Rindu Sahabatku

Ada perasaan rindu yang semakin mendalam, aku belum bisa bertemu dengan sahabat-sahabatku. Kami terpisah bukan karena kami sudah tidak menjalani persahabatan, kami terpisah hanya karena kami sadar bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Advertisement

Saat ini kami merasakan hal itu, kami berpisah, kami berpencar. Untuk apa? Hanya untuk satu tujuan, yaitu mengejar kehidupan yang sesungguhnya.

Aku dan sahabatku sudah menginjak 4 tahun dalam menjalin persahabatan. Kami berjumlah 15 orang, 15 kepala, 15 asal daerah, 15 perbedaan, 15 kesukaan, dan hanya ada 1 tujuan, yaitu KEBERSAMAAN.

Kali ini kami berbeda daerah, dan hampir satu tahun lamanya belum pernah bertemu lagi. Rasa rindu pun semakin merasuki jiwa ini. Bagaimana tidak? 4 tahun lalui kami bersama-sama, yang setiap hari dan setiap malam bersama-sama mengerjakan tugas, rapat, nonton, dan yang pasti adalah nongkrong bareng.

Advertisement

Tapi semenjak hari wisuda, kami sangat sulit untuk berkumpul, bertemu, atau bahkan chat sekalipun. Kami masing-masing memiliki kesibukan yang berbeda, chat pun yang dulunya setiap waktu chat gak jelas, tapi sekarrang hanya untuk sekedar menanyakan kabar pun ternyata sulit. Dibales sih, tapi hanya sekedarnya saja, tidak seperti dulu.

Ada apa ini? Kalian kenapa? Sesibuk itukah kalian wahai sahabatku?

Terbesit di hati untuk mengirimkan surat kepada sahabat-sahabatku di sana. Inilah surat yang setidaknya akan mewakili kerinduanku kepada para sahabat.

Surat Cinta Untuk Sahabat

Teruntuk sahabatku tercinta…

Wahai sahabatku, sudah hampir satu tahun kita terpisahkan oleh jarak, dan saat ini kita disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Waktu satu tahun ini bagiku terasa begitu lama, seakan aku sudah puluhan tahun menjalani hari-hari tanpa canda tawa kalian.

Sahabatku, masih ingatkah kalian? Dulu kita dipertemukan di dalam sebuah lembaga pendidikan universitas. Dari situ kita bertemu, berkenalan, dan mencoba saling bertukar informasi dan pengalaman.

Dulu kita berkenalan karena terpaksa dan dipaksa harus kenal oleh sistem yang ada di sana. Namun satu yang perlu kalian tahu, aku sama sekali tidak pernah merasa terpaksa. Karena justru aku beruntung bisa berkenalan dengan orang-orang yang luar biasa seperti kalian.

Aku masih ingat bagaimana awal kita saling sapa, yang kemudian kita berkenalan dengan perasaan malu-malu karena kita adalah teman baru dari berbagai daerah.

Berawal dari malu-malu, diem-dieman, jaim-jaiman yang kemudian menjadi sok akrab, sok kenal, kenal beneran, satu penderitaan, satu tujuan, dan kemudian nggak ada kata jaim, kentut sembarangan, gila-gilaan, saling curhat, hingga tahu hal-hal detail yang ada pada diri satu sama lain.

Namun semenjak wisuda hingga satu tahun ke sekarang, perlahan rasa kebersamaan dan kegilaan kita mulai menurun. Aku khawatir siklus persahabatan kita akan berbalik arah menuju tahap tidak saling mengenal. Aku takut, sungguh aku sangat takut.

Aku tahu kalian sibuk, aku tahu kita sama-sama sibuk.

Tapi tolong, aku mohon sempatkanlah meski hanya sedikit waktu untuk sekedar membalas personal chat, atau sekedar muncul di grup chat untuk meramaikan.

Aku ingat dulu sebelum kita terpisah, kalian pernah bilang untuk selalu menjaga komunikasi, tetap saling ngasih kabar, dan tidak terlalu sibuk masing-masing. Ya, aku ingat kata kata sahabat ku itu, aku ingat!

Tapi nyatanya apa? Sekarang kita pada sibuk masing-masing. Grup chat mulai sepi, ada yang chat hanya untuk kirim info-info lowongan kerja. Personal chat hanya dibalas seperlunya saja, diajak bercanda udah mulai tidak nyambung.

Kamu kenapa? Kamu kemana? Sesibuk itukah kamu hari ini wahai sahabatku?

Dari,

Aku.

Aku sahabatmu yang merindukan kebersamaan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya