kamu memilihku. Tapi sungguh tak kusangka kini ternyata kamu kembali bersama dia dan sudah terjawab semua kejanggalan sikapmu dari awal kepulanganku.

Teruntuk wanitamu saat ini semoga dia mampu mengimbangi sikapmu dan selalu memberi kebahagiaan untukmu. Dan teruntuk engkau, terima kasih telah sempat memberiku pelajaran hidup yang sangat berharga dan terima kasih telah menyadarkan aku bahwa kamu bukan teka teki yang harus ku pecahkan tapi satu set puzzle yang telah selesai aku susun.

Saat kamu usai membaca tulisan ini, ada salam rindu dariku, bunga yang kamu tanam meski akhirnya kamu biarkan layu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya