Masyarakat Cina kuno mempercayai adanya kehidupan setelah kematian yang sangat mirip dengan di dunia. Agar dapat menikmati kehidupan setelah kematian orang-orang Tionghoa kaya zaman dulu membawa harta bendanya untuk ikut dikuburkan ketika mereka mati. Benda-benda yang biasanya ikut dikubur bersama sang mayat berupa benda kesayangan selama hidupnya yang dapat berupa porselin, benda perunggu yang indah untuk tempat makanan dan minuman, manekin pelayan, lumbung, dan bahkan hewan ternak.

Di Indonesia, terdapat tradisi Tionghoa untuk menghormati para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia, mendoakan serta memberikan sesajen bagi arwah leluhur. Namanya festival Qing Ming atau yang lebih dikenal dengan istilah Ceng Beng dalam bahasa Hokkian. Ceng Beng atau Qing Ming sendiri memiliki makna bersih dan terang dan jatuh pada tiap tanggal 4 April. Warga Tionghoa percaya Ceng Beng merupakan hari baik karena cuaca cerah dan bagus serta arwah turun ke bumi.

Advertisement

Pada saat itu warga Tionghoa beramai-ramai pergi ke pemakaman orang tua, keluarga, serta leluhur untuk melakukan upacara penghormatan. Upacara penghormatan dilakukan melalui berbagai jenis. Misalnya saja dengan membersihkan kuburan, menebarkan sampai membakar kertas yang sering dikenal “gincua” atau kertas perak. Saat tiba di kuburan, warga Tionghoa mempersiapkan sejumlah sesajen, seperti hio dan lilin merah untuk dibakar, kemudian membakar kertas yang digambari sebagai uang, menyiapkan jajanan, buah-buahan, kue, permen, kacang, sayuran, serta air mineral. Mereka percaya saat membakar hio dan memberikan sesajen, arwah akan datang dan menikmati sesajen yang dihidangkan.

Praktek pemakaman masyarakat Tionghoa, dalam hal ini upacara ritual dan jenis-jenis barang bawaan yang akan ikut dikubur akan dilihat terlebih dahulu ‘Hong-Shui’ nya. ‘Hong’ yang bermakna gunung dan ‘Shui’ bermakna air, sehingga prosesi pemakaman masyarakat Tionghoa harus memperhitungkan letak dan arah yang strategis berdasarkan arah gunung dan sumber mata air (sungai/laut). Orang Tionghoa percaya bahwa makam yang bagus itu adalah yang bersandar ke arah gunung dan menghadap ke arah mata air.

Orang Cina kuno juga memercayai bahwa jiwa orang yang telah mati memiliki dua komponen utama yaitu Yin dan Yang. Yin, atau “po” dikaitkan dengan kuburan, sedangkan Yang, atau “hun” dikaitkan dengan hubungan keluarga dan leluhur. Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa membangun kuburan yang megah untuk keluarganya sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau leluhur yang telah berjasa, sehingga jiwa para  leluhur yang sudah mati tidak merasakan penderitaan di alam seberang.

Advertisement

Nah, ternyata tradisi-tradisi kuno masih dilaksanakan, ya di Indonesia ini. Kita sebagai kaum milenial harus bisa menghargai dan melestarikannya, ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya