#Puisi Hipwee; Tentang Penerimaan

Jika aku menyerah, akankah aku jauh dari kecewa?

 

Advertisement

Sudah berapa banyak rencanamu yang terpatahkan realita?

Sudah berapa banyak kata “yaudahlah” terucap sebagai tanda kita berserah?

Sudah berapa banyak air disudut mata yang diam-diam jatuh saat bibir terlalu marah untuk berucap?

 

Adalah kita.

Advertisement

Manusia yang pintar menyusunkan rencana, angan, dan ingin.

Namun ada Tuhan yang menentukan bahwa hidup memang seringkali jauh dari rencana.

 

Apakah seharusnya kita menyerah?

Apakah seharusnya kita tidak usah berusaha sebaik mungkin?

Apakah seharusnya kita tidak memaksakan kehendak?

 

Tidak.

 

Atau

 

Ya?

 

Jika kita menyerah sekarang, apakah hidup akan lebih baik?

Jika kita tidak berusaha, apakah kita akan jauh dari kata kecewa?

Jika kita menyerahkan mimpi, apakah kita akan baik-baik saja?

 

Ya?

 

Atau

 

Tidak?

 

Sebenarnya, kita tahu.

Bahwa meskipun kita berusaha seminimal mungkin, kecewa akan selalu datang pada hidup kita.

Bahwa kita tidak selalu baik-baik saja setiap hari.

Bahwa kita hidup memang untuk mengejar mimpi-mimpi kita.

 

Jadi?

 

Bukankah kita lebih baik kecewa namun kita sudah berusaha maksimal

Bukan kita akan lebih baik mengejar mimpi meski terjatuh-jatuh namun kita tidak menyerah pada hidup kita.

Bukankah akan lebih menyesal jika kita tidak mencoba dan menyerah?

 

Selalu ada yang tidak mulus dalam hidup.

Bukankah memang begitu?

Hidup tidak adil, katanya.

Keadilan hanya milik manusia yang menerima.

Ya?

Iya.

Menerima adalah ilmu yang berat setelah ikhlas.

Menerima masalah yang datang pada kita.

Menerima bahwa hidup tidak selalu sesuai ingin.

Menerima diri secara utuh meski terpatah sana sini.

Menerima inginnya Tuhan.

 

Apakah itu artinya kita lebih baik menyerah? Tanyanya.

Sudah ku bilang, menyerah pun pada akhirnya akan ketemu kecewa.

Mengapa harus menyerah?

Jatuh sejatuh-jatuhnya. Bangkit sebangkit-bangkitnya. Berdiri lagi dan lagi.

 

Ilmu hidup yang tidak kita pelajari di bangku sekolah maupun kuliah.

Ilmu yang Tuhan turunkan melalui perjalanan hidup.

Ilmu yang didapatkan dengan masalah yang datang silih berganti.

Ilmu yang berguna sepanjang masa.

 

Sempurna untukmu yang tetap kokoh dan tangguh meski kadang ingin jatuh.

Tepuk tangan untukmu yang tetap berdiri meskipun terhuyung-huyung menyusuri kerikil yang tajamnya melukai.

Semoga berbahagia, selalu!

 

Tulisan ini dibuat saat pikiran, hati, dan juga angan yang sedang bertebaran kemana-mana.

Namun satu yang tetap disini, Aku.

Aku disini tidak kemana-mana.

Untuk menyelesaikan rencana yang ada.

Pikiran, hati, dan angan mengembara untuk menemukan solusi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE