Mencintaimu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan padaku. Kamu yang sebenarnya biasa saja namun memiliki senyum malu-malu yang luar biasa. Tak pernah ku lihat dirimu rapi, berantakan selalu jadi dirimu sendiri. Hingga tidak pernah ku sangka ternyata mata ini terus saja mencari sosok dirimu yang bersahaja.

Tanpa kamu tahu bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta pada dirimu yang sejujurnya tak pernah ku sangka. Mendoakanmu di sela-sela ibadahku, memperbincangkan namamu dengan Tuhan di saat sebelum lelapku.

Saat kau katakan cinta, tahukah kau telah membuatku bahagia?

Aku selalu mencintaimu dalam diam. Memperhatikanmu melalui jarak yang terbentang, ikut menjagamu dalam bayang. Aku tak pernah berharap kau tahu tentang rasa ini. Rasa yang telah tumbuh yang bahkan akupun tak tahu kapan itu.

Suatu ketika tiba petang, kamu kirimkan kata-kata cinta bahkan dilengkapi gambar. Seakan semuanya seperti mimpi. Apakah Tuhan mempermainkanku dalam mimpi yang terasa nyata? Jika iya, aku tak ingin terbangun dari tidur ini. Namun kamu telah membenarkannya. Tahukah kamu wahai lelaki pujaan hatiku, kamu membuatku bahagia seketika. Seakan semua doaku telah dijawab yang Maha Kuasa.

Advertisement

Namun aku tahu dengan pasti kata cinta dari bibir indahmu hanya sebatas kata saja.

Seiring berlalu waktu aku cepat menyadari bahwa sejak awal ternyata dirimu sudah mengetahui rasa ini, hingga kamu putuskan untuk menjalani hubungan denganku. Kata cinta itu terasa seperti dipermukaan saja. Tanpa rasa dan tanpa cinta. Begitupun aku tetap bahagia karena dirimu telah tahu bahwa aku ada.

dan sayangmu yang kau paksakan untukku semakin membuat hatiku pilu.

dirmu mengetahui rasa yang ku simpan dalam diam, tanpa ingin dirimu tahu. Aku paham jika dirimu tersanjung dan merasa berterima kasih namun alasan itu bukanlah yang ku sukai. Aku ingin cintamu bukan rasa terima kasihmu.

Aku ingin rasa tulus bukan rasa iba. Senyummu terasa memiliki beban, tidak lepas seperti biasanya aku lihat dulu. Tidak kulihat cerah sinar dari pandangan matamu sejak dirimu bersamaku. Kamu memaksakan rasa cintamu padaku? Tak tahukah kamu hatiku menjadi pilu melihatmu begitu.

Dan aku takut bahwa ciumanmu kala itu hanya sebatas nafsu

Aku pernah menciummu sebagai tanda bahwa aku mencintaimu. Kecupan hangat yang ku harap sampai hingga ke lubuk hatimu paling dalam. Biarpun berat, tetap kamu balas kecupan itu, kecupan yang seakan mengatakan bahwa kamupun cinta aku. Tapi sekali lagi aku semakin yakin, bahwa ciumanmu tanpa rasa. Malah terselip duka.

Berkali-kali kamu kecup aku namun semua semakin terasa hambar dari dirimu. Aku semakin sedih, dan sesunguhnya patah hati. Karena ketika ku cari diriku di dalam matamu, tak ku temui sosokku.

Sudah, aku putuskan mengakhirinya saja, aku ingin melihatmu bahagia, bukan menjalani cinta karena iba

Cukup sudah! Sebenarnya tanpa kamu sadari, dirimu telah menyakiti diri sendiri. Dan hatiku semakin hancur melihatmu begitu. Baiknya sudahi saja hubungan ini. Hubungan yang didasari rasa iba. Namun satu hal yang kamu harus tahu, diriku tidak pernah mengemis cinta apalagi menginginkan iba. Rasa ini sudah cukup untukku sendiri. Baiknya kamu pergi dan cari kebahagiaanmu yang tentunya bukan aku.

Kini aku kembali sendiri namun ruang hati ini masih kamu yang mengisi

Baiknya memang begini Sudah ku buang jauh angan untuk bersamamu.. Aku tak mau bahagiamu tak kamu dapatkan dariku. Kembali melihatmu dari kejauhan, menjagamu dari balik bayang-bayang dan memperbincangkan dirimu dengan Tuhan. Semuanya kembali ke awal karena saat-saat itulah yang paling menyenangkan karena aku bisa melihat senyummu yang cerah dan pandangan matamu yang berbinar.