Hei, selamat malam. Sudah tidurkah kamu? Iya, aku hanya rindu. Rindu siapa? Siapa lagi kalau bukan kamu. Bagaimana kabarmu? Bahagiakah tanpa aku? Pasti bahagia sekali, ku lihat sesekali di postingan facebookmu. Aku hanya masih jerih mengenang kebersamaan kita dulu.

Maukah kau kuberitahu sedikit isi hatiku? Akan aku bocorkan sedikit saja. Tentang aku yang masih sesak mengingatmu, tentang aku yang masih mengenang percakapan-percakapan singkat kita, tentang aku yang sering tak bisa tidur hanya karena mengingatmu, tentang belaian dan ucapan-ucapan selamat tidur yang selalu kau sampaikan.

Advertisement

Aduuuh maaf, aku jadi terlalu jauh bercerita. Habis mau bagaimana lagi? Kan aku rindu. Aku rindu kamu yang dulu yang setiap pagi selalu menyapa hanya untuk memastikan aku baik-baik saja, rindu kamu yang selalu bawel kalau aku begini atau begitu seolah sama sekali tak ingin kehilanganku, rindu kamu yang selalu menyempatkan sedikit waktu di sela sibukmu untuk sejenak bertukar kabar, menelepon atau hanya bermalam minggu.

Ah mungkin saat itu aku merasa sebagai wanita paling bahagia di muka bumi. Sampai suatu ketika aku mulai menyadari bahwa hadirku mungkin hanya sebatas pengusir sepimu. Aku mulai hampa saat kau bilang sibukmu sudah terlalu, hingga tak bisa seperhatian dulu. Aku mencoba mengerti, bukankah tugas pasangan yang baik adalah mendukung pasangannya untuk melakukan yang terbaik?

Hei bahkan aku masih selalu mendukungmu di tengah sibukmu, menyemangati saat kau mengadu lelah di telepon malam itu. Menyemangatimu, tenanglah sayang besok semua akan berubah, menguatkanmu, menenangkanmu.

Advertisement

Tapi aku keliru, entah kamu hanya menyibukkan diri atau memang sudah ada wanita lain yang membuatmu lebih sibuk. Hingga suatu ketika rindu, sibuk dan jarak memutuskan untuk berseteru hingga kita beradu argumen tak tentu. Kau bilang semua terserah padaku, seolah tak jadi masalah kehilanganku.

Aku hanya bisa terdiam, mungkinkah kita menyerah sedini ini? “tidak” batinku berontak. Aku masih ingin menua bersamamu. Keinginan itu masih ada, cinta itu masih membara meski hatiku kau buat ngilu, rasaku kau buat linu. Aku masih berusaha.

Begitulah aku, namun tidak denganmu. Entah bagaimana kau memilih bersama sosok baru saat masih bersamaku. Kau bilang itu sama sekali tidak benar, kau bilang aku hanya cemburu. Tak wajarkah aku yang kini menjadi siapa-siapamu ini cemburu? Dan kamu tetap diam, tak ada ketenangan yang kau janjikan, tak ada kehangatan dari setiap kata yang kau ucapkan, duhai kamu mungkin saat itu kita memang sudah harus berhenti menyakiti satu sama lain. Akhirnya kata pisah itu aku ucapkan.

Tak pernah ada penyesalan di sana, sungguh tak ada aku justru merasa terbebas dari suatu beban berat yang memasung jiwa ragaku. Namun kini hatiku kembali sesak, kenanganmu seakan melesak dan mengoyak pertahananku. Dan aku rindu kamu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya