Dear kamu yang baru kukenal namanya,

Kamu mungkin tidak tahu siapa aku, begitu juga aku. Sampai beberapa minggu lalu aku akhirnya dengar tentang kamu dari dirinya.

Advertisement

In short, kami sudah kenal dari awal 2017. Dan kami memutuskan untuk berpacaran di Oktober 2017. Belum lama memang, tapi sudah cukup dekat jika tidak bisa dibilang sangat dekat. We spent all of our days almost together. Every day, or every weekend. Aku juga sudah beberapa kali ke rumah keluarganya di kota C, bertemu orangtuanya dan keluarga besarnya, begitu juga sebaliknya.

Sampai beberapa bulan lalu aku mendengar kabar, setelah beberapa kali bertemu dengan keluarganya, yang aku pikir baik-baik saja, ternyata mamanya tidak setuju dengan hubungan kami. Dengan beberapa alasan yang terdengar dibuat-buat dan tidak masuk akal. Tapi, kami berdua masih teguh memutuskan untuk mencoba berjuang sama-sama untuk meyakinkan mamanya. Setidaknya itu yang aku percaya kami sedang lakukan. Sampai kurang lebih dua atau tiga minggu lalu aku dengar ternyata kalian dijodohkan.

Jujur, aku tidak kaget dan sudah bisa memprediksi sebelumnya, aku hanya kecewa ternyata dia menerima perjodohan kalian tanpa second thought, tanpa mempertimbangkan perasaan aku sama sekali, padahal aku sangat yakin kami masih di tahap berjuang. Akhirnya, aku yang merasa sangat sakit hati mencoba untuk menerima semuanya, dengan berat hati. Dan akhirnya kita memutuskan untuk putus.

Advertisement

Walaupun pada kenyataannya setelah itu kami masih sering bertemu dan jalan bareng. Karena rindu masih terasa berat untuk aku kala itu. Aku selalu berusaha untuk menolak percaya pada logika. Jujur, aku masih berharap dia akan masih memperjuangkan aku. Aku tahu ini satu harapan yang sia-sia. Sampai malam tadi kami kembali bertemu dan dia lagi-lagi membuat aku terkejut dengan berita pernikahan kalian. Jujur ini sangat sulit diterima oleh hatiku. Too sudden and too shocking.

Aku merasa sangat diperlakukan tidak adil, we've spent hours, days, months together, dengan penuh harap dan janji-janji. Lalu ketika tiba masanya berjuang, dia seolah pergi begitu saja, playing victim, blaming his mom and his family.

Aku tidak minta dia untuk melawan keinginan orang tuanya, aku juga tidak minta dia untuk menikahi aku kemudian, aku cuma mau dia tau bahwa apa yang dia lakukan ke aku itu jahat.

Dear kamu yang tidak tahu adanya aku,

Aku kirim pesan ini ke kamu bukan karena aku mau kamu gagal menikah dengannya. Bukan itu. Aku tahu sebenernya dia lelaki baik, begitu juga kamu dengan background keluarga yang juga baik. Tapi aku cuma mau kamu tahu di balik pernikahan kamu ini, ada aku yang harus melawan rasa penolakan yang aku tidak tahu sebabnya apa. Menahan rasa terhina karena dianggap tak setara dengan lelaki yang kucinta.

Meyakinkan diri bahwa aku juga berharga, dan penolakan tersebut adalah ujian Tuhan semata.

Dear kamu yang belum sempat ku kenal,

Akan sangat tidak adil dimana aku tahu kamu ada, sementara kamu tidak tahu aku ada di sini ketika kamu datang. Dia sudah menjadi masa lalu yang ingin aku lupakan, terlalu sakit hati aku menghadapi sikap dia dan keluarganya. Everyone is imperfect, thus we need someone to understand us and supporting us in our lowest point.

Dan dia tidak punya itu untukku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya