Kosong yang memaksaku memberi celah untukmu yang mulai menyentuh hatiku. Kau datang ketika aku baru saja sembuh dari lukaku yang lalu. Kau bayar sepiku, dengan pesan yang rajin kau kirim kepadaku. Kau sentuh hatiku, dengan candamu yang tanpa kusadari memberi warna baru dalam hidupku. Kau buat rinduku menjadi milikmu. Kita saling memainkan peran yang ceritanya kita tulis sendiri. Saling bermain api menyalakan api asmara yang kita kira sebagai canda, hingga tanpa kusadari, semua itu berubah menjadi candu. Lalu, kau cipta jeda untuk sementara kemudian kembali lagi bersua. Berulang-ulang seperti siklus yang sudah pasti, bersua-jeda-bersua-jeda sampai suatu hari jedamu kurasakan sangat lama. Tadinya, canduku tak separah ini, entah apa yang terjadi, aku mulai takut ketika kau membari jeda. Aku takut kau tak kembali melengkapi peranku dalam cerita ini. Ketika ku mulai putus asa, tiba-tiba kau datang lagi menyapa dan memberiku harapan kembali. Semakin hari cerita ini semakin spontan kita perankan tanpa lagi membaca naskah. Tidak lagi menghayati peranku, aku telah jatuh terperangkap dalam peranku ini. Mungkinkah kau juga begitu? Entahlah aku tak peduli, aku hanya terus menikmati peranku ini dan terus melanjutkan ceritannya.

Lama tak jumpa membuatku berani mengungkap rindu ini, dan kau sambut dengan ungkapan yang sama pula. Namun, ketika aku mengungkapkan dari lubuk hati yang paling dalam, aku masih tak tau apakah kau seperti ku tulus dari dalam hatimu atau masih sama seperti yang dulu, yakni hanya memainkan peran. Aku terus menagihmu untuk membayar rinduku yang telah kau jadikan milikmu dengan bertemu, begitu pula dirimu. Hingga akhirnya kita saling mengobati rindu dengan bertemu. Kukira semuanya akan sama seperti dulu, ternyata kali ini berbeda. Degup jantungku kau buat kacau dengan caramu menatapku, caramu berbicara kepadaku membuat lidahku semakin kelu. Benar saja rindu ini terbayar, namun satu hal yang sangat kutakutkan sepertinya terjadi. Jatuh cinta kepadamu dan takut apabila sampai ku kecewa kembali. Lukaku baru saja kering, mana rela hatiku apabila harus terluka kembali. Pertanyaan dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam namun tak pernah berani kutanyakan “Adakah wanita lain yang kau perlakukan sepertiku saat ini? Masihkan kau anggap ini sebagai candaan?”. Satu hal lagi yang paling aku takutkan sejak aku sadar kau mulai menjadi canduku, Tuhan yang kau yakini tak seperti Tuhan yang ku yakini. Tentu saja ini lebih berat dari apapun, hal yang sudah jelas tidak bisa dipertahankan masih saja ku perjuangkan, dengan harapan Tuhan akan memberi jalan. Nantinya bukan tentang siapa yang mengalah memilih Tuhan siapa yan menjadi akhir, tapi kita yang akan berakhir. Walaupun sejujurnya aku akan terus berharap kau yang akan menjadi jawaban dalam setiap doaku selama ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya