[CERPEN] Team Up!

[CERPEN] Team Up!

Matahari terbit, alarm berbunyi tepat pukul enam pagi pada handphone milik Sukma. Ia pun terbangun dan bergegas keluar kamar untuk mendapati ruang tamunya berantakan karena ulah adik laki-lakinya. Semalam, sudah Sukma tidak dapat tidur nyenyak karena adiknya mengundang beberapa teman yang sialnya, tidak terlalu pandai dalam mengatur volume suara, untuk mengerjakan tugas dirumah mereka. Ditambah saat pagi ia harus melihat ruang tamu yang seperti kapal pecah itu lagi-lagi karena ulah adiknya, Arsa. Sukma dan adiknya tinggal berdua di Jakarta karena harus melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di ibu kota, seperti yang diinginkan orangtua mereka di Bali. Ia harus menyeimbangkan antara kuliah, kerja dan mengerjakan pekerjaan rumah untuk menjaga rumah itu tetap bersih dan nyaman ditinggali. Sukma bekerja paruh waktu di salah satu kafe ternama dekat kampusmya. Ia adalah seorang remaja yang sangat dewasa.

Advertisement

Ia dikenal sebagai sosok yang energik, pintar, dan tidak gampang menyerah oleh teman-teman kampusnya. Oh ya, hari ini adalah hari Rabu yang artinya Sukma harus menghadiri kelas Kreativitas untuk Media favoritnya. Ia selalu datang tepat waktu pada mata kuliah tersebut. Sesampainya di kelas, ia langsung menyapa Jordy, kawannya yang ia kenal sejak SMA. “Eh, Jo! Yang lain belom dateng?” Sapa Sukma. “Belom nih, Suk. Tunggu aja lah, sebentar lagi paling juga pada dateng. Kan kebiasaan mepet, hahaha.” Balas Jordy yang disambung dengan tawa kecil Sukma sambil mengangguk, tanda menyetujui. Tak lama, Tiya dan Indira datang bersamaan, dan kelas dimulai.

“Oke anak-anak, untuk final project mata kuliah ini kalian akan diminta membentuk kelompok berisikan 4 orang yang harus membuat sebuah usaha yang direalisasikan.” Mendengar itu, Sukma, Jordy, Tiya dan Indira langsung melirik satu sama lain yang mengisyaratkan mereka harus berkelompok dalam project ini. Setelah itu, mereka diminta untuk berkumpul dengan kelompoknya untuk berdiskusi. Makanan, minuman, baju, sudah terlintas dalam pikiran mereka, namun, mereka masih belum mendapatkan ide yang pas dan mempunyai ciri khasnya sendiri. Tiya dikenal sebagai orang yang cukup peduli dengan keadaan lingkungan, ia selalu membawa botol minum kemanapun ia pergi, selalu pakai masker sekali pakai ketika berpergian yang ia dapat dari ojek online, ia sempat mencetuskan untuk membuat sedotan dari bambu, tapi menurut yang lain, itu terlalu sulit untuk di produksi. Saat kelas selesai, kelompok tersebut belum juga mendapat ide yang pas dan mereka memutuskan untuk melanjutkan diskusinya esok hari.

Namun, esok hari bukanlah waktu yang tepat untuk bertemu, karena muncul berita COVID-19 sudah tiba di Indonesia. Warga Indonesia langsung waspada dan banyak yang menghindari berpergian jika bisa. Rencana bertemu tergagalkan, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berdiskusi lewat video call. Mereka mencoba memikirkan ide dari situasi COVID-19. Berdasarkan riset kecil yang dilakukan oleh Sukma, negara lain menggunakan masker untuk melindungi diri ketika berpergian saat COVID-19, masker yang dipakai juga bukan yang sekali pakai. Langsung teringat oleh Sukma, bahwa Tiya pernah bercerita tentang bagaimana dia adalah seorang pecinta lingkungan yang masih menggunakan masker sekali pakai karena masker kain yang ada di pasaran belum sesuai dengan apa yang Tiya ingin. Mulai dari segi bahan yang tidak nyaman dan desain yang tidak sesuai selera. “Guys, gimana kalo kita bikin masker kain aja? Soalnya gue baca di berita kalau di luar negeri, situasi kayak gini mereka pakai masker kain. Terus gue inget si Tiya kan juga belom punya tuh, masker kain yang enak dipakai. Nah Ti, lo yang pilih-pilih bahan dan warnanya deh!” ujar Sukma semangat. “Jo dan Indira, lo coba bikin desainnya, coba bikin 4 desain yang bisa cocok dengan banyak orang.” Lanjutnya.

Advertisement

Sukma, Jordy, Indira, dan Tiya sudah cukup lega karena sudah menemukan ide untuk usahanya. Semua berjalan sesuai dengan rencana. Pencarian bahan dan desain sudah hampir rampung, dan vendor penjahit, printing desain juga sudah mereka dapatkan. Mereka sedang sibuk menyiapkan logo dan filosofinya. Meluangkan waktu, tenaga, dan uang. Semua dilakukan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Semua sibuk merancang brand dan produk agar unik dan mempunyai daya tarik yang kuat sehingga laris. Rencana pemasaran juga sudah mereka pikirkan. Mereka menikmati prosesnya. Mendapatkan kenalan baru, sampai-sampai berteman dekat dengan anak pemilik toko kain. Hal tak terduga namun sangat membantu usaha ini pun terus mereka dapatkan, sampai ada satu saat dimana Indira tidak dapat dihubungi.

Sukma, Tiya, dan Jordy pun sedikit kewalahan karena Indira tidak ada kabar secara tiba-tiba. Ia sudah menghilang selama lima hari. Rencana tidak berjalan sesuai timeline yang sudah mereka buat, tapi lebih dari itu, rasa khawatir menyelimuti mereka bertiga karena Indira adalah teman mereka dan ia tidak pernah menghilang seperti ini sebelumnya. Tercetuslah niat mereka untuk mendatangin rumah Indira. Di hari keenam Indira tidak bisa dihubungi, Sukma, Tiya dan Jordy pun berangkat bersama kerumah Indira. Sesampainya di rumah Indira, Sukma dan Tiya turun untuk mengetuk pagar rumah Indira yang lalu dibukakan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Indira, Bi Indah. Sementara Jordy mencari parkir, Tiya bertanya pada Bi Indah, apakah Indira sedang berada di rumah? Bi Indah lalu mengangguk dan mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu.

Advertisement

Setelah diberitahu oleh Bi Indah bahwa teman-temannya ada di bawah, Indira langsung turun dengan mata bengkak seperti baru selesai nangis. Tiya langsung menyambut Indira dengan tatapan khawatir, “Ndi, lo nggak apa-apa?” tanya Tiya. Sebelum Indira menjawab, Sukma sudah menyambar dengan satu lagi pertanyaan “Lo kenapa bisa nangis begini sih? Lima hari lo ngilang isinya nangis doang? Lo kenapa?” Sukma berkata dengan nada yang lumayan tinggi, sedikit marah karena melihat temannya yang seakan tidak berdaya itu. Indira menjawab, “Gue dipaksa nggak boleh ngerjain ini lagi sama cowok gue, karena gue jadi terlalu sibuk dan menurut dia, gue jadi nggak ada waktu untuk dia. Gue nangis karena gue ngerasa bersalah sama kalian semua. Gue ngerasa bodoh ngikutin kata-kata cowo itu. Karena kalau nggak, dia akan putusin hub-” tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, tangis Indira kembali pecah. Sukma dan Tiya langsung memeluk Indira dan mencoba menenangkannya.

“Udah Ndi, nggak apa-apa. Sekarang kita jadi ngerti kenapa lo begini. Lo yang harusnya putusin cowok lo. Dia nggak seharusnya ngomong gitu ke lo. Ini juga buat nilai kok, dia kenapa sih? Egois dan nggak pengertian sama sekali.” Ucap Tiya. “Jangan dengerin kata dia, ayo kita kerjain bareng-bareng di rumah lo aja. Bentar lagi kita launching, lho.” Kata Sukma sambil tersenyum. “Makasih ya, Ti, Suk. Udah sampe kesini nyamperin gue. Gue diem-diem tetep ngerjain kok, hahaha.” Indira tertawa kecil. “Yey! Indira udah kayak biasa lagi. Ketinggalan dikit nih, liat dramanya” ucap Jordy dari dekat pintu masuk. “Ih, bisa-bisanya ya lo lagi suasana begini tetep aja bercanda.” Omel Sukma. Jordy lalu meminta maaf dan akhirnya mereka kembali bekerja dan bercengkrama sore itu.

“Selamat atas launchingnya, Aesthemask! Yeah!” Rizka, salah satu teman kampus mereka mengucapkan lewat telepon. Penjualan mereka di awal memang tidak terlalu banyak, bahkan tidak mendapatkan revenue. Namun, mereka mengatur ulang strategi pemasarannya dan akhirnya mendapat profit yang cukup besar. Tidak menyangka bahwa tugas kuliah dapat mengantarkan mereka menjadi brand yang cukup terkenal. Team Up!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE