Pergilah, kau pernah bilang kan bahwa cinta tak harus memiliki.


Hai kamu-ku di masa lalu, apa kabar? Kulihat akhir-akhir ini kamu tampak murung. Katanya, kudengar kamu sudah tidak bersama dia yang kamu banggakan ya? Bagaimana rasanya, kamu harus tau itulah yang aku rasakan dulu, ketika kamu memilih dia lalu pergi begitu saja. Bukan marah atau dendam, tapi kamu harus merasakannya agar kamu tidak seenaknya lagi bermain-main dengan perasaan.

Advertisement

Dan kini, aku yang kamu bilang lemah dulu sudah berubah menjadi orang yang tangguh dan lebih kuat dari sebelumnya. Aku sudah menjelma jadi gadis yang mandiri dan tak takut sendiri. Terimakasih, karena kepergianmu dulu banyak membawa perubahan postitif untuk hidupku. Semua luka yang kamu torehkan, kini berbuah senyum keikhlasan. Aku mampu, seperti apa yang kamu katakan ketika terakhir kali kita bertemu.

Kemarin, entah sengaja atau tidak kamu melihat kembali snapgram yang aku bagikan. Antara senang atau risih, aku bingung apa maksud dan tujuanmu seperti itu? Padahal, kamu sudah lama memblok semua media sosialku. Dan sekarang apa yang kamu lakukan? Berusaha mencari tau ku lagi? Cukup, sayang.

Kini, melihatmu kembali tidak lagi membuatku senang. Pergilah jika ingin pergi, aku sudah mengikhlaskanmu, Sayang. Bukan karena aku membencimu, tapi aku hanya takut semuanya kembali seperti dulu. Aku takut terjatuh lagi padamu, karena kamu adalah salah satu kelemahan terbaikku.

Advertisement

Kamu tau? Aku sedang mencoba membuka hati untuk orang baru, orang yang layak untuk kuperjuangkan. Dan kamu, rasanya cukup menjadi masa laluku saja. Jangan kembali, aku tidak ingin kamu dan aku sama-sama membuat luka. Walau katamu, semua bisa dimulai dari awal. Walau katamu, semuanya sudah berbeda. Walau katamu, kali ini kamu sungguh-sungguh. Tapi maaf, semuanya sudah terlambat.

Kamu tau? Butuh waktu dua tahun untuk pulih dari luka yang kamu buat. Setelah berdarah-darah, meringis-ringsi menahan perih, apa kamu mau semudah itu masuk kembali ke kehidupanku? Tidak, Sayang. Maka, sekarang pergilah, tak perlu kembali, kamu hapus saja aku dari hidupmu seperti dulu. Aku sudah menerimanya, dan kini terserah. Ku ikhlaskan kamu pergi, biar aku bisa tenang dengan hidupku yang baru dengan pribadi baru yang lebih tangguh dari sebelumnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya