Masih segar dalam ingatan, tentang berita perundungan yang berujung dengan tagar #JusticeforAudrey. Berita yang sontak menggegerkan semua lapisan, karena cerita amoral tak berkesudahan terjadi antara insan yang belum matang.

Banyak hati yang terketuk untuk sebuah keadilan. Ketika keadilan nyatanya  sering kali berada berseberangan dengan nilai nilai moral bangsa dan manusia.

Advertisement

Namun ada satu yang terlupa, kita -termasuk saya- terburu berkata sebelum semua terbuka. Karena setelah lebih banyak yang terbuka, terbesit sejumlah tanya:


"Apakah ceritanya nyata ? atau drama semata? salahkah yang kita bela ?'


Banyak tanya yang perlahan muncul ke permukaan, namun ada satu tanya yang telah pasti jawabnya.

Apakah perundungan itu dibenarkan ? tentu TIDAK. Terlepas dari semua alasan, tidak ada perundungan yang dibenarkan. Jelas  bereaksi terhadap aksi perundungan Audrey membuktikan kita masih punya hati. Membuktikan kita masih manusia sejati.

Advertisement

Manusia yang menyadari, tidak seharusnya saling menyakiti. Manusia yang menyadari, bahwa simpati dan empati adalah bukti kita saling memiliki. Bahwa kita tidak pernah sendiri. Lantas bila kembali diruntut, mana yang salah ? mari dengan rendah hati mengakui, kita, para manusia dewasalah yang bersalah.

Kenapa kita ? bukankah mereka yang berbuat? Sebelum menuntut mereka, para manusia muda berlaku benar, pernahkan kita bertanya dulu pada diri sendiri, sudah benarkah yang kita lakukan?  Bukankah anak adalah peniru yang ulung? Dan apa yang dilihat, tentu itu yang ditiru. Jadi, sudahkah kita memberi apa yang patut untuk ditiru?

Mungkin kita terlalu sibuk dengan hingar bingar dunia, mencari cara mempermudah segalanya, untuk kita saat ini, dan terkadang disisipi asa untuk mereka di masa depan. Tapi bagaimana dengan anak-anak saat ini ? karena tentu sebelum masa depan, kita juga harus berhadapan dengan masa saat ini.


Sudahkah kita membekali mereka untuk masa depan saat ini selain dengan tuntutan akademis yang cemerlang?


Mengajarkan spiritualitas agar memiliki rambu yang jelas dalam kehidupan. Mengenalkan dan memberi pemahaman tentang adab agar berumbuh menjadi pribadi yang santun. Menanamkan nilai-nilai integritas dan moralitas agar berkembang menjadi  pribadi yang siap menerima segala perubahan.

Sehingga nantinya hati nurani tak terabaikan dengan hiruk pikuk ketenaran, yang selalu mengecoh dan mengusik jiwa yang tenang. Sejatinya, manusia – manusia muda ini sedang memberi tanda.


Tanda bahwa mereka lemah, tak siap untuk masa depan. 

Tanda bahwa mereka rapuh, tak mengenal apa itu berjuang.

Tanda bahwa mereka tak berdaya, tak mampu meraih asa.


Karena siapa? Karena kita, para manusia dewasa terlena dan memberi mereka kemudahan.

Dan setelah ini semua, apakah kita hanya mampu bermuram durja, sibuk menghakimi seolah harapan telah musnah?


Bangkit !!!

Berdiri !!!


Mari kita mawas diri dan segera benahi.

Sebelum mereka semakin tidak terkendali dan saling melukai.

Sebelum mereka menjadi manusia dewasa tanpa hati nurani yang lupa arti saling menyanyangi.

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya