Panasnya dunia perpolitikan Indonesia saat ini, memang diakui sebagai sebuah pembelajaraan berdemokrasi. Memang benar, kini semua pasang mata tertuju pada pemimpin-pemimpin negeri. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, yang justru menunjukan kurangnya empati masyarakat dan bahkan cenderung tidak peduli dengan apa yang terjadi hari ini. Oleh karena itu, hal ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, bahwa masyarakat kini telah banyak berkontribusi.


“Demokrasi hanya berjalan kalau disertai rasa tanggung jawab. Tidak ada demokrasi tanpa tanggung jawab. Dan, demokrasi yang melewati batasnya dan meluap menjadi anarki akan menemui ajalnya dan digantikan sementara waktu oleh diktator.” Mohammad Hatta


Advertisement

Dalam berdemokrasi, berbeda padangan dan pilihan merupakan hal yang wajar. Berdebat, ya boleh saja, asal masih dalam batas normal, jangan malah jadikan alasan untuk bertengkar. Tidak perlulah saling menghakimi “anda salah dan saya benar”. Karena pada dasarnya, setiap manusia pasti memiliki perbedaan dalam berlogika dan bernalar.

Sudahlah Indonesiaku, relakan saja yang sudah seharusnya terjadi. Janganlah kita terlalu berambisi, sebab tak dapat dipungkiri, setiap kita pasti mudah terpancing emosi. Tak perlulah berlarut-larut terjebak dalam pertikaian ini, sudah cukup kita menghabiskan waktu, materi dan energi. Ada banyak cara lain untuk memperbaiki negeri, salah satunya dengan memperbaiki diri dan menciptakan prestasi.

Tidak ingatkah bagaimana jerih payah pejuang terdahulu mencapai sebuah kemeredekaan? Berkali-kali tumbang dan mendapati kematian demi kematian. Merangkak dengan dengkul yang rapuh dijalan berbatu, hanya demi sebuah penghidupan. Mereka semua kesakitan, kelaparan dan tidak pernah mereka tahu, sampai kapan mereka dapat bertahan. Jerit ampun tidak berarti apapun, dihadapan tuan-tuan yang menjajah kedaulatan.

Advertisement

Kemerdekaan itu tidak diperoleh dengan cara gratis. Mereka harus bersatu, berangkulan melawan para penjajah yang bengis. Bermodalkan senjata yang seadanya, mereka berjuang dengan segenap hati melupakan sakit, menyeka tangis. Mereka kantongi juga kepercayaan untuk mempercayai sesama, yang akhirnya membuat mereka berhasil melewati masa-masa tragis.

Malu. Seharusnya kita malu dengan apa yang kita perbuat hari ini. Kita memiliki apa yang tidak pahlawan kita miliki dimasa itu. Teknologi canggih, kebebasan yang hakiki, semua hal yang tentunya lebih baik dan manusiawi. Tetapi justru kita kini malah saling mencurigai. Mencaci dan memaki saudara sendiri, melempar fitnah dan menyimpan dengki. Kita sendiri yang telah kembali melukai harga diri.


“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!” Soekarno


Kembalilah bersatu, Indonesiaku. Lupakanlah masalah lalu dan berhentilah kubu-berkubu. Sudah bukan saatnya lagi kita terus berseteru, sebab adalah sebuah kebenaran bahwa “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Saat ini seharusnya kita perlu bahu-membahu, mengejar ketertinggalan dan bergerak maju . Sudah saatnya kita kembali membangun Indonesia dengan bersungguh-sungguh, agar dimasa depan sejahteralah anak cucu.

Mari kita rakit kembali tenun kerukunan berbangsa. Tumbuhkan lagi kepercayaan kepada sesama. Terimalah perbedaan budaya, ras dan agama. Karena sudah fitrahnya indonesia berbeda-beda. Perlihatkan pada dunia, bahwa Indonesia yang seluas eropa, mampu hidup tentram saling menjaga. Teguhkanlah rasa persatuan dan kesatuan. Kobarkanlah dalam dada, semangat jiwa pancasila. Hadirkan rasa syukur kepada sang Kuasa. Serta berdo’a agar senantiasa kita tetap bersahaja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya