Aku melihat di kalender itu dan jam dinding yang terus berdetak seperti jantungku yang tak henti berdetak. Kupandang langit malam ini hitam pekat nan cerah pun bintang gemintang yang berpendar hiasi langit malam ini. Aku menghitung waktu mundur 1,2,3 memori dan kenangan itu berjajar dalam sebuah frame besar.

Kenangan yang mengingatkanku pada sosok tua nan ringkih di pelosok desa yang damai. Aku menghitung ingatan itu hingga aku lelah dan angin dingin membuat kedua mataku terus berair. Satu persatu kenangan itu kembali hadir. Tuhan, terima kasih untuk kenangan indah yang telah kau berikan dan untuk setiap waktu yang telah lalu.

Advertisement

Hari ini ada banyak hal menarik dan luar biasa terjadi.
Bu, bolekah aku sedikit bercerita meskipun kutahu kau tak mungkin membaca ceritaku.
Bu, hari ini aku menjadi saksi lahirnya kehidupan baru ke dunia. Tubuh mungil dan lemah dalam rahim itu telah bermetamorfosis menjadi bayi mungil yang mengemaskan.

Bu, aku mengingatmu saat aku menyelamatkan mereka.
Bu, maafkan aku yang terlambat menyadari betapa kau pertaruhkan nyawamu demi melahirkanku ke dunia ini. Mereka begitu kesakitan erangan dan teriakan mereka mengingatkanku padamu, bagaimana kau berjuang hingga aku dapat terlahir selamat ke dunia.

Bu, aku ingin menangis di pangkuanmu mengucap berjuta kata maaf yang entah akankah bisa menebus semua kesalahanku.
Bu, hari ini aku melihat bagaimana sosokmu bertaruh hidup dan mati hanya untuk anak-anakmu. Aku melihat mereka yang berjuang di meja operasi menahan dinginnya dan tajamnya pisau bedah mengiris kulit dan rahim mereka demi sebuah kehidupan baru.

Advertisement

Bu, aku memang bukan putrimu yang sempurna atau pun putrimu yang penurut.
Bu, aku seorang pembangkang, aku benci disaat kau banyak bicara dan menasehatiku. Aku benci saat kau ikut campur urusanku. Namun, itu dulu hari ini aku terlahir kembali menjadi putrimu yang lebih dewasa.

Bu, aku ingin bercerita sebentar denganmu. Pekerjaanku memang memaksaku untuk meninggalkanmu. Maafkan aku, bu. Aku pergi untuk merawat orang lain hingga aku lupa denganmu. Hingga bahkan aku lupa tidak bertanya bagaimana kabarmu, apa ibu baik-baik saja ataukah ada yang ingin ibu bicarakan padaku.

Bu, terkadang kau menjadi orang yang kejam dan pembohong ulung. Kau selalu mengatakan jika kau baik-baik saja, kau selalu mengatakan sangat sehat.
Bu, aku pergi jauh darimu merawat orang lain sementara aku bahkan tidak tahu jika kau pernah menjadi bagian dari mereka yang kesakitan.

Bu, terima kasih telah berjuang melahirkanku. Terimakasih telah membiarkan perut kurusmu untukku tinggali selama 9 bulan.
Bu, terima kasih telah menjadikanku putrimu. Kau memang bukanlah perempuan yang pandai, kau bukan sarjana atau pun seorang yang berkedudukan. Tetapi, karenamu aku dapat tumbuh dewasa. Dengan setiap doa yang kau panjatkan pada sang kuasa, aku dapat menjalani hari-hariku yang berat.

Bu, temani aku hingga aku bisa menjadi sepertimu. Menjadi malaikat pelindung bagi tubuh-tubuh mungil itu.
Bu, ajari aku untuk menjadi kuat sepertimu. Ajari aku ketegaranmu, ajari aku tentang kesabaranmu yang seluas lautan.

Malam semakin larut di sini, angin dingin pun terus berhembus hingga kedua mataku mulai memanas. Maafkan aku, bu.
Aku belum bisa menjadi putri seperti yang kau harapkan. Maafkan aku yang pergi jauh dari sisimu saat ini.
Aku mencoba menjadi seperti yang kau impikan penolong mereka yang kesakitan.

Bu, pekerjaanku tidaklah mudah. Aku banyak menangis saat bekerja. Aku takut jika aku di posisi mereka, saat menghadapi kehilangan sosok orang yang dicintai. Mereka selalu mengingatkanku padamu.

Tuhan, lewat langit malam ini kutitipkan sejengkal doaku untuknya.
Tuhan, anugerahilah ia kebahagiaan. Sinari ia dengan cinta-Mu.
Tuhan, sampaikan rinduku padanya dipelosok desa yang sunyi itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya