Beberapa minggu lalu, saya ikutan penyerahan hewan qurban yang dilakukan kantor tempat magang saya ke salah satu masjid di deket kantor. Kebetulan masjidnya ada di tengah perkampungan, makanya ada banyak warga dan yang datang dan meramaikan acara penyerahan sore itu.

Ada ibu-ibu yang semangat buat rebutan hadiah yang disediakan sama kantor, ada bapak-bapak yang mau hadiah tapi gengsi buat rebutan sama ibu-ibu, dan tentunya ada anak-anak mereka. Anak-anak ini jelas lebih tertarik bermain dan ngasih makan hewan qurban dibanding rebutan hadiah yang ada.

Advertisement

Melihat mereka, saya jadi inget masa kecil. Dulu saya anaknya se-enerjik mereka. Lari kesana kemari dan nggak jarang jatuh dan lecet. Beberapa bekasnya masih ada sampai sekarang, karena lukanya beneran se-parah itu.

Tapi, seberapapun luka yang saya derita, pasti ada satu pihak yang selalu disalahkan: tanah dan batu yang ada di lokasi sekitar saya jatuh. Nggak pernah tuh saya yang disalahkan karena kebanyakan lari. Ngga pernah pula saya disalahkan karena ngga hati-hati dan akhirnya kesandung batu yang dari awal emang udah chill di posisinya. Dipikir-pikir kasihan juga si batu, harus jadi tersangka atas kecerobohan saya.

Hal tersebut yang kemudian membentuk pola pikir saya: kalau saya ngga pernah salah. Kalau saya jatuh, ya berati batunya yang salah karena menghalangi jalan saya. Kalau sampai nasib saya buruk, itu bukan karena saya yang kurang usaha atau kurang berdoa, tapi emang Tuhan seneng aja ngasih kegagalan sama saya.

Advertisement

Dampak jangka panjangnya ialah saya jadi sering menyalahkan orang lain. Terkadang saya jadi overglorifikasi hal yang sudah saya lakukan, menganggap apa yang saya usahakan itu udah maksimal, dan kalau sampai hal itu gagal, pokoknya orang lain yang salah. Saya yang ketiduran pas harusnya ngumpulin tugas kelompok, tapi teman kelompok saya yang salah karena ngirim kerjaan mereka pas saya udah tidur. Saya yang ngga baca aturan main dengan cermat, tapi orang lain yang saya salahkan karena masang informasi ribet.

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga akhirnya saya jadi orang grumpy, dikit-dikit sambat dan marah. Sebenarnya sambat tuh ngga papa, tapi kalau udah sambat padahal usaha aja belom ya ngga baik juga. Hingga pada akhirnya, suatu hari saya baru aja bangun, terus mikir: gila ya, kebiasaan nyalahin orang ini beneran ngga baik.

Saya jadi nggak menghargai usaha orang lain dan selalu menuntut lebih dari apa yang udah mereka lakukan, sedangkan di saat yang sama, saya ngga optimal dalam mengerjakan tugas saya. Saya juga jadi mudah ngomongin orang lain yang saya anggap ngga maksimal dalam membantu. Lebih parah, saya kemudian lupa buat ngucapin “tolong” dan “terima kasih” ketika minta bantuan sama orang lain, padahal dua hal itu yang senantiasa saya tekankan kalau ada yang minta bantuan ke saya.

Saya jadi orang yang hipokrit.

Sejak saat itu, saya mencoba untuk mengubah kebiasaan itu. Ketika saya gagal, saya berusaha untuk mikir dulu salah atau kekurangan saya dimana. Apakah usaha saya yang kurang, apakah doa saya yang kurang, apakah emang waktunya yang nggak tepat. Kalau udah, saya berusaha mikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada: mungkin ada yang lebih niat daripada saya, mungkin ada yang lebih berpengalaman makanya dia bisa lebih jago dibanding saya, atau mungkin ada yang simply lebih pantas mendapatkannya dibandingkan saya.

Entah kenapa, pundak saya jadi lebih ringan. Saya jadi lebih semangat untuk mengerjakan tugas, lebih bisa menaruh kepercayan kepada orang lain untuk mengerjakan bagiannya, dan yang paling penting, saya bisa lebih menghargai usaha orang lain. Dan ternyata hasilnya mengikuti. IP semester 6 saya naik, bahkan jadi yang paling tinggi sepanjang saya kuliah, setelah sebelumnya terjun bebas karena pikiran ‘toxic’ di atas.

Dengan lebih menerima kesalahan dan kekurangan, saya jadi belajar untuk nggak denial dan bisa menerima kegagalan yang saya alami. Saya juga mendapatkan sudut pandang baru yang menyenangkan, bahwa semua orang punya kekurangan dan urusannya masing-masing, tapi mereka masih menyempatkan waktu untuk mau membantu saya.

Menyenangkan untuk bisa melihat bahwa dunia emang nggak selamanya adil and it will be fine, alih-alih berpikir kalau dunia sedang berusaha menghancurkanmu dan ngga ada yang mendukungmu.

Saya lantas mengganti pola pikir saya seperti kata kalimat bijak: bahwa saya hanya perlu mengusahakan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya. Selain itu, percayalaha, semuanya bakalan baik-baik saja ketika waktunya tiba.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya