Aku sangat ingat saat 7 tahun lalu kita bersama. Kita pertama kali bertegur sapa dalam sebuah komunitas. Memiliki hobi yang sama membuat kita semakin dekat. Panggilan papa mama seakan kita sudah terikat. Terdengar sangat konyol jika diingat kembali. Setiap malam di tempat tidur yang berbeda kita bercerita tentang kelak bagaimana kita bekerja sama membangun keluarga yang harmonis. Malam semakin malam, kecupan manja selalu menjadi akhir dari perbincangan kita melalui telepon yang terasa sangat hangat saat itu. 

Waktu berlalu, kini kita mulai tidak selalu berkomunikasi setiap malam karena kesibukan masing-masing. Namun tidak mengapa, kiasan-kiasan  yang dulu sering kita ucapkan, kini hanya menjadi pemanis saat dulu kita masih bergandeng tangan dan berucap rindu di tiap malamnya. 

Waktu semakin lama berlalu, aku mulai mencari namamu melalui akun sosial media instagram. Aku ikuti dan kamu pun mengikut kembali dengan cepat. Sebuah momentum yang baik, aku bisa mengirim pesan kepadamu, namun aku rasa ada baiknya aku melihat isi akunmu terlebih dahulu. Oh, ternyata kamu kini sudah memiliki buah hati bersama pasanganmu. Benar saja, buah hatimu tidak mirip denganku. Kamu terlihat bahagia menjadi keluarga kecil yang harmonis. Semoga kekal selalu kebahagiaanmu!

“Oh, hai! Apa kabar? Anakmu lucu sekali, berapa bulan? Kok tidak mirip denganku?”
Ingin aku ucapkan kalimat itu, namun kalimat itu terdengar seperti ungkapan rasa rinduku padamu. Kurang tepat rasanya mengirim pesan yang terasa personal ke seseorang yang sudah lama tidak aku jumpai dan sudah sah menjadi istri dari seorang lelaki di luar sana. Jadi aku lebih memilih untuk tidak mengumbar rasa rinduku dan cukup aku pandangi saja fotomu dan buah hatimu, tanpa aku komentari atau aku sukai.  Aku sedikit lega, kita masih bisa mengetahui kondisi masing-masing melalui media sosial.

Saat itu itu perasaanku campur aduk, antara rindu yang menggebu karena sudah lama tidak berbincang mesra denganmu dan ada juga rasa bahagia melihatmu sudah menjadi keluarga kecil yang sempurna. Tanpa dipungkiri, ada sedikit rasa cemburu di lubuk hati ini. Namun, sudahlah, biar rasa cemburu ini kusimpan saja, aku yakin rasa cemburu ini pun akan hilang dengan sendirinya tanpa aku harus mencari bermacam cara untuk dapat menghilangkannya. Terkadang semakin dipaksa untuk dihilangkan, justru akan semakin membesar dan perlahan menempel terus menerus dalam hidup. Kesimpulannya adalah: nikmati saja rasanya, biarkan rasa ini berkurang dengan sendirinya, tanpa harus dipaksa.

Jatuh cinta padamu saat itu merupakan momen yang akan aku ingat selalu. Bukan berarti aku tidak bisa melupakanmu, tapi menciptakan kenangan romansa bersamamu akan terus  melekat di kehidupanku hingga kelak nanti. Aku tidak meminta untuk menghapuskan kenangan ini, biarkan saja tetap ada, agar suatu hari saat kita kembali bertemu bersama keluarga kita masing-masing, akan ada cerita yang masih bisa kita bagikan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya