Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Untukmu yang tergoda

Advertisement

Kau lelaki yang pernah sangat aku cintai, yang memberikanku harapan yang begitu indah tentang masa depan kita nantinya, apa kabarmu? Apakah kau masih bahagia dengannya? Ya, tentu saja seharusnya kau masih bahagia dengannya. Ini juga masih baru beberapa bulan kan, Kau melepasku yang telah menemanimu bertahun-tahun demi dia yang kau kenal dalam hitungan hari kan? 🙂

Oh ya, tahukah kau apa yang tiba-tiba ada di pikiranku saat tahu ternyata kau tergoda olehnya bahkan sebelum kita akhirnya memutuskan berpisah? Iya aku sudah tahu cerita sebenarnya dari temanmu, ah sampai akhir pun kau ternyata masih tega membohongiku 🙂.


Kamu, lelaki yang berwajah polos yang pernah sangat aku percayai tidak akan pernah mengkhianatiku, yang menghubungiku sampai puluhan kali jika aku lupa membalas sms/chat mu, yang menghubungi orang-orang terdekatku jika handphoneku sengaja ku matikan, yang sangat aku banggakan rasa setiamu di depan teman-temanku yang selalu menggodaku bahwa hubungan jarak jauh tidak mungkin berhasil dan yang meyakinkan Ayahku bahwa semua baik-baik saja dan agar segera melamarku. Ternyata akhirnya tergoda dan mengkhianatiku juga.


Advertisement

Bahkan teman-temanku yang dulu menggodaku pun tidak percaya bahwa ini akhirnya yang terjadi dengan kita. Bahkan saat bertemu denganku pun, kau terang-terangan memujinya. Memuji dia yang lebih dewasa, lebih santai menghadapi hidup dan tidak terlalu serius. Katamu, dia tidak sepertiku yang sering mengirimkan pesan padamu dan terlalu serius berkali-kali menanyakan tentang kelanjutan hubungan kita. That's hurt, fyi!

Akan ku katakan ini, dulu sejak pertama kali kita kenal, sebelum kau tiba-tiba masuk di kehidupan percintaanku, aku adalah sosok yang lebih ceria, lebih menghargai hidup dan selalu tersenyum juga bukan orang yang terlalu serius -seperti katamu-, kau yang mengubahku menjadi seperti ini. Kau yang melarangku untuk terlalu dekat dengan teman-temanku sebelumnya, yang terlalu pencemburu, yang terlalu introvert, yang mendatangiku dengan segala masalah di kehidupanmu… Iya, itu kamu. Dan iya, aku yang bodoh untuk berpikir tetap bersamamu dan mencoba menyeimbangkanmu. Terimakasih, akhirnya kau yang sekarang memilih dia dibanding aku menyadarkanku bahwa Tuhan masih menyayangiku, Dia menunjukan "dirimu" yang sebenarnya sebelum terlambat. :)

Untukmu yang menggoda

Hai, wanita yang belum pernah aku temui yang menjadi tempat berlarinya lelaki yang pernah aku cintai. Iya, hanya pernah, karena sekarang aku tak akan mau lagi menyisakan ruang di hatiku untuk lelaki yang sampai akhir pun tidak bisa kupercayai kata-katanya 🙂.

Apakah kau senang telah memilikinya? Aku yakin kau senang, bahkan kau sudah memasukkannya dalam akun sosial mediamu saat foto-fotoku di akun sosial medianya pun belum sempurna dihapus. Aku yang menyuruhnya menghapus semua foto-fotoku di akun sosial medianya, aku menghargaimu, wanita yang telah membuatnya berpaling dariku. Ah, harusnya kau memintanya menghapusnya, ya walaupun kau santai atau tidak peduli dengan masa lalunya, tetapi akan sangat tidak nyaman dilihat kan kalau teman-temannya masih ingin mengetahui hubunganku bersamanya dengan stalking akun sosial medianya.

By the way, aku ingin sekali bertanya, apa kamu sengaja menggoda dia? Atau apakah kau tahu bahwa sebelumnya dia masih denganku saat pertama kali kau mengenalnya? Walaupun kau tidak sengaja dan kau tahu pun, aku tidak akan benar-benar menyalahkanmu, aku serius. Yang salah bukan kau, yang salah bukan dia juga, tidak ada yang salah. Sebenarnya hanya aku yang lupa bahwa Tuhan Maha Membolakbalikkan Hati.

Kau yang dengan tingkahmu, sengaja atau tidak sengaja, membuatnya terpesona dan dia mungkin yang sedang jenuh denganku tiba-tiba bermain hati. Kau saat ini pemenang hatinya. Tetapi mari sedikit kesampingkan kehendak Tuhan, pernahkah kau berpikir bahwa karma itu ada, bahwa dia akan melakukan hal yang sama denganmu seperti apa yang dia lakukan padaku sekarang?

Jangan tegang dulu dengan kata-kataku, maaf. I mean, you know this quote "Haters gonna be hate. Betrayers gonna be betray" right? Ahh.. aku tidak mau mengatakan apa-apa lagi, cukup sampai di sini saja. Aku sedikit merasa bersalah padamu padahal aku belum mengenalmu secara personal, tetapi terima kasih karena telah menjadi bagian dari sesuatu hal yang membuatku sadar bahwa lelaki yang bersamaku dulu yang kini bersamamu adalah lelaki yang kurang baik untuk hidupku. :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya