Hai mas, aku belum pernah mengenalmu, belum tau siapa namamu, apalagi di mana rumahmu. Yang aku tau hanya kamu salah satu personil pengamen angklung jogja “CH” yang ada di Malioboro. Dan yang aku tau saat melihatmu, hanya semangat yang ada di hidupku saat itu. Mungkin ini terkesan berlebihan. Tapi jika kalian tau, rasa ini sungguh luar biasa.

Mas, aku hanyalah salah seorang gadis dari Jawa Tengah yang merantau ke Jogja untuk mencari ilmu. Seperti perantauan yang lainnya, terkadang jalan-jalan di Malioboro adalah hal yang menyenangkan, apalagi ketika aku tersadar, bahwa di sana ada kamu dan senyummu yang menenangkan.

Aku adalah gadis 20 tahun yang hanya berani melihatmu dari balik pundak-pundak penonton. Suatu saat, aku akan menanyakan langsung siapa namamu, di mana rumahmu, dan aku akan mengungkapkan kekagumanku padamu. Suatu saat aku akan menemuimu, bukan hanya melihatmu dari belakang penonton lain sambil mencuri-curi pandangan untuk bisa melihatmu mas. Aku akan menceritakan ini kepadamu, berterimakasih kepadamu, berkat kamu, bahagia sederhana bagiku.

Mas, malam itu sebelum aku berangkat KKN selama sebulan, aku ke Malioboro bersama sahabatku hanya untuk melihatmu seperti biasanya. Satu jam hanya ku habiskan untuk melihatmu saja, dengan alibi melihatmu bermain angklung, padahal aku hanya ingin melihatmu saja. Ya, itu saja membuatku bahagia sekali mas. Sesekali kamu tersadar bahwa kamu ku perhatikan. Lama kelamaan kamu benar-benar sadar aku memperhatikanmu, tiap kamu melihatku, aku pun hanya tersipu malu dan pura-pura mengalihkan pandangan. Tapi, ya kamu cowok, pasti peka lah kalo diperhatikan.

Sebulan KKN berlalu, setelah kembali ke Jogja, aku ingin sekali melepas rindu dengan menemuimu di Malioboro. Aku mencarimu di tempat biasa. Tapi di sana tak kutemui dirimu mas, hanya angklung lain yang aku temui. Ku cari kamu dan tim angklungmu di sepanjang jalan Malioboro, tapi tak juga kutemui. Aku pun sangat kecewa, karena malam itu, terakhir aku merasakan kebebasan, karena di malam selanjutnya aku memutuskan untuk tinggal di pesantren dan otomatis tidak bisa keluar malam untuk menemuimu seperti biasa. Aku dan sahabatku pulang dengan sangat kecewa dan hanya berharap, suatu hari Allah menakdirkan aku untuk bisa bertemu denganmu lagi.

Advertisement

Hari ini, adalah hari yang menyebalkan bagiku mas, kuliah, tugas, skripsi membuatku jenuh. Aku berkeliling Jogja melepas penatku. Aku mencoba lewat Malioboro untuk melepas penat melihat keramaian di sana, dan tak ku sangka, aku melihatmu lagi. Ku lihat jam tanganku menunjukan pukul 17.15 yang artinya 15 menit lagi aku harus sampai di pondok. Ku parkir motorku, lalu aku lari menuju kamu dan teman angklungmu yang lain, melalui pundak penonton lain aku melihatmu seperti biasa, kau tersadar, bahwa ada aku di sana yang memperhatikanmu dan senyuman manis beberapa kali kau berikan padaku. Masih ingatkah dengan senyumku yang sama dengan malam itu? Wajahmu, senyummu yang menyenangkan masih sama seperti 2 bulan yang lalu saat terakhir kita bertemu.

10 menit berlalu aku pun bergegas pergi sambil berkata dalam hati, aku akan menemuimu lagi mas, mencari semangat dan kebahagiaan yang begitu sederhana ini. Terimakasih mas, untuk semangat yang kamu berikan lewat rasa. Tanpa aku tau siapa kamu dan semuanya. Terima kasih.