Tahukah kalian, ketika menjalin sebuah hubungan akan ada pertentangan dan rintangan hingga semenjak itu hubungan semakin retak ataukah semakin saling memperbaiki? Jangan menjawab itu adalah luka, tapi perbaiki bahwasanya disetiap luka pasti ada obatnya.

Hari ini aku tidak sedang bersandiwara dalam cinta. Aku hanya ingin pengertian yang begitu dalam. Halusinasi yang aku teguhkan lalu aku tegakkan dengan segala cara. Ini duniaku, bukan duniamu jangan hasut aku dalam banyak hal. Tentang apa yang kamu mau dan menurutinya. Luka ada dimana-mana bahkan saat kita terpeleset menepi lalu mengobati. Jangan sentuh aku dengan lukamu pada masa itu.

Aku baik-baik saja disini.

Menatap langit sepi dengan penuh kesendirian. Sendiri bukan berarti aku tak punya teman. Masih banyak yang dapat aku kerjakan dengan kesendirian itu. Aku tak akan lelah, aku tak akan pudar ditelan dunia begitu saja. Jadi, jangan takut dengan kesendirian aku.

Dengarlah, aku masih mampu mendengarkan situasi yang kosong walau ia tak pernah berbicara. Dengarkan isi hatiku, ia berteriak saat engkau mengelak. Dengar bisikku, ia mencari walau kau tak pernah memberi tahu. Aku tak berbicara padamu dengan jujur. Aku hanya mendesah dan engkau yang mengartikannya sendiri. Sikapmu dan sikapku sama, bahkan kesamaan itu yang membuat kita selalu mengelak pada situasi yang diam namun mencekam dikemudian. Aku tersadar kita tak cocok. Aku berharap hari esok kau lebih dewasa.

Advertisement

Aku termakan pada situasi yang nyaman namun memaksakan. Aku tak ingin seperti ini dengan abadi. Berhentilah dengan egomu dan berbuatlah semauku, hingga menurutinya, kau akan mendapatkan kebahagiaan itu. Aku akan berikan walau kau tak meminta. Jelas, aku yakin hal itu ada, asal engkau bersabar.

Air mata menetes untuk yang pertama kali padamu, meniru adegan yang tak pernah engkau taruhkan. Hilang, hilang ditelan malam. Bersama derasnya hujan dan terbawa air mata itu dengan alirannya. Deras, dan semakin deras. Aku lelah dengan kebanjiran dijalan yang penuh liku. Dan lampu merah yang menyala dimalam hari.

Terus saja air mata langit membasahi punggung, lengan, kaki dan hampir seluruh tubuhku, mencoba memakai alas hujan namun tetap saja menggigil, tetap saja bersiteru yang menembus kulitku. Tawa berhenti menjadi memerah, hidung membendung, hati tergores, karena keelokan ucap yang tak sanggup aku mengerti apa maumu. Jalan seakan biasa saja, temu seakan biasa saja. Apa hubungan ini?

Advertisement

Cinta? Luka? Kesendirian?

Atau keterpaksaan dalam sendiri?

Dengar, ini adalah duniaku. Bukan kesombongan, sok sibuk atau apapun itu. Aku masih sendiri meratapi apa yang aku cari dan masih belum aku temukan hal itu. Kau tahu bagaimana cara aku menemukannya? Jika engkau tahu, maka bantulah aku untuk menemukannya dan aku tak akan pernah melupakanmu dalam hidupku.

Jangan mencariku dalam terangnya harimu, namun cari aku dalam kegelapan juga, serasa keterasingan pada diri sendiri, keterkaitan pada apa yang aku cari, lelah aku tak sanggup menahan ini, aku yakin ini bukan luka. Namun secercah kebiasaan yang belum biasa.

Hilangkan emosimu, hilangkan keegoisanmu, dan hilangkan sikap pemarahmu serta nasehatmu. Aku sedang tak butuh nasehat, bukan aku sok pintar namun nasehatmu kurang bermutu. Aku sudah mengetahui hal itu, dengarlah satu hal lagi, nasehati aku saat aku diam, dan tenang bukan pada keadaan aku marah dan secercah kesalahan kecil dan engkau sepelekan.

Ketidakpercayaanmu membuat aku tak nyaman, kau memberi aku perkataan yang aku tahu itu bukan kekosongan arti, aku mengerti dan memahami hal itu. Jadi lupakanlah kisah yang baik diantara kita. Jangan emosikan segala hal. Aku hanya sekecil wanita biasa yang tak tahu bagaimana cara aku mengatasi emosiku sendiri.

Malam mencekam hatiku, menusuk dalam kelabu bambu memotong pembicaraan hati, sekilas angin berhembus merindingkn tubuh lalu menggigil. Aku tak tahu pada kelelahan hati yang terus berfikir dimalam kemudian. Jangan tanyakan hal ini pada malam, karena malam tak pernah tahu kejadian siang. Mungkin ia butuh diceritakan, dengan saksi bintang, dengan saksi rembulan, bahkan kegelapan. Ingatlah, malam bukan berarti galau. Gelap bukan berarti risau dan sendiri bukan berarti tak ada teman.

Pahami apa arti kesendirian?

Pahami apa arti kediaman, bahkan pahami apa arti kebersamaan?

Cintailah aku selayaknya kau mengenalku, aku bukan orang asing yang kau anggap mudah untuk kau cintai dan kau dapatkan begitu saja. Kenapa aku mau? Bukankah itu pertanyaan yang ada dibenakmu saat ini. Kau tak percaya hati ini? Jauhi aku jika engkau ingin. Dekati aku jika engkau sanggup.

Jangan lakukan lagi sayang, aku mohon. Aku tak suka kemarahanmu, menatapku tajam, menggores luka hati pada sorotan mata yang penuh luka dan banyak tanya. Aku ingin pergi dari mata itu, mata yang bukan kelembutan, mata yang penuh banyak ingin tahu, mata yang selalu menyinari relung hati yang ingin dicintai, diperhatikan dan ingin dimengerti, bahkan dituruti.

Hentikan sikap itu, aku tak menyukainya. Aku mundur pada keegoisan itu, aku perlahan berlari pada kekerasan hati itu, jauhi sikapmu yang kotor itu, tanpa kedewasaan, tanpa kesabaran, bahkan keelokan hati yang lembut. Aku adalah duniamu bukan orang lain, bukan orang yang sering kali kau bicarakan dan kau tanyakan siapa aku?

Siapa mantan kekasihku? Siapa yang masih aku cintai? Dan siapa yang sering aku buatkan puisi untuknya? Itukah yang sering kau Tanya pada hati kecilmu, menimbulkan sebuah ketidakpercayaan, merelungkan hati yang terus berwibawa kesungguhan. Jika itu yang kau mau, carilah sesukamu, jika sudah bertemu, temui aku dan beri jawaban tentang hubungan ini?

Hubungan yang masih kau anggap diambang keelokan dunia yang tidak kau inginkan.