Semesta kembali membawaku pergi mengarungi alunan waktu, menyusuri setiap misteri dibalik senyumanmu.

Sebagaimana lautan membawa gemuruh ombak beserta desir pasir yang memecah, langit gelap membawa jutaan pelangi hadir dalam hening, senja menarik sang surya menuju singgasana dan semesta entah kenapa menyeretku dalam ruang lamunannya.

Sejak pertama kali jemari mengantarkan sepasang bola mata pada pertemuan tak sengaja, seketika itu pula waktu berasa berhenti dalam pusaran orbitnya, jantungpun absen berdetak pada mestinya, semua diam dan terdiamkan, kecuali hasratku yang menikmati detik perhentian waktu dalam ruang imajinerku.

Ruang yang memiliki simpul rasa yang tak dapat dimengerti, ruang yang berhasil memaksaku untuk mengalah. Karna ruang yang telah kau hadirkan menjadi satu ruang yang tak pernah berhasil aku definisikan.

Terlalu dini untuk berkata pada deretan garis fajar yang membumbung tinggi pada langit pagi, terlalu cepat berucap pada lembayung senja yang membujur lurus membuntuti sang mentari kembali. Namun, sepertinya palang pintu hatiku terus berketuk dan memaksa berterus terang pada dunia, bahwa ada rasa yang terlampau tidak biasa sedang bermuara.

Menjadikanmu kompas untuk berlabuh lebih jauh nampaknya satu tindakan yang terlewat berani, entah karna kapal yang akan kita tumpangi  berada pada pelabuhan yang sama atau memang akunya saja yang belum tepat menjadi kapten nahkoda.

Menempatkanmu dalam gugusan bintang di semesta raya akupun terlampau ragu. Apakah kita berada pada dimensi yang sama? Atau kau memiliki galaksi yang berbeda bersama yang lainnya?

Bertaburan segudang pertanyaan yang memborbadir alam pikiran, menguras relung perasaan dan terkadang membuat senyuman palsu yang terkesan lucu dan mencemaskan. Lucu karna setiap penggal tawa keluar tanpa alasan yang jelas dan cemas karna aku terlalu khawatir koordinatmu terlampau jauh tak terbatas.

Zona waktu terus berkejaran dengan setiap momentum yang terus terlewatkan. Setiap langkah yang hadir seakan membawaku pada perjumpaan yang baru, pada penjajakan menemukan identitas dirimu dan setiap yang berlalu telah aku simpan di bilik ternyaman, tempat semua cerita tentangmu aku tempatkan.

Baiklah untuk kali ini aku mencoba mengalah, tapi bukan berarti kalah. Aku mencoba terdiam bukan berarti tak menghiraukan dan aku tetap dalam pendakian kebimbangan yang perlahan menyudutkanku atas sebuah pertanyaan. Kenapa kau sangat sulit untuk terdefinisikan?

Nampaknya aku terlampau lemah jika terus mengikuti teka-teki alur bermainmu. Kau terlalu riang berjalan kesana kemari, sedangkan aku duduk termenung sendiri. Tibalah pada satu titik dimana akupun memilih untuk berlari menyebelahimu, menyusul setiap ayunan kakimu dan menjadi bagian dari setiap tawa yang hadir dalam kehidupanmu.

Aku hadir membawa raga yang akan melindungimu, membawa telinga yang dengan sabar mendengar segala peluh kesahmu, membawa bahu yang siap menyandarkan kebimbanganmu dan membawa hati yang siap kau isi.

Kaupun menjelma menjadi satu teka-teki yang terlampau sulitku mengerti. Dalam setiap persimpangan yang selalu aku temukan, kehadiranmu selalu menjadi PR besar yang belum sempat aku pecahkan. Bayangmu selalu menjadi hantu yang hinggap dalam selaput keterasingan dan namamu menjadi satu mantra yang selalu aku ucapkan dalam dekap doa disetiap peribadatan.

Tuhan telah mengirimu bukan untuk menyempurnakanku, bukan pula untuk mengenapkan setiap keganjilan dalam kehidupan. Mungkin ada satu kerahasiaan yang belum pasti kapan terjawabkan dan disaat inilah aku tersadarkan, bahwa tidak selamanya perasaan perlu terdefinisikan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya