Tradisi Serta Kisah Angker dari Salah Satu Pabrik di Pekalongan, Berani Baca?

Kisah angker dari Pekalongan

Pabrik gula Sragi adalah pabrik gula termuda yang terletak di Desa Sragi Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan berdiri sejak tahun 1837-1838 hingga sekarang namun pengoperasian pabrik di masa sekarang tak selancar dulu dikarenakan adanya pandemi.

Advertisement

Biasanya pabrik gula sendiri beroperasi menggiling tebu dari bulan Maret hingga April atau biasa disebut (Gilingan) dan setelah adanya gilingan itu semua warga menggelar acara tasyakuran seperti pasar malam selama satu bulan lamanya atau biasa disebut Pasar Tiban.



Yang konon katanya pasar tiban itu sendiri mengandung mitos, mitos tersebut mengatakan "jika tradisi ini tidak dijalankan maka akan terjadi suatu hal yang menimpa Desa Sragi" lain maksud mungkin Pasar Tiban itu sendiri bisa menjadi sesembahan untuk para roh roh pengantin yang di masa itu dijadikan korban oleh tentara Belanda.

Biasanya disebut (Penganten glepung) sejarah penganten glepung sendiri tidak lepas dari sejarah pabrik gula sragi berdiri karena pembangunan pabrik gula di zaman dahulu tidak bisa berjalan secara baik dikarenakan kurangnya bahan bahan pembangunan. 

Kurangnya bahan bahan pembangunan membuat para tentara belanda kehabisan ide dan melakukan pesta minum bersama dan mengundang tari ronggeng beserta gamelan.

Advertisement

Penari ronggeng tersebut menari di sekitar pondasi yang belum diselesaikan pengerjaannya dan dengan sengaja tentara belanda mendorong paksa ke belakang agar si penari jatuh kedalam pondasi itu, hingga akhirnya si penari terjatuh ke belakang dan tergiling secara bersamaan bersama adonan pondasi itu sendiri dan arwah dari penari ronggeng itu sendiri bergentayang mengentayangi orang orang yang ada di sekitar situ.



Dan arwah tersebut meminta orang yang dikorbankan kepada orang orang disekitar, yang dikorbankan tersebut adalah sepasang pengantin baru yang mana harus digiling seperti dirinya. Namun tradisi itu tidak lanjut dikarenakan ketakutan warga sekitar.

Alhasil sesembahan yang dikirim ke arwah tersebut adalah pengantin glepung yang mana pembuatan nya seperti namanya yaitu terbuat dari glepung atau tepung yang dibentuk pengantin yang dibuat oleh sesepuh desa sragi sendiri dan ketika sesepuh itu meninggal pembuatan manten glepung itu diteruskan oleh anak cucunya tidak boleh orang lain.



Dan sebelum pengantin diarak mengelilingi Desa Sragi sepasang pengantin harus melaksanakan akad nikah pada pernikahannya pada umumnya, akad nikah dilakukan di alat timbang tebu kemudian dibawa ke gedung pertemuan sragi.

Setelah itu sepasang pengantin diarak oleh masyarakat mengelilingi Desa Sragi dengan menggunakan becak mini pengantin tersebut juga memiliki nama seperti pengantin pada umumnya, finish dari arak-arakan tersebut adalah pabrik gulanya kemudian dimasukan kedalam pondasi penggilingan tebu diikuti dengan sesembahan yang lainnya.



Dengan adanya arak-arakan pengantin glepung ini bertanda bahwa pabrik siap di produksi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE