In the end, we only regret the chances we didn’t take, relationships we were afraid to have and the decisions we waited too long to make.


Well, aku pun tidak ingin menyesal nantinya karena tidak melakukan hal yang seharusnya aku lakukan.

Ini tentangmu, J.

Actually, i want to say it diretly to you than to write it. Tapi entah kenapa, aku tidak pernah mendapatkan saat yang tepat untuk itu. Lagipula, menurutku ada hal-hal yang akan lebih baik kalau disampaikan melalui tulisan. Ngomong-ngomong, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya ya, hehe.

Kamu mungkin tidak akan terkejut dengan isi tulisan ini, J. Bahkan jika aku berbicara langsung padamu, kamu tidak akan kaget lagi, kamu juga akan menanggapinya dengan baik, menyenangkan dan tak akan menjadikan situasinya canggung, hehe.

Advertisement

Tapi, aku memilih menulisnya, karena aku ingin berbicara sesuatu, di mana lebih baik menulis daripada berbicara langsung denganmu.

Kamu sudah menarik perhatianku dari awal saat kita berkomunikasi. Tidak banyak pria yang memulai percakapan dengan menarik, kamu salah satunya. Dan tentunya, pertemuan pertama kita sangatlah menarik. Make me feel, “i like this person, he is exciting”.

Aku semakin tertarik untuk mengenalmu karena saat kita chatting kamu menunjukkan bahwa kamu laki-laki cerdas yang bisa diajak membicarakan banyak hal dan membuat percakapan menjadi seru. It’s so easy to talk with you! Mungkin kamu pernah merasakan sulitnya mengobrol dengan orang yang nggak nyambung?

Kita bahkan bisa membicarakan hal-hal sensitive tanpa harus menjadikannya obrolan intim dan kamu mempunyai sisi humor. We and the world really need it now, hehe.

Let’s talk about your confident. Apakah kamu ingat bahwa kamu mengatakan bahwa kamu tidak hanya baik, tapi kamu juga yang terbaik? Aku tertawa saat membacanya, tapi aku benar-benar menyukainya. Kepercayaan diri itu kualitas nomor 1 yang membuat laki-laki menarik.

Kamu juga menunjukkan sikap proaktif yang menyenangkan. Kamu bisa mengambil peluang yang aku berikan dan mengajakku kencan dengan cara yang fun, tanpa banyak basa-basi yang membosankan. Aku ingin kau tahu kalau kencan kedua kita berlangsung sangat fun. Aku terkesan saat kau mau membukakan pintu mobil setelah kita makan siang waktu itu. It feels so gentleman.

Lalu, kau harus tahu kalau kau membuatku tersipu saat kau dengan lembut menanyakan kesediaanku untuk ikut pergi jalan-jalan ke Gili bersamamu. Aku senang sekali mendengarnya, tapi sayangnya saat itu aku tidak bisa mengiyakan ajakanmu. Kau harus tahu saat aku menolaknya dalam hati aku merasa sangat menyesal.

I’ll tell you now, saat itu aku ada janji kencan lain, makanya aku tidak bisa ikut, hehe. Tapi, kencan dengan orang itu tidak semenyenangkan kencan denganmu.

Dari percakapan-percakapan kita, aku bisa melihat kamu orang yang visioner, punya impian dan rencana, dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Aku kadang heran sekaligus kagum dengan kerja kerasmu itu. Secara tidak langsung, kamu membangkitan kembali keinginakun untuk “be the best version of my self”.

Kamu punya wawasan yang luas, aku belajar banyak sejak aku mengenalmu. Mengenal dan dekat dengan seseorang yang membuatku berkembang adalah keberuntungan, bukan?

Kamu logis, tenang dan sabar. Aku sangat menyukai kualitasmu yang satu itu. Aku ingat bagaimana kamu bisa menenangkan aku yang sedang emosi dengan cara bicaramu yang tenang penjelasanmu yang logis dan kesabaranmu mendengarkan omelanku.

Apalagi kamu punya suara dan nada bicara yang menyenangkan dan entah kenapa aku begitu menyukainya. Karenanya aku menikmati saat menelepon atau ngobrol denganmu, hehe. Yang tidak kalah penting, kamu membuatku nyaman, dan aku tahu kalau aku aman saat bersamamu. Kamu pria yang menghargai batasan dan juga pria yang paling sopan pada wanita yang pernah aku kenal, haha.

Wah, dari tadi aku memujimu, ya? Kuharap kamu tidak besar kepala membacanya, hehe. Tapi yang aku tulis dari tadi benar-benar pujian, bukan sanjungan. Kurasa kamu tahu bedanya.

Memang, yang membuatku menyukaimu adalah kualitas-kualitas positif yang kamu tunjukkan, tapi bukan berarti tidak ada sisi dirimu yang aku tidak suka. Banyak juga kok sisi dirimu yang pernah membuatku kesal, geregetan bahkan marah.

Tapi, betapa pun kesal atau marahnya aku karena salah satu atau lebih bagian negatif dari sifatmu, yang sangat aku hargai adalah aku selalu bisa membahasnya denganmu sampai kita menemukan solusi yang kita sepakati, tanpa harus takut kalau kamu akan menghindar dari diskusi atau marah dengan apa yang aku utarakan. Hal itulah yang akhirnya benar-benar membuatku menyukaimu.


Aku pernah membaca entah di mana, kalau yang membuat kita menyukai seseorang sebenarnya bukan karena apa yang orang itu miliki, namun bagaimana orang itu membuat kita merasa.


Dan aku setuju dengan hal itu. Memang, kamu memiliki banyak kualitas yang aku sukai, tapi sebenarnya aku menyukaimu adalah karena kamu membuatku merasa penting, dan denganmu aku merasa bisa menghadapi masalah apa pun.

Hey, ini bukan surat cinta, lho. Tujuanku menulis ini bukan untuk mendapatkan balasan surat berisi “aku juga menyukaimu” darimu, tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya atau untuk memintamu menjadi pacarku.

Aku juga tidak bertujuan untuk mengubah status hubungan kita kok. Tidak perlu ada yang berubah dalam hubungan kita jika kamu tidak menginginkannya. Menurutku hubungan kita saat ini cukup menyenangkan, dan aku mensyukurinya.

Tujuanku menulis ini, agar aku merasa lega karena sudah menyatakan hal yang ingin kunyatakan. Agar aku tidak menyesal, karena tidak melakukan yang bisa aku lakukan. Tentu saja yang terpenting adalah agar kamu mengetahui apa yang aku rasakan terhadapmu.

Harapanku, setelah aku menuliskan semua yang aku rasakan, kamu juga mau berbagi tentang apa yang kamu rasakan terhadapku. It will very worth for me. Tapi jangan melalui tulisanlah, karena aku lebih suka mendengar suaramu daripada membaca tulisanmu, hehe. Apalagi kalau ditulis tangan, waduh nggak kebaca nanti! Haha.

See you!